Lirboyo, Kediri, 13-14 November 2024 – Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) XXVII berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo selama dua hari. 700 santriwati dari 138 pondok pesantren putri se-Jawa dan Madura turut menghadiri dan meramaikan acara ini. Forum ini bertujuan memperkuat peran perempuan sebagai jembatan dalam menyelesaikan problematika sosial dan keagamaan di masyarakat. Sehingga, masyarakat dapat memperoleh jawaban tanpa harus bergantung pada laki-laki.
Baca Juga: Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) Ke-XXVII
Peserta dan Tujuan Acara FMP3 XXVII
FMP3 XXVII ini dihadiri oleh 700 delegasi santriwati dari berbagai pondok pesantren putri di Jawa-Madura. Hal ini menandakan bahwasanya telah banyak sekali Santriwati yang memiliki keilmuan dan pengetahuan yang luas.
Dengan tujuan utama agar perempuan, khususnya para santriwati, dapat memainkan peran penting dalam menyelesaikan masalah sosial keagamaan di masyarakat. Harapannya pada FMP3 XXVII ini menjadi ajang untuk meningkatkan kemampuan para santriwati dalam mengaplikasikan ilmu yang telah mereka pelajari untuk menjawab tantangan yang masyarakat hadapi saat ini.
Pesan Panitia: Meningkatkan Pemahaman Kitab dan Partisipasi FMP3
Panitia FMP3 XXVII menyampaikan pesan agar pondok pesantren putri yang hadir terus bersemangat dalam mendalami kitab-kitab klasik karya ulama. Pengetahuan yang luas adalah hal yang penting sebagai bekal untuk menjawab persoalan keagamaan yang muncul di masyarakat. Selain itu, panitia berharap agar lebih banyak pondok pesantren putri turut serta dalam FMP3 XXVII mendatang, agar peran pesantren putri dalam menyebarkan ilmu agama semakin kuat dan meluas di masyarakat.
Baca Juga: Liputan Lomba MQK ASEAN di Ponpes Lirboyo
Sambutan FMP3 XXVII dari Bapak Fauzi Hamzah
Dalam sambutannya, Bapak Fauzi Hamzah, yang hadir sebagai Musohih, menyatakan bahwa forum ini juga diharapkan dapat menjadi ajang untuk mengingatkan kembali bab-bab fikih yang telah dipelajari para santriwati. Menurutnya, karena banyak hal yang menguras waktu kita untuk memutholaah kitab-kitab yang telah kita pelajari. Maka dari itu forum ini menjadi salah satu perantara untuk menggapai hal itu.
Mauidlotul Hasanah oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus: Peran Wanita dalam Bahtsu Masail
Mauidlotul Hasanah yang disampaikan oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menarik perhatian para peserta. Beliau membahas pandangan mengenai bahtsu masail (diskusi keagamaan) bagi perempuan. Karena ada yang menganggap bahtsu masail bagi perempuan terkadang dia anggap kurang berkembang. Namun, beliau menegaskan bahwa hal tersebut bukan kekurangan, melainkan adanya tanggung jawab lain yang lebih utama bagi perempuan, seperti dalam urusan keluarga.
KH. Abdulloh menyampaikan kisah inspiratif tentang Umi Hani, yang menjawab lamaran Rasulullah dengan berkata “Saya takut tidak bisa memberikah hak Istri kepada suaminya, karena saya memiliki anak.”
Baca Juga: Praktik Rukyatul Hilal di Pantai Molang, Tulungagung, Jawa Timur
Kisah ini, menurut KH. Abdulloh, menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam bahtsu masail tidak harus berkembang seluas laki-laki karena perempuan juga memiliki tanggung jawab keluarga yang besar.
Rumusan Hasil FMP3 XXVII: Tiga Pilar Penting
Pada penutupan FMP3 XXVI, forum ini menghasilkan beberapa rumusan sebagai panduan bagi santriwati dalam menjalankan peran sosial keagamaan di masyarakat. Berikut Hasil Rumusan FMP3 XXVII tersebut:
Komisi A yang menghasilkan 2 rumusan, Komisi B menghasilkan 3 rumusan, sedangkan Komisi C menghasilkan 2 rumusan.
Silahkan Klik di sini bila ingin melihat hasil rumusan FMP3 XXVII




Baca Juga: Kunjungan Wakil Gubernur Bank Indonesia Ke Ponpes Lirboyo
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
