Sekilas Haul Ummul Ma’had Lirboyo; Ibu Nyai Dlomroh yang Ke-67

Haul Bu Nyai Dlomroh Haul Bu Nyai Dlomroh

Suasana acara Haul Ibu Nyai Dlomroh

Kamis sore (08/05 2025 M) Sehabis salat Ashar para dzurriyah Bani KH. Abdul Karim memadati Maqbaroh agung Pondok Pesantren Lirboyo, terlihat segenap para santri pun hadir di area serambi masjid guna memperingati haul ke-67 Ummul Ma’had Lirboyo: Bu Nyai Dlomroh, seorang figur Perempuan yang membantu perjuangan suaminya (KH. Abdul Karim) dalam mendirikan Pondok Lirboyo.

Baca Juga: Kedatangan Santri Pondok Pesantren Lirboyo

Pra acara

Sebelum acara, dari mulai tadi pagi diisi dengan Semaan Al-Quran, kemudian setelah jamaah salat Ashar, KH. Athoillah S. Anwar memimpin pembacaan surat al-Ikhlas.

Setelah para hadirin memenuhi tempat yang telah tersedia, Agus Mui’d Shohib—selaku MC mengucapkan salam dan acara resmi mulai.

Rangkaian acara

Ust. M. Hilmi Musyafa’ membuka acara dengan membaca ayat suci Al-Quran, lalu Agus Yasin MK memimpin pembacaan surat Yasin. Orang-orang mengikuti bacaan ayat per ayat dengan penuh khidmat hingga tiba pada pembacaan tahlil yang KH. Athoillah S. Anwar pimpin.

Senandung kalam Ilahi mengalun, membuat seluruh hadirin larut dalam suasana, berharap agar Bu Nyai Dlomroh mengakui mereka sebagai anak, cucu, dan santri yang setia kepada para leluhur dan guru.

Pembacaan manaqib

Setelah itu, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, yang akrab dengan panggilan Buya Kafa, memimpin pembacaan manaqib. Beliau menjelaskan bahwa dirinya tidak mengetahui banyak tentang sosok Bu Nyai Dlomroh karena saat itu beliau belum lahir. Namun, ia sempat mendengar beberapa kisah dari ibundanya, salah satunya adalah:

“Beliau makannya sedikit—yang saya tangkap dari ibu saya” ucap beliau.

Kemudian beliau menjelaskan sifat atau karakter yang tersemat dalam diri Bu Nyai Dlomroh:

“Beliau adalah sosok yg zuhud dan istiqomah, maka kita anak turunnya, santri-santrinya mengambil manfaat dari beliau” Ujar beliau.

Setelah itu pembacaan manaqib oleh Romo Yai Anwar Manshur. Beliau menceritakan asal Bu Nyai Dlomroh dan suasana desa Lirboyo ketika bu Nyai Dlomroh mukim dengan suaminya.

“Bu Nyai Dlomroh saking Banjarmlati, riyin Lirboyo niku boten wonten nopo-nopo taseh angker, pas waktu niku santri niku taseh 3 trus tambah-tambah sampe sak niki”

Bu Nyai Dlomroh itu dari Banjarmelati, dulu Lirboyo itu tidak ada apa-apanya (belum banyak penghuni) masih angker, pas waktu itu santri cuman masih ada 3 terus menambah sampai sekarang.

Salah satu ceritanya memang Bu Nyai dlomroh rela untuk menanggung permasalahan dapur agar KH. Abdul Karim—suami beliau untuk selalu fokus dan membimbing para santri.

Setelah itu, Romo Yai Anwar mengajak para dzurriyah dan para santri untuk senantiasa bersyukur karena telah ditempatkan di Lirboyo.

“Bu Nyai Dlomroh niku tirakate masya Allah. Maka dari itu, kita kedah syukur dados bagian dari Lirboyo”

Baca Juga: 1.304 Santri Mengikuti Ujian Tes Masuk MHM dan Ma’had Aly

Kejadian tak terduga

Disela-sela pembacaan manaqib beliau, listrik padam dan menyebabkan penerangan di maqbaroh menjadi padam. Kemudian para pengurus membenahi aliran listrik agar tetap nyala, untungnya acara akan segera berakhir dan doa penutup dibawakan oleh Romo Yai Anwar dan juga Buya Kafa.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses