Seperti yang kita ketahui, Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 M. Jika kita lihat dari kalender Hijriyah, maka bertepatan dengan hari Jumat, 09 Ramadan 1364 H. dengan kata lain, ketika Bung Karno membacakan teks proklamasi di hadapan ribuan manusia dalam keadan puasa.
Baca juga: Muharram: Bulan Allah dan Tujuh Peristiwa Agung dalam Sejarah Para Nabi
Mengapa memilih tanggal 17 Agustus
Menurut catatan NU Online dalam artikel KH M. Hasyim Asy’ari dan Kisah Penentuan Hari Kemerdekaan, menjelang proklamasi 17 Agustus 1945, Bung Karno sempat sowan kepada KH. M. Hasyim Asy’ari untuk meminta nasihat mengenai hari yang tepat bagi proklamasi. Kiai Hasyim memberikan masukan agar memproklamasikan kemerdekaan pada hari Jumat di bulan Ramadhan, karena Jumat adalah sayyidul ayyam (penghulu hari) dan Ramadhan adalah sayyidus syuhur (penghulu bulan).
Hal ini sejalan dengan catatan Aguk Irawan MN dalam Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari (2012). Ia menuliskan bahwa pada awal Ramadhan 1364 H (sekitar 8 Agustus 1945), utusan Bung Karno datang menemui KH. Hasyim untuk menanyakan hasil istikharah para kiai tentang penentuan hari proklamasi. Setelah musyawarah dan munajat bersama, para kiai memutuskan tanggal 9 Ramadhan 1364 H bertepatan dengan Jumat, 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan.
Simboliknya, angka sembilan dipandang sebagai numerik tertinggi, Jumat sebagai penghulu hari, dan Ramadhan sebagai penghulu bulan. Pada hari bersejarah itu, Bung Karno bersama ribuan rakyat yang sedang berpuasa mengangkat tangan berdoa memohon keberkahan bagi bangsa.
Tak lama kemudian, sahabat KH. Hasyim semasa belajar di Makkah, yakni Syekh Muhammad Amin al-Husaini, Mufti Palestina, menjadi tokoh luar negeri pertama yang memberi dukungan terhadap proklamasi Indonesia. Adapun naskah proklamasi sendiri disusun dini hari 17 Agustus 1945 di rumah Laksamana Tadashi Maeda, ditulis oleh Soekarno, M. Hatta, dan Achmad Soebardjo, serta disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah, Sudiro (Mbah), dan Sayuti Melik.
Baca juga: Karbala, Kemenangan Sejati Sayyidina Husain
Keistimewaan hari jumat
Di sisi lain, dalam Islam, Jumat memiliki banyak keistimewaan sehingga memiliki julukan sebagai sayyid al-Ayyam (rajanya hari), selain itu, pada hari itu juga terdapat banyak peristiwa bersejarah dalam peradaban dunia. Dalam hadis yang tertuang dalam Sunan Ibn Majah berupa:
«إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الْأَيَّامِ، وَأَعْظَمُهَا عِنْدَ اللَّهِ، وَهُوَ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ، فِيهِ خَمْسُ خِلَالٍ: خَلَقَ اللَّهُ فِيهِ آدَمَ، وَأَهْبَطَ اللَّهُ فِيهِ آدَمَ إِلَى الْأَرْضِ، وَفِيهِ تَوَفَّى اللَّهُ آدَمَ، وَفِيهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا الْعَبْدُ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ حَرَامًا، وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَةُ، مَا مِنْ مَلَكٍ مُقَرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيَاحٍ وَلَا جِبَالٍ وَلَا بَحْرٍ إِلَّا هُنَّ يُشْفِقْنَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ».
“Sesungguhnya hari Jumat adalah penghulu segala hari, dan hari yang paling agung di sisi Allah. Ia lebih agung di sisi Allah daripada Hari Idul Adha dan Hari Idul Fitri. Pada hari itu terdapat lima peristiwa: Allah menciptakan Nabi Adam, Allah menurunkan Nabi Adam ke bumi, Allah mewafatkan Nabi Adam, pada hari itu terdapat satu waktu di mana seorang hamba tidak memohon sesuatu kepada Allah kecuali Allah memberinya, selama ia tidak meminta sesuatu yang haram, dan pada hari itu pula terjadi kiamat. Tidak ada malaikat yang dekat (kepada Allah), tidak ada langit, tidak ada bumi, tidak ada angin, tidak ada gunung, dan tidak ada lautan, melainkan semuanya merasa takut terhadap hari Jumat.” [Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Yazīd bin Mājah al-Qazwīnī, Sunan Ibn Mājah, taḥqīq Shu‘aib al-Arna’ūṭ, (Beirut: Dār al-Risālah al-‘Ālamiyyah, Cet. I, 1430 H/2009 M). 2/185]
Baca juga: Tahun Baru Hijriah: Sejarah, Penetapan, dan Makna Hijrah
Keistimewaan bulan Ramadan
Selain jatuh pada hari Jumat, proklamasi juga berlangsung pada bulan Ramadan. Dalam Islam, Ramadan merupakan sayyid al-syuhūr (penghulu bulan), bulan penuh keberkahan, pengampunan, dan turunnya Al-Qur’an dan banyak memiliki keistimewaan. Oleh sebab itu, kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada hari Jumat di bulan Ramadan mengandung makna spiritual yang sangat mendalam bagi bangsa Indonesia.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





