Kuliah Umum: Peran Ma’had ‘Aly dalam Membangun Peradaban Islam dan Kebangsaan Indonesia

Lirboyo, 23 Juli 2025 — Sejak pukul 09.00 WIB, para mahasantri dari Marhalah Ula dan Marhalah Tsaniyah bersama para dosen dan mudir Ma’had Aly Lirboyo memadati Aula Al-Muktamar dalam rangka mengikuti kuliah umum bertema “Peran Ma’had Aly dalam Membangun Peradaban Islam dan Kebangsaan Indonesia.” Antusiasme para peserta semakin tinggi dengan hadirnya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Dr. (HC) Yahya Cholil Staquf — atau yang akrab dengan sebutan Gus Yahya — sebagai keynote speaker dalam acara tersebut.

Sebelum memasuki sesi inti, para hadirin menyanyikan lagu “Indonesia Raya” sebagai bentuk penghormatan dan sikap nasionalisme, kemudian dengan “Yalal Wathon”, dan terakhir “Mars Ma’had Aly” yang menambah semangat ke-NU-an para peserta.

Baca juga: 500 Santri Putri Ikuti Pemeriksaan Kesehatan, Menteri dan Wakil Gubernur Tinjau Langsung

Sambutan KH. Athoilah tekankan khidmah NU sebagai identitas santri

Pondok Pesantren Lirboyo kembali menunjukkan konsistensinya dalam membangun peradaban Islam dan semangat kebangsaan melalui peran Ma’had ‘Aly. Dalam sebuah sambutan hangat, KH. Athoillah S. Anwar selaku Mudir Am (rektor) Ma’had Aly Lirboyo mengingatkan pentingnya loyalitas terhadap Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wujud nyata khidmat santri kepada umat dan bangsa. Karena kalau ditelisik lebih jauh, ternyata para masyayikh Lirboyo pun banyak yang menduduki jabatan penting di NU, baik dari tingkat PBNU, PWNU dan juga PCNU. Bahkan, pendiri Pondok Lirboyo—KH. Abdul Karim pernah menjadi ketua PCNU Kediri pertama dalam sejarah.

Untuk itu, tidaklah mengejutkan ketika beliau memberikan dawuh:

“Kalau kalian semua tidak siap untuk khidmat di NU, terus sampean santrine sopo?” tegas beliau kepada seluruh mahasantri.

Baca juga: Seminar Jam’iyyah Nahdliyah Bertema Filologi Pesantren

Kiprah Lirboyo dalam NU: dari Muktamar hingga kaderisasi

Pesantren Lirboyo telah menjadi bagian penting dari sejarah panjang NU. Salah satu buktinya adalah kesediaan Lirboyo menjadi tuan rumah Muktamar NU tahun 1999, sebuah peristiwa bersejarah yang menunjukkan kedekatan emosional dan ideologis pesantren dengan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.

Tak hanya itu, dalam upaya memperkuat kaderisasi, Lirboyo juga melaksanakan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) sebagai syarat kelulusan jenjang Ma’had Aly Marhalah Ula. Hingga kini, sudah delapan angkatan yang telah mengikuti program tersebut. Baru-baru ini, untuk pertama kalinya pula di Lirboyo terlaksana Pelatihan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU), menegaskan bahwa pesantren ini berada di garda terdepan dalam menyiapkan generasi penggerak NU masa depan.

Baca juga: Praktik Rukyatul Hilal di Pondok Pesantren Lirboyo

Profil singkat KH. Dr. (HC) Yahya Cholil Staquf

KH. Dr. (HC) Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU periode 2022–2027, merupakan salah satu tokoh nasional yang memiliki hubungan erat dengan Lirboyo. Dalam sambutannya, Gus Yahya mengungkapkan bahwa ayah beliau juga mengenyam pendidikan awal di Lirboyo.

Selain itu, Gus Yahya, pernah belajar di Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH. Aly Ma’shum Krapyak, sempat kuliah di jurusan sosiologi dan menerima gelar kehormatan Dr. (HC) dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Katib ‘Aam PBNU, juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan juga pernah menduduki posisi strategis di pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Dengan latar belakang keluarga yang menjadi tokoh-tokoh NU, beliau sering menghadiri acara Muktamar NU yang terlaksana di pelbagai tempat.

“Saya sudah menghadiri Muktamar NU sejak tahun 1979, ketika masih SMP kelas 1,” kenang beliau.

Baca juga: Hari Raya Kurban 2025 di Pondok Lirboyo

Gus Yahya: Lahirnya NU Adalah Jawaban atas Keruntuhan Peradaban Islam Dunia

Ketua Umum PBNU KH. Dr. (HC) Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa berbicara mengenai Nahdlatul Ulama (NU) berarti berbicara mengenai sejarah panjang peradaban Islam global.

Menurut beliau, NU lahir pada saat peradaban Islam berada di ambang keruntuhan, terutama setelah runtuhnya Dinasti Utsmaniyyah yang selama berabad-abad menjadi kiblat politik dan budaya Islam dunia. Keruntuhan tersebut menjadi titik balik yang mengguncang dunia Islam, termasuk para ulama di Nusantara.

Meskipun secara geografis dan politik tidak terkait langsung dengan Dinasti Utsmaniyyah di Turki, Nusantara turut merasakan kekhawatiran atas arah baru dunia Islam. Kekhawatiran itu semakin besar ketika muncul kerajaan baru di wilayah Arab dengan pemahaman Wahabi yang sangat konservatif, yang khawatir akan menggantikan khazanah keislaman yang telah ulama-ulama terdahulu bangun selama berabad-abad.

Baca juga: Daurah Ilmiah Bersama Asy-Syaikh Awad Karim Aqli Sudan

Bermula dari Komite Hijaz

Melihat situasi tersebut, para ulama Nusantara, khususnya di Pulau Jawa, merasa perlu membentuk sebuah organisasi yang dapat menjadi representasi paham Ahlussunnah wal Jamaah yang sesuai dengan nilai-nilai Islam sebagaimana yang Rasulullah SAW ajarkan langsung.

Sebagai respons atas kekhawatiran itu, terbentuklah Komite Hijaz, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama — organisasi keagamaan yang saat ini menjadi yang terbesar di dunia Islam. NU berdiri bukan sekadar untuk mempertahankan tradisi, melainkan sebagai benteng terhadap berbagai pemahaman keagamaan yang menyimpang, sekaligus menjaga keberlanjutan peradaban Islam yang toleran dan kontekstual

Baca juga: Majelis Sholawat Kubro (MASBRO) Perdana

NU: Pilar Peradaban Islam Nusantara

Gus Yahya juga menyinggung kontribusi NU dalam membangun peradaban Islam yang ramah dan inklusif di Indonesia. Beliau menyoroti fakta bahwa 92% umat Islam di Indonesia masih menyambut Maulid Nabi dan 87% masih aktif dalam tradisi tahlilan, sebagai bukti kuat bahwa karakter Islam Nusantara tetap hidup dan dijaga oleh masyarakat.

Menariknya, Gus Yahya juga menjelaskan perbedaan antara Komite Hijaz (cikal bakal NU) dan Komite Khilafah yang dibentuk oleh Saudi pada masa awal abad ke-20. Hal ini menjadi catatan penting dalam sejarah pembentukan NU sebagai respons terhadap ide khilafah yang tidak merepresentasikan semangat lokal dan kebangsaan.

Baca juga: Santri Lirboyo Ikuti Istighotsah Tahun Baru Hijriah di Tiga Lokasi Berbeda

Penutup

Peran Ma’had ‘Aly di lingkungan pesantren Lirboyo tidak hanya melahirkan intelektual keislaman, tetapi juga kader-kader penggerak peradaban yang berakar pada tradisi dan berpijak pada realitas kebangsaan. Dengan fondasi kuat pada nilai-nilai ke-NU-an, Lirboyo terus bergerak membangun Indonesia yang religius, toleran, dan beradab.

 Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses