فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Baca juga: Khutbah Jumat: Menyalakan Harapan dalam Taubat
Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah…
Marilah kita perbarui dan tingkatkan takwa kita kepada Allah ta’ala, yakni dengan melakukan setiap perintah dan menjauhi segala apa yang Allah larang. Utamanya dengan menjaga anggota tubuh kita agar tidak berbuat sesuatu yang menjadi sebab murka Allah. Mulai dari ujung rambut hingga telapak kaki kita. Sebab semuanya adalah nikmat yang harus kita syukuri dengan menggunakannya untuk beribadah dan berbuat baik. Bukan untuk berbuat maksiat dan kerusakan.Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah..
Pada kesempatan khutbah kali ini, saya akan menyampaikan mengenai pentingnya menjaga anggota tubuh kita dari perbuatan maksiat, utamanya mengenai anggota tubuh yang paling berbahaya dan paling mudah terperosok ke dalam jurang maksiat, yaitu mulut atau lisan. Namun demikian, lisan juga dapat mengangkat seseorang menggapai derajat yang tinggi, bila mampu menjaganya.
Rasulullah saw. bersabda:
سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ قَالَ تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ الْخُلُقِ قَالَ وَ مَا أَكْثَرَ مَا يَدْخُلُ الَّنارَ قَالَ الْأَجْوَفَانِ اَلْفَمُّ وَالْفَرْجُ
Artinya: “Rasulullah saw. ditanya, apakah sesuatu yang paling berpotensi mengantarkan sesorang menggapai surga? Belaiu lantas menjawab, bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti luhur. Rasulullah kembali ditanya, lalu apakah sesuatu yang paling berpotensi menjerumuskan seseorang ke dalam neraka? Beliau menjawab, dua lubang tubuh yakni mulut dan farji.”
Mengapa lisan begitu berbahaya bagi nasib seseorang kelak di akhirat? Karena lisan sangatlah ringan berbuat, ia bisa begitu mudah untuk digerakkan namun begitu sulit untuk dikendalikan. Maksiat yang kita timbulkan lisan nyaris bisa kita lakukan tanpa harus mengeluarkan tenaga dan biaya. Berbeda dengan maksiat anggota tubuh yang lainnya yang harus menggunakan tenaga atau biaya. Oleh karenanya, bahaya lisan sangatlah besar dibanding anggota tubuh lainnya.
Baca juga: Khutbah Jumat: Enam Perkara yang Menandingi Dunia Versi Imam al-Ghazali
Kaum Muslimin yang di rahmati Allah..,
Maksiat-maksiat yang kitatimbulkan oleh lisan itu memamng banyak sekali, diantaranya; Ghibah, yakni membicarakan orang lain dengan sesuatu yang membuatnya marah andaikan ia mendengarnya. Dengan terang Allah melarang seseorang berbuat ghibah bahkan Allah mengibaratkan ghibah sama halnya memakan bangkai saudaranya sendiri. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ, وَلَا تَجَسَّسُوْا وَ لَا يَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi maha penyayang.” (QS. al-Hujurat: 12)
Baca juga: Khutbah Jumat: Niat, Pondasi Segala Amal
Kaum Muslimin Yang Dirhamati Allah…
Di zaman yang serba modern ini, kita harus lebih berhati-hati. Mengingat perbuatan dosa yang merajalela, bahkan kadang terjadi tanpa disadari. Contoh yang nyata adalah banyaknya ujaran-ujaran kebencian, hinaan, cacian ataupun semacamnya yang beredar di dunia maya. Bukankah begitu mudahnya hal-hal demikian keluar dari sesorang, seakan kita lupa bahwa setiap apa yang kita perbuat pasti dicacat oleh malaikat. Maka, sangat wajib kita berpegang pada apa yang disabdakan oleh nabi Muhammad yaitu:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمَ الْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau lebih baik diam.” (Muttafaqun ‘Alaih)
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo






Harokat teks haditsnya ada yang keliru, lafadh يدخل baik yang pertama maupun kedua mestinya berbunyi ʏᴜᴅᴋʜɪʟᴜ