Lirboyo, 09 Oktober 2025 — Ma’had Aly Lirboyo menggelar acara Bedah Buku Kebudayaan yang berjudul: Rekonstruksi Nalar Kebudayaan di Aula An-Nawawi pada Rabu siang pukul 13.30 WIB. Adapun buku yang dibedah merupakan karangan mutakhorijin Ma’had Aly Lirboyo. Dan perlu diketahui, penerbitan buku ini tidak dibebankan kepada setiap individu mahasantri, melainkan dikerjakan secara kolektif melalui sebuah tim yang diberi nama FKI (Forum Kajian Ilmiyah), yang terdiri dari beberapa mahasantri yang dipilih oleh dewan dosen.
Baca juga: Wawancara Eksklusif Bersama Dubes Malaysia
Para hadirin
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran Mudir Ma’had Aly, di antaranya KH. Athoillah Shalahuddin Anwar selaku Mudir Am, Agus H. Aminullah Mahin, dan Bapak Fathurrahman. Turut hadir para dosen (mustahiq) semester VII–VIII, perumus LBM (Lajnah Bahtsul Masail), serta peserta dari siswa Aliyah dan Mahasantri Marhalah Ula.
Usai melaksanakan musyawarah di kelas masing-masing, para peserta mulai bergerak menuju Aula An-Nawawi. Sebagian di antara mereka sempat mampir ke stand buku yang telah panitia siapkan, yang menampilkan deretan buku-buku hasil karya angkatan mereka.
Baca juga: Dubes Malaysia Sambangi Santri Lirboyo: Perkuat Malaysia Madani & Fikih Kebangsaan
Rangkaian acara
Acara dipandu oleh MC Ustadz Ilham Muzadi. Setelah itu, dalam sambutannya, Agus Aminullah Mahin menyampaikan bahwa Ma’had Aly Lirboyo tidak hanya mewajibkan penerbitan buku, tetapi juga tengah menjalankan program kepenulisan artikel yang nantinya akan mmereka presentasikansebagai bentuk penguatan tradisi intelektual di pesantren.
Pembukaan resmi dilakukan oleh Mudir Am, KH. Athoillah Shalahuddin Anwar dengan pembacaan Al-Fatihah seraya berharap bedah buku ini menjadi pijakan awal agar buku karangan pesantren mampu bersaing di dunia luar.
Baca Juga: Lirboyo Gelar Salat Gerhana Bulan
Keluh kesah memilih tema kebudayaan
Memasuki sesi diskusi, moderator Ustadz Malqin mengajukan pertanyaan seputar latar belakang pemilihan tema kebudayaan. Menurut Ustadz Mahatir Ihsan, salah satu penulis dan juga pemateri dalam acara bedah buku mengungkapkan bahwa tantangan terbesar justru terletak pada penentuan tema. Mereka sempat mempertimbangkan tema Fikih Peradaban sebagaimana yang akhir-akhir ini PBNU gaungkan. Namun akhirnya memilih kebudayaan meskipun topik tersebut terlihat asing dalam kurikulum pesantren.
“Sebenarnya dari teman-teman FKI (Forum Kajian Ilmiyah) yang paling sulit adalah memilih tema buku. Dan sebelumnya kami memilih Fikih Peradaban (seperti yang digaungkan PBNU) untuk dijadikan sebagai tema”. ujar salah satu penulis dan juga pemateri, Ustadz Mahatir Ihsan.
Para penulis juga mengaku sempat mengalami kesulitan dalam mencari referensi yang relevan. Hal ini dikarenakan keterbatasan akses literatur serta latar belakang keilmuan pesantren yang tidak secara langsung bersinggungan dengan kajian kebudayaan.
“Kesulitan terbesar bagi kami adalah karena para santri tidak pernah secara khusus mempelajari artefologi dan kebudayaan. Keseharian kami adalah membaca kitab kuning, dan hanya sedikit sekali di sana ditemukan pembahasan yang secara eksplisit mengulas soal kebudayaan,” lanjutnya.
Pemateri satunya—Ustadz Yatna juga menambahkan, penyusunan satu bab dalam buku tersebut bahkan memakan waktu hampir satu tahun. Karena harus menyesuaikan sudut pandang pesantren dengan istilah kebudayaan yang lazim digunakan dalam kajian akademik modern.
Baca juga: Santri Lirboyo Gelar Praktik Falak: Amati Gerhana Bulan dengan Teleskop
Penjelasan isi buku
Dalam pemaparan isi buku, dijelaskan bahwa kebudayaan tidak hanya dimaknai sebagai tradisi lahiriah, tetapi sebagai sistem nilai dan gagasan. Contoh di pesantren seperti roan, sungkem kepada kiai, dan tradisi khidmah. Kegiatan tersebut (di kalang pesantren) dianggap sebagai ekspresi kebudayaan yang sarat nilai barokah dan penghormatan kepada ilmu.
Untuk itu, menurut pemateri bahwa sebuah tindakan bisa menjadi sebuah kebudayaan jika telah memenuhi tiga syarat utama:
- Dilakukan oleh sebagian besar anggota kelompok manusia;
- Melalui proses belajar;
- Tercipta dalam lingkungan kelompok manusia.
Baca juga: Pesantren Lirboyo Gelar Maulid Nabi Selama Tiga Hari
Sesi tanya jawab
Setelah pemaparan mengenai garis besar isi kandungan buku, sesi berlanjut dengan diskusi terbuka. Para pemateri menerima beragam kritik, saran, dan pertanyaan dari audiens. Di antara penanggap yang turut memberikan pandangan adalah perwakilan BP2KI (Bidang Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah), Ustadz Deden Ubaidillah, serta salah satu Mudir Ma’had Aly, Ustadz Fathurrahman. Beberapa peserta lainnya juga aktif menyampaikan tanggapan, sehingga sesi tanya jawab berlangsung dinamis dan penuh antusiasme.
Di sela-sela sesi tanya jawab, panitia turut menyisipkan doorprize bagi peserta yang berhasil menjawab pertanyaan. Hadiah yang diberikan berupa buku karya angkatan penulis sendiri. Momen ini membuat suasana semakin hidup; para peserta terlihat antusias, tidak hanya menyimak, tetapi juga berlomba-lomba untuk terlibat aktif.
Baca juga: Lirboyo Resmikan Rumah Pengelolaan Sampah
Penutup dan doa
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Agus M. Hilmi Bik Nada—dosen Ma’had Aly Semester VIII. Dalam kesempatan tersebut, beliau mewakili tim penyusun menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada pihak Ma’had Aly yang telah menyediakan ruang dan fasilitas bagi terselenggaranya kegiatan bedah buku ini, sekaligus mendukung tumbuhnya tradisi literasi di lingkungan pesantren.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





