Setiap manusia pasti mengalami kegelisahan. Kadang kita tidak tahu dari mana datangnya resah. Masalah hidup datang silih berganti—urusan rezeki, pekerjaan, keluarga, atau bahkan hal-hal yang tak terlihat oleh orang lain. Dalam keadaan seperti itu, banyak orang mencari penenang hati: ada yang pergi berlibur, ada yang menyibukkan diri. Bahkan, tidak sedikit dari kita berlari pada perkara yang tidak halal. Padahal, penenang hati sejati tidak terletak pada dunia, tapi pada hubungan kita dengan Allah.
Khotbah Jumat: Penenang Hati
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أما بعد
فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ : ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ
Jamaah Jumat Yang Allah Rahmati..
Tidak henti-hentinya, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. Dengan sekuat mungkin menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi tiap-tiap larangannya. Karena dengan takwalah yang akan membuat hidup kita benar-benar bermanfaat yang sejati.
Takwa yang akan membawa kita menempuh kehidupan dunia ini dengan sikap-sikap hidup yang bermanfaat kelak di akhirat nanti. Takwa yang akan menuntun kita menjalani hidup yang penuh ketidakpastian ini. Dengan takwa pula kita akan bisa memilih mana amal yang sifatnya hanya sementara dan mana yang sifatnya abadi. Allah swt. Berfirman:
مَا عِندَكُمۡ يَنفَدُ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٖۗ وَلَنَجۡزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓاْ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
Artinya: “Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. An-Nahl: 96)
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Dalam kehidupan ini, kita selalu memenuhi kewajiban kita, membantu orang lain, atau sekadar mencari hiburan (dengan hal-hal yang baik) di tengah rutinitas. Setiap hari kita isi oleh berbagai aktivitas yang datang silih berganti. Mulai dari hal kecil yang nyaris tak terasa hingga keputusan besar yang bisa mengubah arah hidup. Namun, tidak semua yang kita lakukan tidak menjadi penenang hati.
Sehingga dari itu akan muncul perasaan-perasaan yang tidak membahagiakan bagi kita yang pada akhirnya akan membuat kita resah, tidak tenang, menyesal, marah ataupun semacamnya. Jika mengacu pada akal pikiran yang jujur tentu saja hal yang paling bermanfaat kita lakukan saat perasaan-perasaan tadi menimpa kita adalah bersabar dan merenung penyebabnya.
Allah Swt. mengingatkan kita dengan firman-Nya:
أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ“Ingatlah, dengan berzikir kepada Allah dapat menenteramkan hati.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini bukan sekadar ajakan, melainkan penegasan dari Allah bahwa ketenangan sejati hanya bisa ditemukan dalam hubungan dengan-Nya. Zikir bukan hanya ucapan di lisan, tetapi juga kehadiran hati yang sadar, tunduk, dan bersandar kepada-Nya. Di saat hati gelisah, zikir mengajarkan untuk berhenti sejenak dan kembali kepada sumber kedamaian yang hakiki.
Ketika dunia terasa sempit, ketika masalah datang bertubi-tubi, saat semua rencana terasa sia-sia—itulah saatnya hati kita diuji, dan itulah waktu terbaik untuk berzikir. Bukan untuk menghindar dari kenyataan, tapi untuk menguatkan jiwa agar tetap tegak menghadapinya.
Karena pada akhirnya, kita tak butuh banyak untuk merasa damai. Cukup satu hal: hati yang ingat dan dekat dengan Tuhannya.
Jemaah Jumat Rahimakumullah
Berzikir merupakan diantara ibadah yang ringan untuk dilakukan, bukan saja karena hanya dengan lisan atau hati belaka, melainkan karena dengan mudah pula zikir bisa dirangkap bersama berbagai kegiatan lainnya semisal: menyapu, memasak, saat berkendara, terjebak macet, coffebreak, mengantri potong rambut, mengantri di kasir, menunggu ban motor yang sedang ditambal, menanti bus angkutan, menunggu istri yang sedang belanja atau pun hal-hal lainnya yang sehari-hari dilakukan.
Namun dari itu, berzikir memiliki nilai keistimewaan yang tinggi dihadapan Allah swt. sebagaimana disabdakan Rasulullah saw. :
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ حَالٍ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَمَلٌ أَحَبُّ إِلَى اللهِ وَ لَا أَنْجَى لِعَبْدٍ مِنْ ُكلِّ سَيِّئَةٍ فِي الدُّنْيَا وَ الْأَخِرَةِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ
Artinya: “Perbanyaklah berzikir kepada Allah yang maha luhur lagi agung dalam berbagai keadaan. Karena tidak ada perbuatan yang lebih dicintai Allah dan lebih menyelamatkan seorang hamba dari keburukan dunia dan akhirat melebihi berzikir kepada Allah” (HR. Ibnu Sorsori).
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
download pdf klik di (sini)






Alhamdulillah mendapatkan contoh khutbah singkat bermutu… semoga bermanfaat