Edukasi Literasi Keuangan Syariah, Santri Lirboyo Diajak Pahami Investasi Emas

Literasi Keuangan Syariah, Lirboyo Belajar Emas

Lirboyo, Sabtu (24/01/2026) — Pondok Pesantren Lirboyo menggelar Seminar Literasi Keuangan Syariah bekerja sama dengan Pegadaian Syariah, Sabtu pagi. Mengusung tema “Masyarakat Cerdas Keuangan, Mandiri Finansial”, acara ini bertujuan membekali santri dengan pemahaman investasi masa depan yang aman dan sesuai syariat.

Acara yang berlangsung di Lobi Aula Al-Muktamar tersebut dihadiri langsung oleh pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, Bapak. Idris Nawawi, serta Pimpinan Cabang Pegadaian Syariah Pasar Legi Jombang, Ibu Indah Rustimiwati. Rangkaian acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Mushonif, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon yang dipimpin oleh Ustadz Atal Hikam.

Baca juga: Peresmian Gedung Penginapan dan Ekspedisi Pondok Lirboyo

Pesan Pimpinan dan Sinergi Institusi

Dalam sambutannya, Bapak. Idris Nawawi menekankan pentingnya santri memiliki kemandirian finansial yang dikelola secara benar. Beliau menjelaskan pentingnya santri belajar perihal investasi emas.

Seminar inti dipandu oleh moderator Ustadz Habibullah Mahmud dengan menghadirkan narasumber Bapak Putut Pribadi. Dalam pemaparannya, Bapak Putut menjelaskan betapa emas menjadi instrumen investasi yang paling direkomendasikan bagi masyarakat, termasuk kalangan pesantren.

Baca juga: Mencetak Generasi Qur’ani: 1088 Santri Resmi Mengkhatamkan Al-Qur’an Tahun Ini

Keunggulan Emas: Logam Mulia yang “Zero Inflasi”

Dalam sesi materi, Bapak Putut Pribadi menjelaskan secara mendalam mengenai filosofi dan nilai teknis emas sebagai alat penyimpan kekayaan.

“Di Arab Saudi, uang Rupiah mungkin masih laku di tempat-tempat tertentu. Namun di Jepang atau Eropa, Rupiah sulit diterima. Berbeda dengan emas; di mana pun Anda berada, emas memiliki standar internasional dan nilai tukar yang diakui.” Jelas beliau.

Beliau juga memberikan perbandingan historis yang menarik terkait daya beli. “1.400 tahun lalu, Rasulullah memberi sahabat satu dinar (emas seberat 4,25 gram) untuk membeli seekor domba. Hari ini, nilai emas 4,25 gram setara dengan lebih dari 10 juta rupiah. Uang tersebut masih sangat cukup, bahkan berlebih, untuk membeli seekor domba kualitas terbaik. Artinya, daya beli emas tidak berubah selama ribuan tahun” tambah Bapak Putut di hadapan para peserta.

Baca juga: Bersih-bersih masal; Ikhtiar Menuju Lingkungan yang Selalu Nyaman untuk Belajar

Investasi Cerdas dan Aman

Lebih lanjut, Bapak Putut Pribadi memaparkan bahwa emas dipilih karena minim risiko dan mudah dicairkan (liquid). Berbeda dengan properti atau tanah yang membutuhkan waktu lama untuk dijual saat ada kebutuhan mendesak, emas memiliki harga pasti yang bisa dipantau setiap hari.

Dalam kesempatan tersebut, Bapak Putut Pribadi juga menegaskan komitmennya terhadap transparansi transaksi. “Anda bisa membeli emas mulai dari nominal terkecil (0,01 gram) atau sekitar puluhan ribu rupiah. Uang yang Anda setor langsung dikonversi menjadi gram emas di buku tabungan. Nilainya akan mengikuti harga pasar, bukan bunga bank” tegas beliau.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Bapak Rafli Chairil Putra. Dengan terselenggaranya seminar ini, diharapkan para santri dapat menerapkan pola pengelolaan keuangan yang cerdas dan mandiri bagi santri Lirboyo di masa depan.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses