LirboyoNet, Kediri – Pergulatan diskursus keagamaan modern, khususnya terkait gempuran ideologi anti madzhab, menjadi tantangan keilmuan yang urgen bagi lingkungan pesantren. Menjawab tantangan tersebut, Ma’had Aly Lirboyo, Kediri, menyelenggarakan bedah buku. Buku yang telah melalui proses penulisan selama kurang lebih dua tahun: “Kenapa Kita Bermadzhab: Mengukuhkan Sistem Bermadzhab dan Kajian Kritis atas Ideologi Anti Madzhab.”
Kehadiran Mudir Madrasah, Bapak Fathurrohman, turut mewarnai acara bedah buku tersebut.
Baca juga: Silaturrohim Khodim Pondok Cabang Lirboyo
Mudzakarah Keilmuan sebagai Jembatan Generasi
Dalam sambutan pembuka atas nama Mudir Ma’had Aly, Bapak Fathurrohman menyampaikan pentingnya penyelenggaraan bedah buku ini di internal Lirboyo.
“Dahulu, acara bedah buku seringkali menjadi acara murni angkatan dan hanya masuk ke universitas besar seperti UIN, UGM, dan lain-lain. Namun, jika ini terus berlangsung, adik-adik kelas tidak akan pernah bisa mendengarkan dan mengkaji langsung dari penulisnya,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Ma’had Aly Lirboyo menganggap penting untuk menyelenggarakan acara ini secara mandiri. Bedah buku semacam ini adalah wadah simbiosis mutualisme yang menjembatani dan menghubungkan antara mutakhorijin (alumni) dan siswa aktif.
“Motif inti acara ini adalah mudzakarah, musyawarah, dan diskusi, serta istifadah (menggambil faidah/manfaat) keilmuan,” tegas beliau.
Menjawab Tantangan Fikih Modern dan Kelompok Anti Madzhab
Sesi pembahasan inti bedah buku, yang dimoderatori oleh Bapak Syarwan Satria, menampilkan penulis buku, Bapak Khabibur Rahman, S. Ag.
Bapak Khabibur Rahman menjelaskan bahwa latar belakang penulisan buku ini yang paling inti adalah tantangan adaptasi fikih modern dan maraknya kelompok anti madzhab yang secara terang benderang beredar di masyarakat.
Beliau memaparkan bahwa praktik bermadzhab telah melalui tiga periode historis: periode kenabian, periode sahabat, dan periode tabi’in.
“Menjadikan figur tertentu untuk mengikuti pandangan sudah ada sejak zaman dahulu. Kita bisa melihat bagaimana Abdullah bin Mas’ud selalu mengikuti pola pikir Sayyidina Umar, dan Zaid bin Tsabit sangat mengikuti apa yang Sayyidina Abu Bakar katakan,” jelasnya.
Penulis juga meluruskan pandangan yang salah dari orang-orang reformis yang kerap mengatakan bahwa madzhab terbentuk karena dukungan pemerintah (faktor politik) dan bukan murni agama. Padahal, faktor sejati munculnya madzhab adalah kontribusi ulama dari imam-imam madzhab sendiri, di mana para murid mendokumentasikan pemikiran gurunya hingga ajaran tersebut tersusun sempurna seperti saat ini.
Potensi Pemantik Cakrawala Keilmuan
Sebagai penutup acara, Bapak Fathurrohman kembali menyampaikan komentarnya.
“Saya kira dari apa yang telah tutor sampaikan, materi yang telah tersebar, dan buku yang telah berhasil Tim FKI karang, sangat bisa kita nilai sebagai sebuah potensi pemantik pembuka cakrawala keimuan kita,” pungkasnya.
Beliau berharap, kajian mengenai sistem bermadzhab akan terus melahirkan banyak turunan keilmuan yang bermanfaat bagi santri Ma’had Aly Lirboyo.
