Menyambut 115 tahun Ponpes Lirboyo serta satu abad MHM

Mhm dan Pondok Lirboyo

Hari sabtu tanggal 8 Februari 2025, tepat pada malam Ahad adalah hari perayaan 115 tahun Pondok Pesantren Lirboyo serta satu abad Madrasah Hidayatul Mubtadi’in (MHM), dua Lembaga yang menjadi rumah bagi puluhan ribu santri dari seluruh Indonesia. Mungkin masih ada Sebagian yang mengira bahwa Pondok PesantrenLirboyo dan MHM adalah satu Lembaga, padahal nyatanya tidak. Pondok Pesantren Lirboyo dan MHM merupakan dua Lembaga yang berjalan beriringan, ngopeni serta mendidik santri-santri KH. Abdul Karim.

Pondok Pesantren Lirboyo KH. Abdul Karim dirikan pada tahun 1910, system pengajaran yang beliau ajarkan kala itu sebagaimana pondok klasik pada umumnya, yakni ngaji bandongan, dimana sang kyai membacakan makna kitab untuk kemudian disemak serta dicatat oleh para santri. Beliau juga menerapkan sistem sorogan, yaitu setelah mendapatkan makna dari kyainya, Kyai akan menyimak bacaan santri untuk sesekali membenarkan bacaannya. Serta Kyai akan memberi pertanyaan untuk mengetes kemampuan baca santri.

Baca Juga: Jamiyyah Nahdliyah: Membedah Peta Dakwah Santri di Masa Kini

Seiring berjalanya waktu santri Mbah Manab semakin banyak, pencapaian ini selain sebuah keberhasilan beliau, juga memunculkan problem baru, yakni banyak santri baru yang belum bisa sama sekali baca dan tulis kitab kuning, padahal demi berjalannya sistem bandongan dan sorogan, santri minimal harus sudah menguasai dua keahlian tersebut.

Sejarah MHM

Akhirnya pada tahun 1925 100 (Tahun Lalu), ada seorang santri senior di Lirboyo, Namanya Jamhari. la mempunyai gagasan untuk membentuk sebuah madrasah bagi santri-santri baru yang belum mampu menulis dan membaca. Gagasan itu kemudian Jamhari sowankan kepada KH. Abdul Karim. Walhasil, dari gagasan itu, lahirlah Madrasah besar yang telah melahirkan ribuan orang besar, dengan semangat pengabdian yang besar pula. Mbah Jamhari Kendal perintis MHM Lirboyo juga merupakan guru Al Quran Habib Ali bin Hasyim (ayah Maulana Habib Lutfi bin Yahya). Salah satu sanad al Quran Habib Ali dari Mbah Yai Jamhari.

Baca Juga: Jam’iyyah Nahdliyah: Sejarah ASWAJA dan Sanad Makna Kitab

Nyatanya, memang tidak ada keberhasilan yang tercapai dengan mudah. Dalam merintis dan mengembangkan MHM, para santri senior tempo dulu bertemu dengan berbagai rintangan. Madrasah yang baru ada harus berhenti pada umur 6 tahun perjalanannya (tepatnya pada tahun 1931) karena banyak dari santri senior yang pulang untuk menikah. Tercatat MHM kala itu berhenti selama 2 tahun. Hingga pada akhirnya datang santri baru bernama Imam Faqih As’yari dari Jombangan Kediri, santri yang pernah menamatkan Madrasah Salafiyah Pondok Pesantren Tebuireng di era KH. Hasyim as’ariy. Imam Faqih Asy’ari yang baru berumur belasan tahun itu diyakinkan oleh ketua pondok kala itu yakni KH Jauhari Umar setelah bermusyawarah dengan Kyai Kholil dari Melikan Kediri, untuk merintis serta membangun Kembali MHM.

Kepala Madrasah Pertama

Sebagai kepala madarasah yang pertama, Imam Faqih Asy’ari mendapat bantuan tenaga pengajar yang lain seperti Sholeh dari Blitar, Hamzah dari Tulungagung, Suhadi dari Sumbersari Pare, Zamroji dari Kecong Pare, Abdurrahman dari Ngeronggo Kediri, Jawahir dari Sindang Laut Cirebon dan Anshori dari Cangkring, menerapkan system madrasah berjenjang. Jenjang MHM pada waktu itu ada 8 tingkatan. Yakni tiga kelas sifir dan lima tingkatan kelas tanpa nama ibtida’iyah dan tsanawiyah, yakni kelas I, II, III, IV dan V.

Baca Juga: Tingkat Lanjutan; Memperdalam Ilmu di Ma’had Aly Lirboyo

Pelajaran terlaksana setiap malam kecuali malam Jum’at ba’da Maghrib hingga pukul 11 istiwa’ (Wis). Waktu terbagi menjadi dua hissoh (jam pelajaran), hissoh ula dan hissoh tsaniyah, dua hissoh tersebut dipisah dengan waktu istirahat selama 30 menit. Pada awal-awal berdirinya, MHM memfokuskan mata pelajaran pada fan ilmu alat yakni nahwu, sharaf dan balagoh, pada tingkatan yang paling tinggi, yaitu kelas 5 pelajarannya adalah al-Jauhar al-Maknun. Tidak heran santri tempo dahulu mengenal pondok pesantren lirboyo dengan ilmu alatnya, banyak santri berduyun-duyun datang untuk memperdalam ilmu nahwunya di Lirboyo.

Jumlah Siswa

Jumlah siswa kala itu secara bertahap mengalami kenakan jumlah siswa, mulanya siswa berjumlah 44 orang, disusul tahun berikutnya dengan peningkatan jumlah siswa mencapai 60 siswa, dan di tahun ketiga berjumlah 70 orang. Dari sekian jumlah siswa yang ada kemudian selang waktu tiga tahun tepatnya 1936 M. ΜΗΜ mengentaskan tamatan pertamanya yang menyelesaikan jenjangnya dengan jumlah 10-12 siswa saja.

Pada tahun 1942 MHM terpaksa harus mengganti kepala madrasah dikarenakan Kiai Imam Faqih hendak menikah. Kiai Zamrodji dari Kencong adalah sosok yang pantas menggantikan posisi beliau sebagai kepala madarasah selanjutnya. Beliau adalah santri yang pernah mengenyam pendidikan di Tremas, Pacitan. Latar belakang beliau tersebut kemudian menelurkan ide untuk menambahkan satu metode pembelajaran yang juga sudah diterapkan di Tremas yakni sistem halaqoh.

Sistem Halaqoh

Metode ini berbentuk kelompok belajar bersama untuk memahami dan mendiskusikan pelajaran yang telah para pengajar berikan. Pada tahun 1941 M. (satu tahun sebelum KH. Zamrodji diangkat menjadi Kepala Madrasah). Sistem halaqah ini diterapkan di MHM dengan nama “Musyawarah”. Musyawarah dilakukan dengan membahas pelajaran pada waktu siang hari dengan dipimpin oleh seorang moderator yang disebut dengan Rois. System musyawaroh ini sangat efektif untuk memperkuat serta menambahkan pemahaman yang telah pengajar sampaikan sebelumnya.

Sistem madrasah berjenjang dan musyawarah ini sampai sekarang masih berjalan. Untuk menopang berjalannya sistem musyawarah, kemudian terbentuk lembaga Majlis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi’in (M3HM). M3HM terbentuk pada tahun 1955 yang pertama kali agus Ali Abu Bakar dari Bandar Kidul Kediri ketuai.

Baca Juga: MHM membuka pendaftaran kelas I’dadiyah

Demikianlah gambaran singkat awal-awal perjalanan Pondok Pesantren Lirboyo merintis Madrasah Hidayatul Mubtadi’in. Hingga saat ini, setelah lewatnya umur 115 Pondok Pesantren Lirboyo dan 100 tahun Madrasah Hidayatul Mubtadi’in. Sistem pendidikan yang ada semakin berkembang dengan menyesuaikan perkembangan yang ada. Tanpa meninggalkan warisan leluhur berupa kajian-kajian Kutub at-Turats al-Mu’tabaroh. Jumlah santri Lirboyo saat ini sudah melebihi 50.000. Entah yang tinggal di Pondok Lirboyo Kediri atau di pondok cabang yang tersebar di seluruh nusantara.

Jenjang Pendidikan yang ada saat ini ada mulai dari tingkat paling dasar. Yakni, Ibtida’iyyah dengan 6 tingkatan, Tsanawiyah dengan 3 tingkatan, Aliyah dengan 3 tingkatan. Dalam menunjang program sarjana dan pasca sarjana. MHM membuka tingkatan baru yakni Ma’had Aly Marhalah Ula dan Ma’had Aly Marhalah Tsaniyah. Pada Kamis malam Jum’at 6 Februari Ma’had Aly Lirboyo melaksanakan Wisuda ke-4 dengan wisudawan Marhalah Ula sebanyak 1040 mahasantri dan wisudawan Marhalah Tsani sebanyak 80 mahasantri.

 Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses