Pentingnya Pendidikan Moral di Pondok Pesantren
Lembaga pendidikan yang membentuk moral santri secara efisien adalah Pondok Pesantren. Kesimpulan ini setidaknya tergambar melalui persepsi masyarakat ketika mendengar kata “santri”. Dan pada akhirnya para orang tua memilih pondok pesantren sebagai pilihan yang tepat sebagai tempat pembelajaran dan pendidikan bagi anak-anak mereka.
Usia Tepat untuk Pendidikan Moral
Secara umum, santri mulai mengenyam pendidikan di pesantren pada usia di bawah 20 tahun. Pada usia ini adalah masa yang tepat sebagai pembetukan identitas gender seseorang. Dengan mempertimbangkan kondisi ini, banyak sekali ragam literatur pendidikan yang membahas tentang pedoman yang harus dimiliki oleh para pemula pencari ilmu. Beberapa karya seperti Washoya Al-Abai’i Li Al-Abna’i karya Syekh Muhammad Syakir dan At-Tahliyah Wa At-Targhib Fi At-Tarbiyati Wa At-Tadzhib karya Sayyid Afandi Muhammad menjadi rujukan penting.
Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, seberapa besar antusiasme para santri untuk menerapkan materi-materi yang ada di dalam kitab-kitab tersebut?
Antusiasme Santri Terhadap Kitab Moral
Beberapa pakar muslim menyimpulkan substansi agama dengan rumusan singkat berupa “Al-Din Al-Mu’amalah” (agama adalah interaksi). Interaksi ini menyangkut hubungan antara makhluk dengan Tuhan dan sesamanya, baik manusia, binatang, benda tak bernyawa, bahkan diri pribadi. Semuanya telah dideskripsikan secara kompleks oleh para ulama dalam kitab-kitab yang relevan untuk konteks saat ini.
Namun demikian, minimnya perhatian para santri terhadap kitab-kitab yang membahas aturan moralitas, serta kecilnya rasa antusiasme mereka untuk menerapkan materi-materi yang ada di dalamnya, mengakibatkan degenerasi (kemerosotan generasi) santri dari sisi moralitasnya.
Kesenjangan Antara Teks dan Perilaku
Jika diperhatikan secara intensif, kita akan menemukan satu fakta di mana terjadi kesenjangan antara teks kitab moral dengan konteks perilaku santri di era sekarang.
Etika Beribadah


Mereka sangat memprioritaskan kefarduan (prosedur primer), tetapi melewatkan kesunahan (prosedur sekunder) begitu saja. Banyak santri menunaikan ibadah sholat secara tergesa-gesa, bergurau, dan setelah salam pun tidak ada dzikir maupun do’a yang dipanjatkan. Padahal dalam kitab Matan Bidayatul Hidayah, Al-Imam Abu Hamid Al-Ghozali menerangkan bahwa tiangnya sholat adalah kekhusyukan.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
ان العبد ليصلى الصلاة فلا يكتب له منها سدسها ولاعشرها وانما يكتب العبد من صلاته بقدر ما عقل منها
“Sesungguhnya seorang hamba diharuskan melakukan sholat. Maka tidaklah dia memperoleh catatan sholat tersebut sebanyak seperenamnya dan tidak pula sepersepuluhnya. Akan tetapi, sholatnya akan dicatat sebanyak apa yang dia angan-angan.”
Etika dalam Pergaulan
Rasa solidaritas memang menjadi bagian penting dalam sebuah pertemanan. Namun implikasinya, etika seseorang di hadapan temannya akan semakin memudar seiring bertambahnya dekatnya hubungan pertemanan di antara mereka.
Hal ini pula yang terjadi di pesantren. Cacian, bulian, dan hinaan, seakan-akan potret umum perilaku para santri. Bahkan tak segan-segan mereka menjatuhkan harga diri temannya dengan berbagai tindakan tak senonoh. Sekilas, teman yang diobjektifikasi memang membalas tindakan itu dengan kesan humor, tapi siapa tahu itu hanya ekspresi yang dia tampilkan untuk sekedar menampilkan kelemahan hatinya, atau mungkin untuk alasan solidaritas.
Padahal semakin dekat hubungan pertemanan dengan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga perasaan orang tersebut.
Pentingnya Peran Teman
Seorang teman seharusnya mampu menjalankan perannya dengan baik. Terlebih bagi para santri yang notabene adalah pencari ilmu agama. Egoisme untuk menjadi ulama tunggal harus benar-benar ditanggalkan. Artinya, santri memiliki tanggung jawab besar untuk menuntun temannya agar senantiasa tekun belajar, serta memberinya motivasi untuk menghindari larangan-larangan yang berpotensi merugikan khazanah keilmuannya.
Menelan asupan ilmu memang tak begitu sulit. Namun ilmu yang berkualitas, tentu prosesnya tidaklah cukup hanya dengan ditelan begitu saja. Ada banyak hal yang harus diperhatikan agar ilmu menjadi berkualitas, di antaranya adalah etika di hadapan guru. Dan etika paling pokok di hadapan guru adalah menghormatinya.
Dikatakan bahwa menghormati lebih baik daripada mematuhi. Syaikh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’alim Turuq At-Ta’allum mengatakan, “Seseorang tidak akan dihukumi kufur sebab maksiat. Akan tetapi dia akan dihukumi kufur sebab meninggalkan hormat.” Hormat yang dimaksud di sini adalah hormat kepada Allah. Tentu meninggalkan hormat kepada guru tidaklah sampai menyebabkan kufur. Hanya saja dengan perkataannya, beliau menyampaikan arti penting sebuah penghormatan.
Bahkan Sayyidina Ali, yang dikenal kealimannya, dan disebut-sebut oleh Rasulullah sebagai pintu gudangnya ilmu, berkata:
انا عبد من علمنى حرفا واحدا ان شاء باع ان شاء اعتق ان شاء استرق
“Saya adalah hamba orang yang telah mengajariku satu huruf, bila dia menghendaki, dia bisa memerdekakanku, bila dia bisa menjadikanku sebagai budaknya,”
Barokah Ilmu dan Kehidupan
Ada satu pertanyaan besar mengenai barokah yang jawabannya mungkin belum diketahui banyak orang. Bedakah antara barokah ilmu dengan barokah hidup? Keberkahan ilmu dapat ditandai dengan kesuksesan kita dalam mengajarkan ilmu yang telah kita peroleh, dan cara mendapatkannya adalah dengan mengabdikan diri kepada guru, serta mematuhi segala larangannya. Sedangkan keberkahan hidup dapat ditandai dengan kesuksesan kita dalam berkarir, serta tingkat ekonomi berada di kelas atas. Dan untuk mendapatkannya adalah dengan meraih ridho orang tua.
Baca Juga: Aurat Wanita Perspektif 4 Madzhab
Jangan lupa kunjungi akun media sosial Pondok Lirboyo. Facebook, Instagram, Youtube.






Artikelnya mohon disebarluaskan min, kalau bisa dlm bentuk video atau apa, biar banyak yang tertarik.
Karena jarang peminat baca artikel
terimaksaih atas kritik dan sarannya ka