Di tengah menguatnya perdebatan tentang relasi agama dan negara, konsep nasionalisme yang berakar pada nilai-nilai keislaman kembali menjadi tema penting untuk dikaji. Ulama Nusantara sejak lama telah merumuskan manhaj kebangsaan yang tidak bertentangan dengan ajaran agama, namun justru menguatkan persatuan dan keutuhan bangsa. Gagasan tersebut menjadi fokus utama dalam bedah buku Nasionalisme Religius: Manhaj Kebangsaan Ulama Nusantara, yang mengupas secara mendalam bagaimana Islam dan nasionalisme dapat berjalan beriringan dalam konteks Indonesia.
Baca juga: Setengah Abad Berdiri, Akhirnya Gedung Al-Ihsan Dibongkar
Rangkaian kegiatan bedah buku
Kegiatan bedah buku ini digelar mulai sekitar pukul 14.00 WIB (Sabtu 10/01/2026). Acara diawali dengan pembukaan oleh MC kemudian dilanjut sambutan dari Mudir, Agus Arif Ridlwan Akbar, yang dalam pengantarnya menjelaskan makna doa “Rabbiysrahli shadri ilaikh” sebagai fondasi spiritual dalam menuntut dan menyebarkan ilmu.
Sesi bedah buku dimoderatori oleh Bapak Izzul Ma’aly, yang membuka acara dengan memaparkan profil dua pemateri. Mereka adalah Agus M. Sholahuddin Al-Ayyubi, M.Ag (Mustahiq 3 Aly) dan Bapak Husnul Muttaqin, M.Ag asal Tuban, yang juga merupakan dosen MA semester 1–2.
Baca juga: 1.173 Kiai dan Pengurus NU Satukan Aspirasi dalam Musyawarah Kubro di Lirboyo
Alasan buku ini dinamakan “Nasionalisme Religius”
Dalam pemaparannya, Agus Sholahuddin Al-Ayyubi menjelaskan latar belakang penamaan buku Nasionalisme Religius. Menurutnya, judul tersebut merupakan gagasan dari Romo KH. Azizi Hasbulloh, yang pada masanya menginginkan adanya penguatan konsep citizenship atau kewargaan dalam konteks kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu, buku ini disusun dengan tetap berada dalam arahan dan pantauan beliau.
Tantangan terbesar dalam kepenulisan
Beliau juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam penulisan buku ini adalah menyusun draf pembahasan yang tidak hanya dapat diterima oleh kalangan santri, tetapi juga oleh masyarakat umum secara luas.
Baca juga: Lirboyo Gebyarkan Muhafadhoh Akhirussanah: Dari Nadzam Aqidatul Awam Hingga Al-Quran Juz 3
Bukan hasil plagiasi dengan Fikih Kebangsaan III
Sebenarnya, buku Nasionalisme Religius dengan Fikih Kebangsaan III ada kemiripan isi. Nah, untuk menjawab hal demikian, pemateri menjelaskan bahwa buku Nasionalisme Religius sejatinya terbit lebih dahulu. Dengan nada bercanda yang disambut tawa hadirin, ia menegaskan:
“Untuk itu, buku kami ini tidak ada unsur plagiasi (dengan buku Fikih Kebangsaan)”.
Baca juga: Penutupan Lomba Ilmiah 2025–2026: Aksi Finalis dan Daftar Para Pemenang
Tidak anti kepada yang berseberangan
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa salah satu rujukan pemikiran dalam buku ini adalah pendapat Syaikh Yusuf Qardhawi. Meski dalam beberapa hal pandangan beliau berbeda dengan perspektif keislaman yang berkembang di Indonesia, pemateri menegaskan bahwa pendapat yang benar tetap dapat diambil, sebagaimana kaidah: “Khudz mâ shafâ wa da‘ mâ kadar” (ambil yang jernih dan tinggalkan yang keruh).
Baca juga: 2972 Delegasi Safari Ramadan Lirboyo Dibekali, Siap Sebarkan Dakwah
Pembahasan inti
Pembahasan kemudian mengerucut pada poin-poin global dalam buku, salah satunya mengenai konsep nasionalisme kebangsaan. Dalam bagian ini, salah satunya menjelaskan tentang Piagam Madinah, khususnya salah satu pasal yang menegaskan prinsip solidaritas dan pertahanan bersama, sebagaimana termaktub dalam pernyataan:
وأن بينهم النصر من دهم يثرب
“Sesungguhnya di antara mereka terdapat kewajiban saling menolong dalam menghadapi pihak yang menyerang Yatsrib.”
Baca juga: Penutupan Bahtsul Masail Penutupan (BMP) Pondok Lirboyo
Penjelasan Pemateri kedua
Sementara itu, Bapak Husnul Muttaqin menjelaskan alasan penggunaan istilah “Nasionalisme Religius” sebagai bentuk ikatan cinta tanah air yang berlandaskan nilai-nilai agama. Menurutnya, konsep ini bersifat wasathiyyah (moderat), tidak termasuk nasionalisme sekuler maupun neo-nasionalisme. Penggunaan kata “religius” dimaksudkan untuk membedakan posisi tersebut dari dua aliran ekstrem itu.
Beliau menambahkan, buku ini berfungsi sebagai manhaj kebangsaan, sekaligus memberikan jawaban terhadap kelompok-kelompok yang mengusung gagasan pendirian khilafah, serta menguraikan dasar-dasar nasionalisme dalam perspektif keislaman Nusantara.
Baca juga: Lirboyo Gelar Ujian Semester Genap 1447 H, Libatkan 783 Pengawas dan Sistem Digital
Penutup
Acara berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang digelar setelah pembagian doorprize kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dari panitia. Perlu diketahui, buku Nasionalisme Religius merupakan karya para mutakharrijīn Ma’had Aly Lirboyo, wisudawan tahun 2020. Kegiatan ini dihadiri oleh Mudir, Agus Arif Ridlwan, serta Bapak Fathurrahman, dan diikuti oleh para siswa tingkat Aliyah serta mahasantri Ma’had Aly Marhalah Ula. Acara bertempat di Aula An-Nawawi Pondok Pesantren Lirboyo.
Sebagai penutup, Bapak Fathurrahman menutup rangkaian bedah buku dengan pembacaan Surah Al-Fatihah, seraya memanjatkan doa agar ilmu yang disampaikan membawa keberkahan dan kemanfaatan.
Baca juga: Ribuan Santri Lirboyo Tak Ingin Lewatkan Barokah Majelis Sholawat Kubro Pamungkas
Melalui kegiatan bedah buku ini, diharapkan para peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai harmonisasi nilai keislaman dan nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





