Seminar Jam’iyyah Nahdliyah Bertema Filologi Pesantren

Seminar Jam'iyyah Nahdliyah

Lirboyo, Kediri – Pondok Pesantren Lirboyo kembali menggelar Seminar Jam’iyyah Nahdliyah. Yang telah Madrasah Hidayatul Mubtadiin laksanakan setiap tahunnya. Lewat kepengurusan Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadiin atau yang sering disebut dengan M3HM.

Seminar Jam’iyyah Nahdliyah kali ini bertema “Filologi Pesantren: Melintasi Thoriqoh Ta’lim wa Ta’allum Masyayikh Lirboyo”.

Baca juga: Peresmian dan Penyerahan Kamar Daerah di Gedung Al-Ittihad

Acara panitia buka dengan penayangan video dokumenter yang menyoroti sejarah thoriqoh ta’lim wa ta’allum para masyayikh Lirboyo. Kemudian acara berlanjut dengan pembawa acara (MC) yang menggunakan tiga bahasa: Bahasa Indonesia oleh Bahtiar Abroor Ashari, Bahasa Arab oleh Ahmad Zidna Arinal Haq, dan Bahasa Inggris oleh Muhammad Khidir.

Penampilan Multibahasa dan Apresiasi terhadap Guru

Rangkaian penampilan bahasa menjadi ciri khas yang memperkaya acara. Dalam penampilan berbahasa Inggris, para santri menampilkan puisi dan lagu yang mengapresiasi peran guru. Lagu tersebut mereka bawakan dengan iringan nada “Man Ana Laulakum” yang penuh penghormatan. Kemudian lagu My Heart Will Go On dari film Titanic— menjadi lagu kedua yang mereka nyanyikan, sebuah simbol pengorbanan dan ketulusan dalam relasi murid-guru.

Baca juga: Praktik Rukyatul Hilal di Pondok Pesantren Lirboyo

Santri lainnya menampilkan munaqasyah (debat) dalam Bahasa Arab dengan tema kontroversial seputar rokok, yang menambah semarak dan nuansa intelektual dalam kegiatan.

Sambutan Mudir: Bahasa Arab sebagai Bahasa Surga

Dalam sambutannya, Mudir Madrasah Hidayatul Mubtadiin dan Ma’had Aly mengisahkan kunjungan bersejarah dari Syekh Ali Ash-Shobuni yang mempertanyakan kemampuan santri Lirboyo dalam berbahasa Arab. Dari sinilah semangat pelatihan bahasa Arab semakin madrasah gelorakan, mengingat Bahasa Arab adalah lughah ahlul jannah—bahasa para penghuni surga.

Penghargaan Karya Tulis dan Kreativitas Santri

Panitia juga mengumumkan pemenang lomba Mading Hidayah, dengan kategori esai, karikatur, cerpen, dan puisi. Penyerahan hadiah dilakukan oleh Bapak Rifa’i Bahrun sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas literasi santri.

Baca juga: Santri Lirboyo Ikuti Istighotsah Tahun Baru Hijriah di Tiga Lokasi Berbeda

Seminar Bersama KH. M. Ashfiya’ Hamida Mujahid

Acara puncak berupa seminar menghadirkan KH. M. Ashfiya’ Hamida Mujahid, pengasuh Ponpes Miftahul Ulum, Kampungbaru, Tanjunganom, Nganjuk. Sedangkan yang memandu Seminar adalah Ust. Khoirul Khitam Sudarji.

Dalam pemaparan beliau menjelaskan bahwa filologi berasal dari kata philos (cinta) dan logos (kata), yang bermakna kecintaan terhadap kata dan makna, khususnya yang mengandung nilai-nilai personal maupun institusional.

Baca juga: Workshop Jurnalistik Mading Hidayah Lirboyo Bersama Direktur Utama NU Online.

“Meski saya adalah alumni tahun 1976 dari Lirboyo, saya tetap berharap diakui sebagai santri Lirboyo. Karena filologi bukan sekadar kajian teks, tapi keberkahan yang diwariskan lewat thoriqoh para masyayikh,” ujar KH. Ashfiya’.

Beliau juga mengutip dawuh dari Mbah Yai Karim dan Mbah Yai Mahfudz yang mewasiatkan pentingnya kembali ke pesantren untuk ngaji, bukan sekadar pulang kampung:

“Wes to cah, nek muleh ojo lali ngaji. Nek ora iso mangan ketoken kupingku.”

Dialog Santri: Menghidupkan Tradisi Ilmu

Dialog interaktif antara santri dan pemateri turut meramaikan suasana. Salah satu pertanyaan menarik adalah mengapa lalaran harus kita lakukan, dan beliau menjawab bahwa karena lalaran adalah bagian dari thoriqoh ta’lim wa ta’allum yang menanamkan hafalan melalui pengulangan.

Pertanyaan lainnya menyentuh aspek filosofis: tentang perbedaan antara kebenaran dogmatis dan ilmiah dalam konteks belajar di pesantren.

Baca juga: Hari Raya Kurban 2025 di Pondok Lirboyo

Penutup: Mahalul Qiyam

Acara Seminar Jam’iyyah Nahdliyah panitia tutup dengan pembacaan mahalul qiyam, karena sebagai simbol kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dan keberkahan ilmu. Seluruh santri dan tamu undangan berdiri penuh khidmat, menutup hari dengan semangat baru dalam meneladani thoriqoh masyayikh.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses