Waktu Pelaksanaan
Pada tanggal 22-29 April 2025 M kemarin, setiap jam 4 sore, para santri Lirboyo—dengan memakai baju putih—memadati Jl. KH. Abdul Karim dalam rangka sowan kepada para masyayikh seraya mengharap doa dan keberkahan dari beliau-beliau. Agenda tahunan ini selalu terlaksana ketika memulai tahun ajaran baru (bulan Syawal) seraya memperkenalkan masyayikh kepada para santri baru.
Baca Juga: Kedatangan Santri Pondok Pesantren Lirboyo
Awalnya agenda sowan ini terlaksana atas inisiatif ketua Jam’iyyah Daerah per masing-masing HP (Himpunan Pelajar), jadi tidak diatur secara jadwal maupun waktu oleh pimpinan pondok.
Karena jumlah santri semakin banyak, dan rata-rata Himpunan Pelajar mengadakan sowan, akhirnya pengurus Pondok Lirboyo mengatur jadwal agenda ini setiap hari untuk 7–8 Himpunan Pelajar (HP) daerah agar kegiatan ini bisa berjalan tertib, nyaman, dan kondusif.
Rute sowan
Mengingat lalu lintas sepanjang Jl. KH. Abdul Karim riskan terjadi macet, pengurus pondok juga menerapkan aturan jalur sowan yang harus dilalui agar tidak bertabrakan dan berebutan jalan. Yaitu titik kumpul berada di gerbang Ahlan Wa Sahlan sampai area blok Q, kemudian para santri berjalan beriringan satu baris dua orang menuju ke Dalem KH. M. Anwar Manshur. Kemudian berlanjut menuju kediaman KH. Abdullah Kafabihi Mahrus. Rute ketiga menuju kediaman KH. An’im Falahuddin Mahrus dan terakhir rombongan sowan menuju ke kediaman KH. AHS. Zamzami Mahrus. Setelah itu, rombongan sowan berlanjut pulang ke kamar masing-masing melewati jalur belakang Pondok Mubtadi’at.
Baca Juga: Kunjungan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jatim di Pondok Pesantren Lirboyo
Seluruh rute tersebut diawasi dan dijaga ketat oleh keamanan pondok agar proses sowan berjalan lancar dan tidak menghalangi pengguna jalan lain.
Tradisi santri sowan kepada kiainya
Tradisi silaturrahmi ini bukan perkara baru di kalangan para santri, karena dalam tradisi pesantren, salah satu upaya untuk menjaga dan memperkuat hubungan kiai dan santri adalah dengan sowan. Sowan merupakan tradisi bersilaturahim kepada kiai.
Baca juga: Ketua MK Sowan Mbah Yai Idris Marzuki
Mengenai hubungan guru dengan seorang murid, Imam Al-Ghazali menjelaskan:
يَحْتَاجُ المُرِيدُ إِلَى شَيْخٍ وَأُسْتَاذٍ يَقْتَدِي بِهِ لَا مَحَالَةَ لِيَهْدِيهِ إِلَى سَوَاءِ السَّبِيلِ، فَإِنَّ سَبِيلَ الدِّينِ غَامِضٌ، وَسُبُلَ الشَّيْطَانِ كَثِيرَةٌ ظَاهِرَةٌ. فَمَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ يَهْدِيهِ، قَادَهُ الشَّيْطَانُ إِلَى طُرُقِهِ لَا مَحَالَةَ. فَمَنْ سَلَكَ سُبُلَ البَوَادِي المُهْلِكَةِ بِغَيْرِ خَفِيرٍ فَقَدْ خَاطَرَ بِنَفْسِهِ وَأَهْلَكَهَا، وَيَكُونُ المُسْتَقِلُّ بِنَفْسِهِ كَالشَّجَرَةِ التي تَنْبُتُ بِنَفْسِهَا فَإِنَّهَا تَجِفُّ عَلَى القُرْبِ، وَإِنْ بَقِيَتْ مُدَّةً وَأَوْرَقَتْ لَمْ تُثْمِرْ، فَمُعْتَصَمُ المُرِيدِ شَيْخُهُ، فَلْيَتَمَسَّكْ بِهِ
Seorang santri membutuhkan guru atau pembimbing sebagai teladan agar tidak tersesat dan bisa menempuh jalan yang benar. Jalan agama sulit dipahami, sedangkan jalan setan justru banyak dan tampak jelas. Tanpa bimbingan guru, seseorang mudah jatuh dalam kesesatan. Orang yang berjalan di padang pasir tanpa penunjuk arah akan membahayakan dirinya. Begitu juga orang yang belajar sendiri tanpa bimbingan, seperti pohon yang tumbuh sendiri—cepat layu dan meski hidup, tidak akan berbuah. Karena itu, murid harus bergantung pada gurunya dan berpegang teguh kepadanya.
Referensi: al-Imam al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, (Beirut: Dar al-Ma’rifat) Vol. 3 hal. 75.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





