Kunjungan Kementerian Pekerjaan Umum

Kementerian PU

Dalam rangka meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo, pada hari kamis, 9 Oktober 2025. Pihak Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan kunjungan ke Pesantren Lirboyo untuk meninjau kondisi bangunan kelas.

Kegiatan peninjauan ini bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi fisik bangunan dan kelayakan yang ada di pesantren. Tim dari Kementerian PU disambut oleh pengasuh pondok pesantren beserta dzuriyyah. Bersama-sama meninjau beberapa titik bangunan yang digunakan untuk kegiatan belajar para santri.

Sambutan dari K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Dalam sambutan beliau, Pondok Pesantren Lirboyo memiliki gambaran umum mengenai kondisi sarana dan prasarana di lingkungan pesantren. Beliau menyampaikan bahwa kamar santri di Pondok Pesantren Lirboyo umumnya berukuran sekitar 3×4 meter. Dan setiap kamar tersebut dihuni oleh sekitar 20 hingga 30 santri. Kondisi ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap pendidikan di Lirboyo. Namun juga sekaligus menjadi tantangan dalam penyediaan fasilitas yang memadai bagi para santri tanpa dukungan pemerintah.

Kebutuhan ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar

Selain kebutuhan tempat tinggal, setiap tahun Pondok Pesantren Lirboyo juga memerlukan sekitar 50 ruang kelas baru untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Namun, keterbatasan sumber daya dan minimnya perhatian dari pihak pemerintah menyebabkan pesantren hanya mampu menyediakan 30-35 ruang kelas baru.

Tetap berusaha untuk menyediakan yang terbaik untuk para Santri

Meskipun demikian, pihak pesantren tetap bersyukur karena kini Pondok Pesantren Lirboyo telah memiliki beberapa pondok cabang yang dapat menampung santri dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Hal ini menjadi bukti nyata semangat kemandirian dan perjuangan pesantren dalam mengembangkan pendidikan Islam tanpa banyak bergantung pada bantuan pemerintah.

Pondok Pesantren Lirboyo adalah Lembaga yang mandiri

Beliau juga menyampaikan bahwa Pondok Pesantren Lirboyo terkenal sebagai lembaga yang mandiri dalam mengelola kegiatan pendidikan maupun pembangunan fisiknya. Hampir seluruh kebutuhan pesantren terpenuhi secara swadaya melalui gotong royong, dukungan para alumni, serta masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kelangsungan dakwah dan pendidikan di Lirboyo.

Baca Juga: Biografi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: Wafatnya Sang Quthb al-Ghauts

Sambutan dari K.H. An’im Falahuddin Mahrus

Dalam sambutannya, Beliau menyampaikan bahwa pembangunan ruang kelas dan kamar santri yang ada di ponpes Lirboyo selama ini selalu dengan penuh tanggung jawab dan perencanaan yang matang. Setiap bangunan yang berdiri telah melalui proses perencanaan, pengawasan, serta pelaksanaan yang dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi kualitas maupun fungsinya.

Kualitas bangunan Kelas yang sudah sesuai standar

Beliau juga menegaskan bahwa bangunan Pondok Pesantren Lirboyo tidak kalah dengan pembangunan Rusunawa pemerintah. beliau bahkanberani membandingkan kualitas dan ketahanan bangunan di Lirboyo dengan rusunawa, karena pesantren selalu berupaya menghadirkan hasil pembangunan yang kokoh, aman, dan layak bagi para santri.

Pembangunan Gedung kelas dan kamar santri

Pada masa lalu, pembangunan di pondok pesantren banyak terlaksana secara mandiri oleh para santri. Kini proses pembangunan telah dikelola secara lebih profesional dengan melibatkan tukang dan staf ahli di bidang konstruksi. Hal ini dilakukan agar setiap pembangunan dapat berjalan lebih efisien, terukur, dan sesuai standar keamanan bangunan.

Pesan beliau untuk pemerintah

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menyampaikan rasa harapannya agar pemerintah dapat menghidupkan kembali program pembangunan rusunawa bagi pesantren. Menurutnya, program tersebut sangat membantu dalam mempercepat peningkatan kualitas sarana pendidikan dan hunian santri di berbagai daerah. Beliau menyayangkan berhentinya program tersebut, karena pesantren-pesantren besar seperti Lirboyo sangat merasakan manfaatnya dalam menunjang kegiatan pendidikan Islam di Indonesia.

Baca Juga: Khutbah : Mari Berpartisipasi Aktif dalam Pemilihan Pemimpin

Sambutan dari Agus HM. Abdul Mu’id Sohib

Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan pula sekilas tentang sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo. Dahulu, pendiri pesantren sebenarnya tidak memiliki niatan awal untuk mendirikan sebuah lembaga pesantren yang besar seperti sekarang. Namun, seiring berjalannya waktu, para santri datang satu per satu dengan sendirinya untuk menimba ilmu. Dari sinilah cikal bakal pesantren mulai terbentuk, Mulai dari para santri yang secara mandiri membangun kamar sederhana untuk mereka tempati sendiri.

Tentang Santri Ro’an atau Ngecor

Tradisi kebersamaan dan gotong royong di Lirboyo kemudian terus hidup hingga saat ini, salah satunya melalui kegiatan Ro’an atau kerja bakti seperti pengecoran bangunan (ngecor) yang sempat viral di berbagai media sosial. Namun demikian, para santri tidak melakukan roan setiap hari, melainkan hanya sekitar dua hingga tiga kali dalam satu tahun. Bagi para santri, kegiatan tersebut bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan juga menjadi ladang amal jariyah-sebuah bentuk pengabdian kepada pesantren dan bagian dari semangat belajar ikhlas lillāhi ta‘ālā.

Tetap profesional dalam pembangunan

Meskipun demikian, pesantren tetap memastikan bahwa setiap proses pembangunan tetap berjalan dengan profesional. Para santri hanya membantu dalam kegiatan ringan sebagai wujud kebersamaan, sedangkan pekerjaan inti tetap terlaksana oleh tukang ahli yang berpengalaman di bidangnya. Pondok Pesantren Lirboyo juga terkenal mandiri karena tidak menggunakan jasa vendor atau CV dalam pembangunan, melainkan langsung oleh internal pesantren dengan pengawasan ketat dari pihak pesantren.

Pendaftaran yang tidak memberatkan para wali santri

Selain terkenal mandiri dalam pembangunan, Pondok Pesantren Lirboyo juga terkenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak memberlakukan biaya pendaftaran tinggi. Hal ini sejalan dengan wasiat K.H. Abdul Karim selaku pendiri pondok pesantren, yang berpesan agar pesantren tidak membebani wali santri secara finansial. Prinsip tersebut terus terjaga hingga kini sebagai bentuk komitmen pesantren dalam memberikan akses pendidikan agama yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga: Ma’had Aly Lirboyo Gelar Bedah Buku Kebudayaan

Sambutan dari Kemenpu (kementerian Pekerjaan Umum)

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan dari Kementerian Pekerjaan Umum (Kemenpu) menyampaikan bahwa kunjungan mereka ke Pondok Pesantren Lirboyo merupakan tindak lanjut dari instruksi langsung Bapak Presiden Republik Indonesia. Instruksi tersebut menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan dan peninjauan terhadap bangunan-bangunan pondok pesantren di seluruh Indonesia, sebagai langkah antisipatif dan evaluatif pasca terjadinya insiden runtuhnya salah satu bangunan pondok pesantren di Sidoarjo beberapa waktu lalu.

Kerja sama dengan Kemenag

Pihak Kemenpu menjelaskan bahwa kegiatan ini terlaksanakan dengan bekerja sama bersama Kementerian Agama (Kemenag). Dengan fokus utama pada pesantren-pesantren yang memiliki jumlah santri di atas ribuan. Pondok Pesantren Lirboyo termasuk dalam kategori tersebut, sehingga menjadi salah satu lokasi prioritas untuk dilakukan audit bangunan serta evaluasi sarana dan prasarana pendidikan.

berita viral “santri ngecor”

Dalam penjelasannya, pihak Kemenpu juga mengaku cukup terkejut dengan viralnya pemberitaan mengenai kegiatan roan atau kerja bakti pembangunan di Pondok Pesantren Lirboyo. Namun setelah melakukan peninjauan langsung dan mendapatkan penjelasan dari pihak pesantren, mereka memastikan bahwa kegiatan tersebut tidak menimbulkan kekhawatiran. Kegiatan roan di Lirboyo hanya dilakukan dua hingga tiga kali dalam setahun. Dan para santri bukan merupakan tenaga utama dalam proses pembangunan. Pekerjaan inti tetap terlaksana oleh tenaga profesional dan tukang ahli di bidangnya.

pengecekan keandalan bangunan ponpes

Lebih lanjut, Kementerian PUPR menyampaikan komitmennya untuk turut bertanggung jawab dalam memastikan perizinan dan keamanan pembangunan di lingkungan pondok pesantren. Pihak kementerian akan meninjau dokumen perencanaan dan melakukan review terhadap keandalan struktur bangunan. Selain itu, mereka juga berencana memberikan dukungan dalam penyediaan fasilitas dasar seperti air minum, sanitasi yang layak, serta sarana pendukung lainnya.

Menegaskan untuk lebih peduli pondok pesantren

Kementerian PUPR juga menegaskan bahwa apabila terdapat kekhawatiran atau kendala teknis dalam proses pembangunan di pesantren, pihaknya siap memberikan pendampingan dalam hal perencanaan. Ke depannya, kementerian akan mengupayakan penyediaan pelatihan dan sertifikasi kompetensi kerja bagi tenaga konstruksi yang terlibat dalam pembangunan fasilitas pendidikan di pesantren, agar seluruh proses berjalan sesuai dengan standar keselamatan dan mutu yang pemerintah tetapkan.

Baca Juga: Flexing Sedekah di Media Sosial

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses