Lirboyo – Malam Sabtu, 15 Agustus 2025 M / 21 Safar 1447 H, sekitar jam 19:00 WIB Pondok Pesantren Lirboyo menggelar acara istighosah dalam rangka memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia. Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangsaan, para santri kelas II Tsanawiyah dan pengajarnya, para dzuriyyah Lirboyo, mudir (pimpinan) Madrasah dan pimpinan pondok menghadiri acara tersebut dengan semangat kebangsaan. Terlihat mereka memakai kain merah putih dengan melilitnya di songkok sembari memegang bendera merah putih yang berukuran kecil.
Baca juga: Lirboyo Gelar Seminar Kebangsaan dan Bedah Kitab Fath al-Maydan
Rangkaian acara
Sebelum acara mulai, tim hadroh kelas II Tsanawiyah MHM menampilkan sholawat. Setelah itu, kemudian MC, Ust. Ghifar Fathillah membuka acara tersebut. kemudian pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sdr. Muhammad Kadzafi, setelah itu Romo KH. Athoillah S. Anwar memimpin inti acara, yaitu doa bersama atau istighotsah.
Puncak acara diwarnai Orasi Kebangsaan oleh Agus H. Adibussholeh Anwar yang menekankan pentingnya menghargai jasa para pahlawan dan memaknai kemerdekaan secara menyeluruh. “Cinta NKRI bukan hanya ditunjukkan pada tanggal 17 Agustus saja, melainkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Setelah pembacaan Ikrar Santri oleh Agus H. Aminullah Mahin, para hadirin bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, Yahlal Wathon, 17 Agustus, dan Tanah Air. Suasana semakin meriah dengan pembagian doorprize oleh Agus Muid Shohib, yang salah satu pertanyaannya adalah berupa tanggal kemerdekaan Indonesia dalam penanggalan Hijriyah. Namun, di tengah-tengah doorprize, Romo KH. Abdullah Kafabihi rawuh dan kemudian acara dilanjutkan mauidzah hasanah.

Baca juga: Peresmian atas Renovasi Masjid Al Hasan
Dawuh Romo KH. Abdullah Kafabihi Mahrus dalam Istighosah HUT RI ke-80
Dalam mauidhoh hasanahnya, Romo KH. Abdullah Kafabihi Mahrus menyampaikan sejumlah pesan penting terkait kemerdekaan dan persatuan umat. Beliau mengingatkan:
Bersyukur atas Nikmat Kemerdekaan
“Kita harus bersyukur atas nikmat kemerdekaan yang telah Allah berikan kepada bangsa Indonesia,” ujar beliau.
Musuh Tersulit Ada di Dalam Diri
Beliau menegaskan bahwa musuh yang paling sulit kita hadapi adalah yang berasal dari dalam negeri sendiri, beliau mengibaratkan seperti halnya hawa nafsu.
“Musuh yang tersulit itu justru ada di dalam diri kita sendiri, yaitu nafsu,” tuturnya.
Perjuangan Ulama di Masa Penjajahan
Romo KH. Abdullah Kafabihi mengisahkan bahwa ulama dahulu berjuang dengan berbagai cara agar Indonesia merdeka.
“Ada yang memimpin peperangan melawan penjajah seperti ayah saya KH. Mahrus Aly, dan ada pula yang tetap di pesantren mendidik santri sambil berdoa untuk kemerdekaan, seperti KH. Abdul Karim dan KH. Marzuki Dahlan,” jelasnya.
Persatuan Umat di Tengah Fitnah Adu Domba
Beliau mengingatkan bahaya fitnah dan adu domba di kalangan umat Islam.
“Di tengah banyaknya fitnah adu domba pada zaman sekarang, alumni Lirboyo harus menjaga persatuan dan menolak segala bentuk perpecahan. Karena ketika orang Islam saling membuat konflik, maka ia sama dengan hambanya setan,” tegas beliau.
Beliau berharap Lirboyo bisa menjadi contoh bagi bangsa Indonesia.
“Memperingati kemerdekaan Indonesia itu sebaiknya dilakukan dengan istighosah dan pengajian, sebagai wujud rasa syukur, dan Lirboyo mungkin bisa dibuat contoh bagi seluruh warga Indonesia, bahwa memperingati kemerdekaan adalah bentuk syukur, maka dari itu, dalam memperingatinya tidak boleh adanya kemaksiatan” tutupnya.
Kemudian doa penutup dibawakan juga oleh Romo KH. Abdullah Kafabihi Mahrus.

Baca juga: Peresmian Pondok Cabang Lirboyo XXIV di Pacitan Berlangsung Khidmat
Hasil Wawancara dengan Mustahiq atau pengajar II Tsanawiyyah MHM
(Diwakili oleh Bpk. Yasin Muwaffaq)
Apa perasaan Bapak melihat murid-murid tampil dan berpartisipasi dalam acara HUT RI ke-80 ini?
“Kami sebagai perwakilan khodim 2 Tsanawiyyah merasa senang dan bangga melihat siswa-siswa tampil dan berpartisipasi pada acara istighosah dalam rangka menyambut HUT RI ke-80. Mereka terlihat antusias mengikuti prosesi dari awal hingga akhir. Secara tidak langsung, acara ini mengajarkan makna persatuan dalam keberbedaan.”
Apakah ada momen yang paling berkesan bagi Bapak selama mempersiapkan acara ini?
“Momen paling berkesan bagi saya adalah proses membangun mental dan mematangkan persiapan siswa yang akan tampil. Proses ini cukup menantang tetapi sangat berarti.”
Bagaimana Bapak mendampingi siswa dalam mempersiapkan penampilan seperti sholawat, pembacaan ayat suci, atau doa bersama?
“Kami melakukan pendampingan, bimbingan, dan pelatihan siswa secara berkala agar penampilan maksimal. Tantangan yang kami hadapi antara lain semangat siswa yang kadang menurun dan perbedaan daya tangkap setiap anak.”
Apa tantangan yang dihadapi saat melatih atau membimbing mereka?
“Istighosah ini menanamkan pentingnya nasionalisme dan kebangsaan dalam diri siswa kelas 2 Tsan, serta menumbuhkan rasa syukur atas kemerdekaan selama hampir 80 tahun. Cara memperingatinya adalah dengan istighosah dan doa bersama.”
Menurut Bapak, apa yang diharapkan Bapak dalam peringatan HUT RI ke-80 ini bagi para siswa kelas II Tsanawiyah?
“Kami berharap siswa semakin kuat menerapkan nilai nasionalisme, integritas, dan kedisiplinan. Mereka harus menjaga semangat belajar, beretika baik, dan siap menjadi generasi penerus bangsa yang membanggakan.”
Bagaimana Bapak melihat potensi dan semangat generasi muda di madrasah ini untuk menjadi penerus bangsa?
“Siswa MHM, khususnya generasi muda kelas 2 Tsanawiyah, memiliki potensi besar. Rasa ingin tahu mereka tinggi, semangat belajar mereka tidak kalah dengan yang lain, dan antusias mengikuti kegiatan sangat terlihat. Tiga hal ini menjadi modal besar untuk berkembang menjadi generasi yang membanggakan bangsa.”
Tonton selengkapnya dengan klik di bawah ini:
ISTIGHOTSAH DALAM RANGKA MENYAMBUT HUT. RI. KE-80
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
