Workshop Jurnalistik Mading Hidayah Lirboyo Bersama Direktur Utama NU Online.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Mading Hidayah Lirboyo kembali menggelar ruang pembelajaran kepenulisan. Jika dua tahun kemarin Mading menamakannya diklat dan tahun kemarin diberi nama seminar, tahun ini acaranya bernama Workshop Jurnalistik.

Dalam mewadahi kegiatan tulis menulis santri, Mading Hidayah yang merupakan badan otonom dari Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadiin. (M3HM) mengundang tutor ternama dari kalangan santri dan berafiliasi di naungan NU.

2 Tutor Workshop

Tutor pertama di kelas jurnalistik adalah Bapak Hamzah Sahal selaku direktur utama Nu Online dan founder Alif.id. Tak hanya menyiapkan kelas jurnalistik, di acara workshop ini Mading Hidayah menyiapkan juga kelas seni. Beberapa santri Lirboyo belajar seni ke Bapak Umar Farq alumni santri Bulus Purworejo Jawa Tengah yang pernah kuliah di Insitut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta. Kedua tutor ini merasakan atmosfer semangat santri dalam workshop itu.

Baca juga: KH. Mahrus dan Kedaulatan NKRI.

Isi dari Workshop Jurnalistik

Bapak Hamzah Sahal menjelaskan bahwa santri sangat pantas untuk berkiprah di luar lewat media tulis menulis. Kata beliau, banyak santri Lirboyo yang justru tulisannya menjadi langganan NU Online dan media-media pesantren di luar Lirboyo.

Mahir berbahasa Indonesia bagi beliau adalah suatu rukun yang harus santri miliki. “Mau tidak mau, suka tidak suka harus belajar bahasa Indonesia” ujar beliau.

Dalam tiga sesi pertemuan di Lirboyo Bapak Hamzah Sahal memberikan banyak ilmu tentang tata cara menjadi penulis, produser film dan wartawan. Di akhir sesi pertama (Kamis sore) dan awal sesi kedua (malam Jum’at) para santri menyaksikan langsung film dokumenter gubahan beliau. Betapa beliau adalah sosok yang santri nyel, dan pesantren sudah mendarah daging di jiwa beliau.

Banyak pesan yang Bapak Hamzah Sahal sampaikan di acara tersebut kepada kisaran 350 santri Lirboyo. Salah satu di antaranya adalah menjadi santri harus mensyukuri apa yang ada di depan kita. Kitab kuning bisa santri jadikan referensi, ustadz bisa santri jadikan rujukan, dan alam sekitar bisa menjadi ta’bir untuk santri jadikan tulisan.

Penjelasan Seni oleh Bapak Umar Farq

Seperti halnya Bapak Hamzah Sahal, Seniman asal Purworejo. Jawa Tengah ini berhadapan langsung dengan para santri dalam mengajarkan bagaimana caranya berkarya walau bukan lewat menulis melainkan via seni lukis.

Sosok yang sudah beberapa kali karyanya terpampang dalam beberapa pameran di Jakarta itu menjelaskan “Karya seni merupakan pemaknaan dari identitas hidup. Dan seniman sangat perlu akan identitas.”

Baca juga: Menirakati Anak yang Mondok agar Betah Dan Sukses.

Harapan Mudir Madrasah akan Acara Workshop

Di sesi pertama, KH Atho’illah Sholahuddin Anwar menekankan kepada santri dalam sambutannya untuk menjadikan tulis menulis sebagai salah satu jalan dakwah di masyarakat. Menurut beliau santri harus mewarnai bergulirnya jurnalistik di Indonesia.

Sebelum doa, Agus Aminullah Mahin juga menyebutkan harapan besar untuk para santri yang ikut workshop dan santri Lirboyo secara umum untuk memperhatikan literasi yang ada di pondok. Beliau mengutip penjelasan yang penuh hikmah. Beliau sarikan penjelasan tersebut kitab Risalat al-Mu’awanah yang kesimpulannya adalah salah satu perkara yang menyebabkan amal seseorang bisa mengalir adalah mengarang kitab. Bisa kita petik bersama bahwa yang paling esensial dalam mengarang kitab adalah cara kita menulis serta menyebarkan tulisan tersebut.

 Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses