Di tengah derasnya arus hiruk-pikuk yang kerap menggerus sikap nasionalisme sebagian warga negara Indonesia, Pondok Pesantren Lirboyo via Lajnah Bahtsul Masail memilih menghadirkan acara penuh khidmat untuk menanamkan kembali semangat cinta tanah air kepada para santrinya. Rangkaian penyambutan HUT RI ke-80 tahun ini diwarnai dengan Seminar Kebangsaan & Bedah Kitab Fath al-Maydan fi Syarh ad-Difa’ ‘An al-Wathan.
Kitab Fath al-Maydan fi Syarh ad-Difa’ ‘An al-Wathan merupakan karya KH. Muhammad Said Ridlwan, putra pasangan KH. Ridlwan Abdul Rozaq dan Nyai Hj. Ruqoyyah, sekaligus bungsu dari sebelas bersaudara. Orang tua beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Huffadz, Kodran, Semen, Kediri, dan merupakan keturunan generasi ketiga pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdul Karim dan Nyai Dlomroh.
Baca juga: Khutbah: Cinta Tanah Air Bagian dari Iman
Rangkaian Acara & Pesan Pemateri
Acara yang berlangsung pada malam Jum’at, 14 Agustus 2025, tersebut berjalan tertib sesuai susunan yang Master of Ceremony (MC) pegang. Mulai dari pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sambutan panitia, penyampaian materi, hingga doa penutup.
Dalam sesi utama, Bapak Ihsanuddin Ishaq dan Bapak Habiburrahman Syafi’i tampil sebagai pembicara. Keduanya menekankan urgensi mencintai dan membela negara Indonesia. Mengutip salah satu bait dalam kitab,
لا عز إلا بحب الوطن # ولا نجاة إلا بالإتحاد
“Cinta negeri membuat kita terhormat, persatuan membuat kita kuat.”
Bapak Ihsanuddin Ishaq menjelaskan bahwa misi besar Yai Said selaku pengarang kitab ini adalah membangkitkan kesadaran warga negara akan pentingnya pemahaman berbangsa dan bernegara. Menurutnya, berbicara tentang hubbul wathan (cinta tanah air) kepada santri sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Tantangan besar seperti korupsi dan nepotisme dapat dihadapi oleh sosok yang taat beragama, dan di sinilah peran santri menjadi sangat strategis.
Para pembicara juga menegaskan bahwa kedalaman ilmu agama dapat menjadikan santri harapan masa depan Indonesia menuju cita-cita emas 2045. Nilai-nilai seperti zuhud dapat mendorong mereka menjauhi praktik korupsi yang masih menjadi penyakit kronis negeri ini.
Menutup sesi pembahasan, pembicara memberikan pesan penting kepada seluruh peserta,
“Apa yang kita peroleh di forum ini hanyalah pengantar. Untuk meraih inti ilmu, bukalah lembar demi lembar kitabnya, maka seluruh rahasianya akan tersingkap di hadapan kalian.”
Acara berakhir dengan suasana sederhana dan tertib, meninggalkan pesan penting tentang peran santri dalam menjaga nasionalisme melalui pendidikan di pesantren.


Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
