Suasana acara
Kamis malam Jumat (11 Dzulqa’dah 1446 H/8 Mei 2025 M), para dzuriyah Lirboyo, kiai, santri, dan masyarakat sekitar Desa Lirboyo memadati Dalem Kasepuhan KH. Marzuqi Dahlan untuk memperingati haul ke-51 beliau. Mereka mulai berdatangan setelah jamaah salat Isya selesai.
Baca Juga: Kedatangan Santri Pondok Pesantren Lirboyo
Kegiatan pra acara
Sejak pagi hari, para dzuriyah putri telah menggelar sema’an Al-Qur’an sebagai bagian dari rangkaian kegiatan haul. Usai salat Isya, panitia memulai acara inti di kediaman KH. Marzuqi Dahlan.
Rangkaian acara
Agus HM. Mu’id Shohib memandu jalannya acara dengan penuh khidmat. Ustadz M. Hilmi Musyafa’ membuka rangkaian acara dengan membacakan ayat suci Al-Qur’an yang mengajak hadirin menyimak dengan penuh penghayatan.
KH. Abdul Hamid memimpin bacaan surat Yasin yang diikuti oleh seluruh jamaah. KH. Abdullah Kafa Bihi Mahrus melanjutkan dengan memimpin bacaan hadloroh untuk para leluhur keluarga besar KH. Marzuqi Dahlan, kemudian KH. Nurul Huda Ahmad memimpin pembacaan tahlil.
Haul ini menjadi momentum bagi keluarga besar Lirboyo dan masyarakat untuk mengenang perjuangan dan keteladanan KH. Marzuqi Dahlan dalam membina umat.

Sosok yang berhasil mendidik putra-putrinya
Dalam sambutan atas nama keluarga besar, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus menjelaskan bahwa KH. Marzuqi Dahlan adalah sosok yang berhasil mendidik putra-putri beliau.
“Mbah Zuqi (sapaan akrab KH. Marzuqi Dahlan) itu sosok yang berhasil mendidik putra-putranya, contohnya Kiyai Idris (KH. Ahmad Idris Marzuqi)”
Buya Kafa menerangkan salah satu didikan Mbah Zuqi kepada Kiyai Idris adalah mengajarkan bacaan Al-Quran meskipun sudah jam 3 dini hari.
“Jam 3 malam terkadang Mbah Zuqi masih mulang (mengajar) Al-Quran kepada Kiyai Idris”
Kemudian, beliau menyampaikan kisah yang sangat akrab di kalangan santri Lirboyo, yaitu saat KH. Marzuqi Dahlan menerima tantangan untuk membacakan kitab Ihya’ Ulumuddin. Beliau tidak hanya menyanggupi tantangan itu, tetapi juga berhasil membacakan dan menjelaskan karya monumental Imam al-Ghazali tersebut.
Baca juga: Sekilas Haul Ummul Ma’had Lirboyo; Ibu Nyai Dlomroh yang Ke-67
Nostalgia KH. Anwar Iskandar
Kemudian acara mauidzah hasanah oleh KH. Anwar Iskandar. Salah satu alumni Lirboyo tahun 80-an itu mengatakan bahwa ia sebetulnya tidak pantas mengisi mauidzah hasanah ini, karena beliau merasa masih menjadi santri Lirboyo, dan selamanya seperti itu.
“Kulo ten Lirboyo niku santri, dados mboten pantes menawi diken ngisi mauidzah”
(Saya di Lirboyo itu santri, jadi tidak pantas ketika disuruh untuk mengisi mauidzah.)
Bersyukur ditakdirkan menjadi santri Lirboyo
Ketua Umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) itu menceritakan masa-masa ketika masih nyantri di Lirboyo, kemudian mengucapkan syukur telah Allah takdirkan menjadi bagian dari santri Lirboyo.
“Kito syukur urip sepisan iso dadi santrine kiyai, kiyaine kiyai Lirboyo. Niku masya Allah nikmat ageng poro saderek.”
(Kita bersyukur hidup sekali bisa menjadi santrinya Kiyai, (apalagi) kiyainya kiyai Lirboyo. Itu masya Allah nikmat yang besar (wahai) para hadirin)
Beliau juga menceritakan kitab-kitab yang diajar oleh KH. Marzuki Dahlan.
“Mbah Zuqi setiap bakda asar mengajar kitab Syawahid al-Haq—salah satu kitab tasawuf tingkat tinggi”
Bukan hanya sekedar mengajarkannya saja, tapi kitab tasawuf itu oleh Mbah Marzuqi betul-betul mengamalkannya, maka tidak heran jika sosok beliau terkenal sangat zuhud dan wira’i.
Wakil Rais ‘am PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) itu juga menjelaskan bahwa Mbah Zuqi adalah sosok yang alim dan juga wira’i.
“Contoh sosok (yang tertera dalam salah satu bait kitab Ta’lim al-Muta’allim) Fain kana faqihan aw mutawarri’an (Sosok yang ahli fikih dan juga wira’i) itu ya Mbah Zuqi”
Selalu mengikuti ulama
Kemudian Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Kota Kediri itu juga mengajak kepada khalayak umum untuk selalu derek kiyai kapan pun, dimana pun kita berada karena demikian termasuk nikmat. Beliau menjelaskan mengapa hal itu termasuk nikmat.
“Kenapa itu termasuk nikmat? Karena firman Allah Ihdinas ṣirāṭa alladhīna an‘amta ‘alayhim (tunjukan kami ke jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka) itu isinya adalah minan nabiyyīna waṣ-ṣiddīqīna waṣ-ṣāliḥīn (Yaitu (jalan) para nabi, orang-orang yang sangat jujur dan orang-orang saleh.)”
Setelah itu, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus memimpin doa sebagai penutup acara.
Baca Juga: 1.304 Santri Mengikuti Ujian Tes Masuk MHM dan Ma’had Aly
Profil singkat KH. Marzuqi Dahlan
KH. Marzuki Dahlan adalah penerus Pondok Pesantren Lirboyo generasi kedua dan juga menantu dari Sang Pendiri Pondok (KH. Abdul Karim) dengan menikahi putri beliau yang bernama Nyai Maryam dan berdomisili di Lirboyo tahun 1936 M.
Baca selengkapnya di KH. Marzuqi Dahlan ( 1906 – 1975 )
Pada hari Senin Tanggal 18 November 1975 M beliau menghadap Sang Pencipta, di hadapan keluarga dan para santri yang sangat mencintainya. Teruntuk beliau, Al-Fatihah.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
