Khutbah Jumat: Jangan Sesekali Melupakan Sejarah

Soekarno Sedang Berpidato Soekarno Sedang Berpidato

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ فِي قَصَصِ الْقُرْاٰنِ دُرُوْسًا وَعِبَرةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ، وَجَعَلَ تَذَكُّرَ الْمَاضِي مِفْتَاحًا لِحِفْظِ الْحَاضِرِ وَالْمُسْتَقْبَلِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَى محمد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma’āsyiral Muslimīn Rahimakumullāh,

Allah Ta‘ālā berfirman:

لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran yang mendalam bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)

Al-Qur’an tidak hanya memuat hukum-hukum dan petunjuk ibadah, tetapi juga sarat dengan kisah-kisah dramatis yang Allah sampaikan seolah Nabi yang Allah ceritakan adalah saksi langsung, bahkan pelaku sejarah itu sendiri. Gaya berkisah Al-Qur’an ini amat selaras dengan kondisi jiwa manusia.

Kita tahu, seorang anak kecil kerap orag tuanya hantarkan tidur dengan cerita, begitu pula orang dewasa pun tergerak hatinya oleh kisah. Metode cerita adalah media yang paling efektif untuk menyampaikan pesan, menanamkan nilai, dan membangkitkan semangat.

Baca juga: Khutbah: Cinta Tanah Air Bagian dari Iman

Ma’āsyiral Muslimīn Rahimakumullāh,

Bung Karno, proklamator bangsa, pernah berpesan: “JAS MERAH — Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.” Hal demikian selaras dengan pameo:

قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا

“Katakanlah yang sebenarnya, meskipun pahit rasanya.”

Sejarah bukan untuk diulang, tetapi untuk dipelajari. “Orang yang enggan belajar sejarah akan mencicipi apa yang terjadi di masa lalu, bahkan dengan rasa yang lebih pahit.”

Lihatlah perjuangan Nabi ﷺ dan umat Islam di periode awal. Di Makkah, saat kaum Muslimin menjadi minoritas, mereka menghadapi penolakan, cacian, bahkan siksaan yang nyata. Di saat-saat seperti itulah, mereka membutuhkan kekuatan jiwa agar cahaya iman tetap menyala.

Kisah Fir‘aun yang angkuh, Qarun yang tamak, Namrudz yang menindas—semuanya berakhir. Kekuasaan mereka tidak abadi. Kegelapan berganti menjadi terang benderang. Karena sejarah adalah laboratorium kehidupan, tempat manusia meneliti, mengambil ibrah, dan memahami sunnatullah.

Baca juga: Khutbah Jumat: Niat, Pondasi Segala Amal

Ma’āsyiral Muslimīn,

Ayat ini juga menuntun kita memiliki empati tinggi, merasa ikut menanggung pahit yang orang lain derita, larut dalam alur cerita sejarah, seakan kita berada di posisi para tokoh dalam kisah itu. Al-Qur’an, dengan keindahan bahasanya, mampu menggiring kita merasakan derita kaum beriman.

Saat kita membaca firman Allah:

 “مَسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ”

mereka ditimpa kesulitan dan penderitaan, kita dapat membayangkan betapa berat ujian itu. Namun Rasulullah ﷺ meneguhkan hati mereka dengan sabda:

أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Ketahuilah, pertolongan Allah itu dekat.”

Maka, mari kita hidupkan pelajaran sejarah dalam hati, agar iman semakin kuat, amal semakin lurus, dan kita terhindar dari kesalahan yang pernah terjadi di masa lampau.

Baca juga: Khutbah Jum’at; Bersama Anak Yatim, Kita Menuju Surga

Jama’ah Jum’at Yang Allah Rahmati

Pun demikian sejarah bangsa Indonesia, ia menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak datang tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang perjuangan, pengorbanan, dan kesabaran. Nilai ini sejalan dengan kisah-kisah perjuangan para nabi yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an, seperti kesabaran Nabi Nuh ‘alaihissalām menghadapi penolakan kaumnya, atau keteguhan Nabi Musa ‘alaihissalām melawan kezaliman Fir‘aun.

Para pahlawan bangsa, dari Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dhien, hingga KH. Hasyim Asy’ari, mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya kemerdekaan dan marwah bangsa. Kisah mereka mengajarkan bahwa perjuangan selalu memerlukan iman yang teguh, kesabaran yang luas, dan keberanian yang lahir dari keyakinan akan pertolongan Allah.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa kisah masa lalu adalah cermin untuk melihat arah masa depan. Prinsip ini berlaku pula dalam sejarah Indonesia, di mana setiap periode mengandung pelajaran penting. Masa penjajahan mengingatkan kita akan bahaya perpecahan dan lemahnya persatuan, sedangkan masa kemerdekaan mengajarkan pentingnya menjaga amanah kemerdekaan itu sendiri. Jika umat Islam mampu memadukan semangat sejarah perjuangan bangsa dengan ibrah kisah Al-Qur’an, maka akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual.

Hadirin Rahimakumullah

Kontekstualisasi kisah-kisah Al-Qur’an dalam sejarah Indonesia juga berarti menanamkan nilai tawadhu‘ dan ikhlas dalam membangun negeri. Sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat berjuang tanpa pamrih untuk kejayaan Islam, para pejuang kemerdekaan juga tidak mengharap keuntungan pribadi, tetapi demi kemaslahatan umat. Kini, tantangan kita bukan lagi penjajahan fisik, tetapi penjajahan moral, budaya, dan ekonomi. Dengan memetik pelajaran dari Al-Qur’an dan sejarah bangsa, umat Islam Indonesia dapat menjaga persatuan, memperkuat iman, dan mengarahkan pembangunan bangsa agar tetap selaras dengan nilai-nilai Islam.

Baca juga: Khotbah Jumat: Mendidik Anak

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ

وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

يا الله اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَعْتَبِرُوْنَ بِالتَّارِيْخِ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، وَوَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا فِيْهِ خَيْرُ الْإِسْلَامِ

وَالْمُسْلِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses