Doa yang Tidak Pernah Gagal: Memohon Ketenangan di Tengah Hidup yang Terus Berguncang

Dalam hidup yang terus bergerak cepat, kadang kita merasa seperti sedang berdiri di atas tanah yang berguncang: masalah datang tiba-tiba, rencana berubah tanpa permisi, dan hati menjadi lebih mudah resah. Dalam kondisi seperti itu, ada satu amalan yang tidak pernah gagal memberi ketenangan: berdoa kepada Allah dengan hati yang jujur dan penuh tawakal.

Doa bukan hanya permintaan, ia adalah jalan pulang bagi hati yang kelelahan, dan pelabuhan bagi jiwa yang mencari keteduhan. Maka ketika hidup terasa goyah, kembalilah kepada Allah. Karena Dia-lah yang berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ۝٢٨

Artinya :“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”(QS-Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa ketenangan bukan berasal dari selesainya masalah, tetapi dari hubungan hati dengan Allah.

Baca Juga: Doa Musim Hujan

Mengapa Doa Tak Pernah Gagal?

Doa kepada Allah mustahil sia-sia. Ia tidak pernah gagal, bukan karena semua permintaan terkabul persis seperti keinginan kita, tetapi karena Allah selalu menjawab dengan cara terbaik.

Nabi ﷺ pernah Bersabda:

حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ، حَدَّثَنَا عَلِيٌّ، عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ

يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا «قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ، قَالَ:»اللهُ أَكْثَرُ «(١)

Artinya :“Abu ‘Amir telah menceritakan kepada kami, Ali telah menceritakan kepada kami, dari Abu al-Mutawakkil, dari Abu Sa‘id, bahwa Nabi ﷺ bersabda: ‘Tidaklah seorang Muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak (mengandung) pemutusan silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga (hal): (1) Doanya disegerakan (dikabulkan) untuknya, atau (2) Allah menyimpankannya untuknya di akhirat, atau (3) Allah menolak dari dirinya keburukan yang semisal dengannya.”Para sahabat berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak (berdoa).”
Beliau bersabda, “Allah lebih banyak (pemberian-Nya).”[¹Aḥmad ibn Ḥanbal, Musnad Aḥmad, ed. Syu‘aib al-Arna’uth dan ‘Adil Mursyid (Beirut: Mu’assasah al-Risālah). hal. 213-214 juz. 17]

Ini menunjukkan bahwa tidak ada doa yang gagal, hanya bentuk jawabannya yang berbeda.

Baca Juga: Doa Menghindari Kerusakan Akhir Zaman dan Terhindar dari Fitnah

Doa-Doa Ketika Hati Gelisah dan Hidup Berguncang

1. Doa memohon ketenangan hati dan hilangnya kegundahan

Nabi ﷺ pernah berdoa:

اللهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي، إِلَّا أَذْهَبَ اللهُ ﷿ هَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا»

Artinya :“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, putra hamba-Mu laki-laki, putra hamba-Mu perempuan. Ubun-ubunku berada dalam genggaman-Mu. Berlaku padaku keputusan-Mu; adillah terhadap hamba ini ketetapan-Mu. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki: yang Engkau namai dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu; agar Engkau menjadikan Al-Qur’an penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghapus kesedihanku, dan penghilang kegundahanku. Tidaklah seseorang mengucapkannya, melainkan Allah akan menghilangkan kegundahannya dan mengganti kesedihannya dengan kegembiraan.”[¹Aḥmad ibn Ḥanbal, Musnad Aḥmad, ed. Syu‘aib al-Arna’uth dan ‘Adil Mursyid (Beirut: Mu’assasah al-Risālah). hal. 341 juz. 7]

ini adalah doa yang nabi ajarkan ketika hidup menjadi lebih sulit, ketika semuanya terasa tidak adil. Doa ini terkenal dengan sebutan sayyid ad-du‘ā’ fi al-karb, pemimpin doa ketika hati sempit. Para ulama menyebut doa ini karena mengajarkan kehambaan sekaligus permohonan yang lembut.

Baca Juga: Ketika Jawaban Doa Bukan “Ya”, Tapi “Aku Tahu yang Lebih Baik”

2. Doa yang sangat ringkas, namun paling sering jadi sumber ketenangan

Nabi ﷺ jarang meninggalkan doa ini:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Artinya :Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.’[¹Aḥmad ibn Ḥanbal, Musnad Aḥmad, ed. Syu‘aib al-Arna’uth dan ‘Adil Mursyid (Beirut: Mu’assasah al-Risālah). hal 278 juz. 44]

Para Ulama turats menjelaskan bahwa ketetapan hati dalam beragama adalah sumber sakinah (ketenangan). Hidup boleh goyah, tapi hati tetap kokoh.

Baca Juga: Belajar Tenang dari Dzikir: Jalan Suci Menuju Allah

Penutupan

Doa tidak pernah gagal. Ia selalu bekerja di tempat yang paling kita butuhkan: di dalam hati. Masalah boleh tetap ada, dunia boleh tetap bergerak liar, tetapi dalam doa, kita menemukan ruang hening di mana jiwa bisa bernapas.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses