Selasa (25/11/25) siang pukul 13.30 WIB, para mahasantri Ma’had Aly Semester VI berkumpul di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo untuk mengikuti Pembekalan Wajib Khidmah. Mereka hadir mengenakan baju putih dan berpeci hitam, berbaris rapi, membawa suasana khidmat namun antusias. Tahun depan, mereka akan memasuki masa wajib khidmah.
Pada periode tersebut, para mahasantri tidak hanya berkhidmah di dalam Pondok Lirboyo maupun Madrasah Hidayatul Mubtadiin. Mereka juga berpeluang betempat di pondok-pondok cabang atau lembaga pendidikan lain yang mengajukan permintaan guru bantu kepada Pondok Lirboyo. Karena itu, pembekalan ini menjadi bekal mendasar agar para calon peserta wajib khidmah memiliki kesiapan mental, intelektual, dan spiritual.
Baca juga: Bedah Buku Kenapa Kita Bermadzhab, Ma’had Aly Lirboyo Kuatkan Pondasi Keilmuan Santri
Acara dibuka oleh pembawa acara, Sdr. Yusaq Al-Kaff, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sdr. Khoirul Umam.
Pendampingan Santri Sepanjang Hayat
Sambutan pertama Agus Aminulloh Mahin sampaikan atas nama Mudir Ma’had Aly Lirboyo. Beliau menegaskan bahwa salah satu keistimewaan menjadi santri adalah selalu berada dalam pantauan dan bimbingan para guru. Pada masa wajib khidmah nanti, para mahasantri tidak akan dilepas begitu saja—mereka tetap akan mendapat bimbingan, pantauan, dan arahan. Bahkan setelah menjadi alumni pun, pengawasan akan berlanjut melalui Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo).
Baca juga: Silaturrohim Khodim Pondok Cabang Lirboyo Bersama Masyayikh
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Fuad Jazuli Ahmad selaku dewan dosen Ma’had Aly semester VI. Beliau menuturkan pengalamannya ketika wajib khidmah pertama kali diberlakukan pada tahun 2016, masa kelulusan beliau. Saat itu banyak penolakan secara batin dari para santri. “Itu wajar,” ujar beliau, “setiap aturan baru pasti memunculkan pergolakan.” Sejumlah penyuluhan kemudian dilakukan, salah guru beliau menyampaikan bahwa kemapanan jiwa tidak akan diperoleh kecuali melalui penekanan hidup.
Beliau memberi contoh konkret: ketika menjadi guru, seseorang akan menghadapi murid terlambat, tidak masuk sekolah, atau bahkan membolos. Semua itu menuntut seorang pengajar untuk turun langsung, mengontrol, dan mencari solusi. Penekanan itulah yang membentuk kedewasaan jiwa.
Baca juga: Halaqoh Ilmiah Bersama Syekh Abu Bakar bin Zein Ar Roqi Bafadhol
Agus HM. Nururrohman Ya’lu, mewakili Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, menambahkan pesan agar para calon peserta wajib khidmah segera mengubah pola pikir negatif sejak dini, sehingga tidak terbawa pada masa pengabdian nanti.
KH. Atho’illah S. Anwar: Jangan Berhenti Belajar
Masuk pada acara inti, KH. Atho’illah S. Anwar memberikan pembekalan utama. Beliau menekankan bahwa santri tidak boleh berhenti dari ta’lim muta’alim—baik belajar maupun mengajar. Menghentikan kegiatan tersebut secara tiba-tiba, kata beliau, ibarat mematikan mesin motor secara mendadak setelah kits pacu jauh atau dengan kecepatan tinggi; akibatnya bisa fatal. Santri terbiasa menghafal, belajar, dan sibuk dengan aktivitas bermanfaat. Jika tiba-tiba berhenti total, itu justru berbahaya bagi mereka.
Baca juga: 733 Santri Lirboyo Siap Berlomba di Festival Ilmiah Haflah Akhirussanah
KH. Atho’illah juga menegaskan agar para mahasantri tidak iri terhadap bentuk khidmah teman-temannya. Dalam sebuah bangunan, tidak semua bagian menjadi genteng. Ada yang menjadi tiang, keramik, fondasi, dan sebagainya. Semua memiliki peran penting sendiri-sendiri yang saling melengkapi.
Beliau memberi perhatian khusus kepada mereka yang mendapat tugas mengajar. Muthala’ah sebelum mengajar adalah kewajiban. Tugas guru tidak hanya memahami pelajaran untuk dirinya sendiri, tetapi juga memastikan peserta didik memahaminya dengan baik. Menjadi mustahiq atau pengajar, tegas beliau, bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga memantau dan mendidik bagaimana seorang murid untuk terus berkembang.
Baca juga: Seminar Jam’iyyah Nahdliyyah II: Kiprah Santri di Era Modernisasi
Beliau menutup dengan pesan agar para peserta wajib khidmah peduli terhadap murid dan lingkungan tugasnya. Apabila ada siswa yang tidak hadir atau pasif, kita harus mencari tahu dan menanganinya dengan bijaksana.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





