Pada Sabtu malam Ahad, 31 Mei 2025, Pondok Pesantren Lirboyo kedatangan tamu istimewa dari Sudan: Asy-Syaikh Awad Karim Al-Aqli. Acara mulai pukul 19.30 WIB dan berlangsung dalam suasana yang istimewa—seluruh rangkaian kegiatan menggunakan Bahasa Arab fasih, mengikuti kaidah Nahwu dan Sharaf.
Baca juga: Majelis Sholawat Kubro (MASBRO) Perdana
Mulai dari pembawa acara, pembacaan biografi, hingga sambutan, semua disampaikan tanpa campuran bahasa lain. Bahkan ketika Asy-Syaikh menyampaikan materi yang bertema “حب الوطن في ضوء كتب التراث” (Cinta Tanah Air dalam Perspektif Kitab-Kitab Turats), beliau menyampaikannya sepenuhnya dalam Bahasa Arab tanpa adanya penerjemah.
Hal ini menjadi pengalaman baru sekaligus tantangan besar, terutama bagi para Mahasantri Marhalah Ula dan Tsani Ma’had Aly yang hadir. Mereka tertuntut tidak hanya memahami teks Arab klasik (kutub al-turats), tetapi juga mampu menyimak dan berinteraksi dalam percakapan Arab resmi. Menariknya, sesi tanya-jawab pun berlangsung sepenuhnya dalam Bahasa Arab, dan para Mahasantri mampu menyampaikan pertanyaan mereka secara langsung kepada Asy-Syaikh dengan bahasa yang baik.
Baca juga: Pembukaan Pengajian Kamis Legi 1446 H / 2025 M
Ijazah Hadis Musalsal Asy-Syaikh Awad Karim Al-Aqli dan Materi Dauroh
Mengawali majelis, Asy-Syaikh Awad Karim Al-Aqli memberikan ijazah hadis musalsal kepada seluruh hadirin:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.”
Baca juga: 235 Calon Mahasantri Ikuti Ujian Masuk Marhalah Tsani Ma’had Aly Lirboyo Selama Dua Hari
Kemudian beliau membahas berbagai dalil mengenai cinta tanah air (hubbul wathan), di antaranya firman Allah dalam QS. Al-Baqarah:
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ…
“…Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kalian: kalian tidak akan menumpahkan darahmu dan tidak akan mengusir saudara kalian dari kampung halaman mereka…”
Asy-Syaikh Awad Karim Al-Aqli juga menyampaikan bagaimana Rasulullah ﷺ mencintai Makkah. Beliau mengutip sabda Nabi ketika hendak meninggalkan kota itu:
“وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ…
“Demi Allah, engkau adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi yang paling Allah cintai. Kalau bukan karena aku diusir darimu, aku tidak akan meninggalkanmu.”
Baca juga: Sekilas Haul ke-51 KH. Marzuqi Dahlan
Rasulullah ﷺ pun berdoa agar diberi rasa cinta kepada Madinah sebagaimana cintanya kepada Makkah:
“اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ…
“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, bahkan lebih dari itu.”
Nilai Kemanusiaan dalam Syariat
Dalam sesi tanya jawab, Asy-Syaikh Awad Karim Al-Aqli juga mengangkat sebuah kisah menarik: saat Rasulullah ﷺ berdiri menghormati jenazah seorang Yahudi yang lewat. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab bahwa tindakan itu dilandasi penghormatan terhadap kemanusiaan (li jihati al-nafsi). Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isra: 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Sungguh Kami telah memuliakan anak-anak Adam…”
Baca juga: Sekilas Haul Ummul Ma’had Lirboyo; Ibu Nyai Dlomroh yang Ke-67
Penutup
Dauroh ini menjadi momentum penting untuk memperkuat tradisi ilmiah, sekaligus mendorong para Mahasantri agar aktif menghidupkan Bahasa Arab dalam praktik, bukan hanya dalam teks. Kehadiran Asy-Syaikh Awad Karim Al-Aqli membawa angin segar dan motivasi besar bagi para pencari ilmu di Lirboyo untuk terus menapaki jalan ilmu dengan kesungguhan dan kecintaan terhadap bahasa al-Qur’an.






Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





