Hari Santri Nasional: Mari Renungkan Perjuangan Pesantren Lirboyo di Masa Penjajahan

Sejak tahun 2015, setiap tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Penetapan ini berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015, yang ditandatangani langsung oleh Presiden ke-7, Ir. H. Joko Widodo, di Masjid Istiqlal Jakarta.

Peringatan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap para santri dan pesantren yang telah berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jauh sebelum Republik ini berdiri, pesantren telah menjadi pusat peradaban pendidikan dan moral bangsa. Banyak pesantren berdiri ratusan tahun silam, seperti Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu Kebumen yang berdiri pada tahun 1475 M, serta Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon pada tahun 1705 M. Fakta ini menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga benteng peradaban Nusantara.

Baca juga: Adab Sebelum Ilmu: Ruh Penghormatan Santri kepada Kiai

Pesantren Lirboyo: Dari Pendidikan ke Medan Perjuangan

Salah satu pesantren yang turut menorehkan sejarah emas perjuangan bangsa adalah Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri. Berdasarkan catatan sejarah, pesantren ini tidak hanya mencetak ulama dan cendekiawan, tetapi juga melahirkan pejuang-pejuang tangguh yang turut mengusir penjajah dari bumi pertiwi.

Dalam artikel yang pernah diterbitkan di website ini dengan judul “KH. Mahrus Aly dan Kedaulatan NKRI” disebutkan bahwa KH. Mahrus Aly, salah satu tokoh sentral Lirboyo, merupakan figur ulama pejuang yang secara nyata berkontribusi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: Biografi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: Wafatnya Sang Quthb al-Ghauts

Latihan Militer dan Strategi Perlawanan

Ketika Jepang berkuasa di Indonesia, KH. Mahrus Aly sempat bergabung dalam pasukan Kamikaze (tentara berani mati), bukan untuk tunduk pada penjajah, melainkan untuk mempelajari taktik perang mereka. Ilmu tersebut kemudian digunakan sebagai bekal bagi perjuangan melawan penjajahan.

Pada tahun 1943–1944, di Pesantren Lirboyo diadakan latihan militer bagi para santri. Pelatihan ini merupakan bagian dari strategi terselubung untuk mempersiapkan Indonesia menuju kemerdekaan. Di waktu yang sama, di Kediri juga telah terbentuk barisan Hizbullah di bawah pimpinan KH. Zainal Arifin.

Baca juga: Tahun Baru Hijriah: Sejarah, Penetapan, dan Makna Hijrah

Proklamasi dan Aksi Pelucutan Tentara Jepang

Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, kabar gembira itu segera sampai ke Lirboyo melalui Mayor Mahfudl Abdul Rachim Pratalikrama. Bersama KH. Mahrus Aly, mereka bersepakat melakukan aksi berani: melucuti tentara Jepang di Kediri.

Malam itu, 440 santri di bawah komando KH. Mahrus Aly dan Mayor Mahfudl bergerak menuju markas Kempetei di Jalan Brawijaya. Setelah strategi disusun dan posisi lawan diketahui, serangan dilakukan pada pukul 01.00 dini hari. Meskipun senjata para santri sangat sederhana, pasukan Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat.

Senjata rampasan yang mencapai satu truk penuh kemudian diserahkan KH. Mahrus Aly kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR)—cikal bakal Kodam V Brawijaya.

Baca juga: Rabi‘ul Akhir: Bulan yang Mengusir Bani Nadhir

Resolusi Jihad dan Pertempuran 10 November

Setelah Indonesia merdeka, perjuangan belum berakhir. Ketika Sekutu yang diboncengi Belanda hendak kembali menjajah Indonesia, KH. Mahrus Aly bersama para ulama Nahdlatul Ulama menggelar Kongres NU di Surabaya pada 21–25 Oktober 1945, yang melahirkan Resolusi Jihad. Resolusi ini menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah kewajiban kolektif (fardhu ‘ain) setiap individu orang muslim tatkala musuh berada dalam radius 94 Kilo Meter.

Sebanyak 97 santri Lirboyo diberangkatkan ke Surabaya dengan senjata bambu runcing dan senjata tradisional. Mereka tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah, dan berhasil merebut sembilan pucuk senjata musuh. Pergantian pasukan dilakukan secara bergelombang hingga pecah pertempuran 10 November, di mana Jenderal Inggris A.W.S. Mallaby tewas.

Selain perjuangan fisik, KH. Mahrus Aly juga memimpin gerakan batin berupa doa dan wirid bersama agar para pejuang diberi keteguhan iman. Gerakan ini berpusat di Lirboyo dan Manukan, Jabon, Kediri, dengan melibatkan para santri serta anggota Hizbullah dan Sabilillah.

Baca juga: 4 Peristiwa Penting di Bulan Rabiul Awwal

Dukungan Masyarakat dan Perjuangan Lanjutan

Dalam masa revolusi fisik, KH. Mahrus Aly juga menggerakkan masyarakat Kediri untuk menyumbangkan 10% dari hartanya guna mendukung perjuangan para santri. Dukungan tersebut diserahkan langsung ke kediaman beliau di Lirboyo, sebagai bentuk solidaritas rakyat terhadap perjuangan kemerdekaan.

Setelah pertempuran di Surabaya mereda, para santri kembali ke pesantren. Namun semangat juang mereka tidak pernah padam. Saat Agresi Militer II Belanda tahun 1948, KH. Mahrus Aly kembali mengirim santrinya, antara lain Syafi’i Sulaiman, Muhid Ilyas, Muhammad Masykur, dan Mahfudl AK, yang bergabung dengan Batalyon 508 (Gelatik) di bawah komando Mayor Mahfudl. Batalyon ini menjadi cikal bakal Kodam VII Brawijaya (kini Kodam V Brawijaya).

Sebagai penghargaan atas jasa dan dedikasinya, KH. Mahrus Aly diangkat sebagai penasehat Kodam V Brawijaya dan dihormati sebagai sesepuh militer hingga akhir hayatnya.

Baca juga: Momentum Kelahiran Nabi: Menumbuhkan Spirit Keteladanan

Warisan Perjuangan dan Keteladanan

Hingga usia senjanya, KH. Mahrus Aly tidak pernah berhenti menanamkan semangat perjuangan kepada para santri dan masyarakat. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menegaskan bahwa kemerdekaan harus dijaga dengan iman, ilmu, dan keberanian.

Bahkan, dalam acara haul ke-35 Jenderal Sudirman dan reuni Batalyon 508 di Tulungagung, pidato KH. Mahrus Aly yang berapi-api membuat banyak veteran ABRI meneteskan air mata, mengenang masa-masa perjuangan.

Ketika beliau wafat, satu Batalyon Brigif 521 beserta aparat kepolisian turut mengawal prosesi pemakamannya—sebagai penghormatan terakhir untuk seorang ulama pejuang bangsa.

Baca juga: Rahasia Keistimewaan Kemerdekaan Indonesia Tanggal 17 Agustus

Penutup

Perjalanan panjang perjuangan Pesantren Lirboyo menunjukkan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi juga benteng moral dan perjuangan bangsa. Dari santri-santri yang tekun mengaji, lahir pejuang-pejuang yang rela berkorban demi tegaknya NKRI.

Semangat jihad, cinta tanah air, dan keikhlasan KH. Mahrus Aly serta para santri Lirboyo menjadi teladan abadi bagi generasi santri masa kini:
Bahwa santri bukan hanya penghafal kitab, tetapi juga penjaga negara dan penegak martabat bangsa.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *