Tasyakuran Kemerdekaan dan Doa untuk Pahlawan

doa untuk pahlawan

Prolog

Tasyakuran Kemerdekaan dan Doa untuk Pahlawan—Malam-malam kita tak bakal seterang ini. Siang hari kita tak bakal sedamai ini. Kita tak bakal bisa belajar dan bekerja dengan baik dan nyaman. Itu jika berpuluh-puluh tahun dulu tak ada yang berjuang dengan gigih, mempertaruhkan darah dan nyawa sendiri, demi kemerdekaan Republik Indonesia.

Begitu kira-kira esensi dari dawuh KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo di even Tasyakuran Kemerdekaan, Rabu (16/08 2024) malam kemarin. Beliau tekankan benar-benar, bahwa jasa para pahlawan tidak bisa kita sampingkan dari kenikmatan-kenikmatan yang kita peroleh sekarang.

Baca juga: Muharram: Bulan Allah dan Tujuh Peristiwa Agung dalam Sejarah Para Nabi

Pesan KH. M. Anwar Manshur tentang kemerdekaan dan jasa pahlawan

“Pesantren kita ikut mengalami masa-masa berat. Paling berat itu pada tahun 1949 (Agresi Militer Belanda ke-2, red). Tapi alhamdulillah, tidak lama kemudian kita diberi kemenangan oleh Allah Swt.,”

Kisah beliau seraya mengingatkan pada hadirin, bahwa kemerdekaan adalah nikmat yang harus kita hargai dengan mahal, terutama oleh para pahlawan.

Baca juga: Karbala, Kemenangan Sejati Sayyidina Husain

Teladan perjuangan Nyai Dlomiroh dan KH. Abdul Karim.

Dari pengingat tentang perjuangan para pahlawan, KH. Anwar kemudian menjelaskan teladan para tokoh pesantren. Beliau menegaskan bahwa siapa pun berhak kita sebut pahlawan. “Dengan perayaan kemerdekaan ini, juga kita niati menghauli Ibu Nyai Dlomiroh (istri muassis Ponpes Lirboyo, KH. Abdul Karim). Beliaulah sosok di balik perkembangan Pondok Pesantren Lirboyo.”

Beliau, Nyai Dlomiroh, berjuang keras menjadi semacam back-up dari KH. Abdul Karim. Pengembangan pesantren, baik berupa pembelian tanah, pengelolaan rumah tangga, ekonomi, pemberdayaan santri, semua oleh beliau tangani.

“Mbah Yai Abdul Karim itu ngaji tok. Kehidupan beliau hanya diisi ngaji. Sejak subuh sampai tengah malam cuma ngaji. Kalaupun ada undangan dari tetangga, itu dihadiri, tapi ketika selesai beliau langsung kembali ke rutinitas ngaji. Kalau cucunya sekarang diundang sekali, libur ngajinya bisa tiga hari,” canda beliau diiringi tawa ringan hadirin.

Baca juga: Tragedi Karbala: Luka Abadi dalam Sejarah Islam

Malam itu, hadirin mendapat pencerahan bahwa siapapun yang belajar, bekerja dengan keras, dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, dia pantas kita sebut pahlawan. “Mbah Abdul Karim mahabbahnya kepada ilmu luar biasa. Beliau ngaji tanpa henti. Ngaji puasa-an bisa sampai hari raya.” Para santri, yang belum bisa mengikuti secara penuh pengajian beliau, biasanya mengambil tempat agak jauh dari tempat beliau membacakan kitab.

“Sedanten niku manggon nang mburi, ben iso ngalih sak wayah-wayah. Terus dilakoni santri sampai saiki, (santri-santri itu bertempat di belakang, agar sewaktu-waktu bisa pulang. Kebiasaan ini terus dilanjutkan oleh santri-santri sekarang),” beliau kembali mengurai canda.

Baca juga: Tahun Baru Hijriah: Sejarah, Penetapan, dan Makna Hijrah

Suasana acara

Acara pembuka pada malam itu berupa bershalawat bersama, lalu KH. M. Anwar Manshur memimpin pembacaan istighatsah. Puluhan ribu santri memenuhi Aula Al-Muktamar yang luas, tetapi aula itu tetap tidak mampu menampung semuanya. Santri pun meluber hingga luar pagar aula. Meskipun duduk di tempat berbeda dan terpisah jarak, mereka tetap merasakan suasana dan kebahagiaan yang sama, serta sama-sama meluapkan rasa syukur tak terhingga atas nikmat kemerdekaan yang Allah anugerahkan kepada bangsa Indonesia.[]

Jangan lupa kunjungi akun media sosial Pondok Lirboyo. FacebookInstagramYoutube.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses