Menghidupkan Tradisi Adab dan Istiqamah dalam Menuntut Ilmu
Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo kembali dipenuhi para santri pada Jumat siang, 23 Jumadil Ula 1447 H / 14 November 2025 M. Pukul 13.30 WIB, Pondok Lirboyo menggelar acara Halaqoh Ilmiah bersama Syekh Abu Bakar bin Zein Ar Roqi Bafadhol.
Pembukaan Syekh Abu Bakar bin Zein Ar Roqi Bafadhol
Pra-acara siang itu mendapat iringan lantunan sholawat yang mengalun dari para santri. Suasana hening berubah menjadi sejuk, sebelum Syekh Abu Bakar memulai halaqoh dengan bacaan tahmid dan niat menuntut ilmu secara bersama-sama.
Baca Juga: 733 Santri Lirboyo Siap Berlomba di Festival Ilmiah Haflah Akhirussanah
Dawuh Imam Syafi’i dan Kewajiban Menuntut Ilmu
Dalam penyampaiannya, Syekh Abu Bakar bin Zein Ar Roqi Bafadhol mengutip dawuh masyhur Imam Syafi’i:
“Tidak ada sesuatu yang lebih wajib daripada menuntut ilmu, dan ia adalah perkara yang paling mulia.”
Baca juga: Seminar Jam’iyyah Nahdliyyah II: Kiprah Santri di Era Modernisasi
Dari sini Syekh Abu Bakarmenegaskan bahwa menuntut ilmu bukan transaksi intelektual biasa. Ada adab, ada latihan batin, dan ada kesungguhan yang harus dibawa seorang penuntut ilmu.
Tiga Syarat Penuntut Ilmu
Syekh Abu Bakar lalu menyampaikan tiga syarat pokok bagi siapa pun yang ingin ilmu menancap dalam dada:
1. Istiqamah
Konsistensi menjadi kunci utama bagi orang yang sedang mencari ilmu.
2. Mengulang Ilmu Sebelum Mencari Ilmu Baru
Santri tidak boleh hanya “mengumpulkan pelajaran”. Ilmu yang santri peroleh harus mereka ulang minimal 2–4 kali. Para salaf bahkan mengulang hingga 20 kali—bukan karena mereka kurang cerdas, tetapi karena mereka tahu, kemuliaan ilmu hanya datang pada yang bersungguh-sungguh.
Baca juga: Ketua Umum PBNU, Gus Yahya, Hadiri Pembukaan PD-PKPNU di Pondok Pesantren Lirboyo
3. Mendengarkan dengan Sungguh dan Menulis
Syekh Abu Bakar bin Zein Ar Roqi Bafadhol menegaskan bahwa ada pepatah yang mengatakan: “Setiap ilmu yang tidak kita tulis di kertas, ia akan hilang.” Maka menulis adalah cara paling sederhana namun paling dahsyat untuk mengikat ilmu. Apa pun yang diperoleh dalam dars, (maka) tulislah. Esoknya baca lagi sebelum pelajaran berikutnya. Jika ada isykal, (maka) tanyakan kepada guru tanpa ragu.
Ringkasan memang mudah dihafal, tetapi kedalaman hanya bisa dicapai dengan membaca penjelasan panjangnya.
Tujuh Kemuliaan bagi Orang yang Menghadiri Majelis Ilmu
Salah satu bagian paling menggugah dari halaqoh ini adalah ketika Syekh Abu Bakar bin Zein Ar Roqi Bafadhol menjelaskan tujuh keutamaan yang Allah berikan kepada siapa pun yang hadir dalam majelis ilmu—bahkan bila ia belum memahami apa yang dia pelajari:
- Mendapatkan fadilah sebagai penuntut ilmu.
- Allah menurunkan rahmat ke tempat majelis berlangsung.
- Rahmat itu juga mengalir kepada yang hadir.
- Ia dicatat sebagai hamba yang taat selama mendengarkan pelajaran.
- Terjaga dari dosa.
- Bila hatinya sempit, bingung, atau merasa “bodoh”, ia mendapat kedudukan khusus.
Dalam hadis Qudsi, Allah berfirman:
“Aku bersama orang yang hatinya terpecah karena Aku.” - Ia akan melihat kemuliaan orang alim, lalu hatinya mencintai ulama dan membenci kefasikan.
Baca juga: Santri Lirboyo Antusias Ikuti Pelatihan Konstruksi Bersertifikat Bersama Kementerian PU
Dari penjelasan ini, maka santri yang hadir untuk belajar saja sudah bernilai ibadah—apalagi jika mereka ikuti dengan adab dan kesungguhan.
Adab: Pondasi Tak Terpisahkan dari Ilmu
Sebagai penutup, Syekh Abu Bakar berpesan kepada para santri agar semua santri menjaga adab kepada: guru, orang tua, dan siapa pun yang lebih tua Ini adalah adab yang baik.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





