Hubungan Orang Tua dan Anak; Pesan KH. Abdulloh Kafabihi

Hubungan Orang Tua dan Anak kebersihan

Dalam sebuah kesempatan acara pada tanggal 27 Desember 2018, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menyampaikan dawuh tentang hubungan anak dengan orang tua. Beliau menjelaskan bahwasanya izin kepada orang tua adalah hal yang sangat penting untuk kita lakukan. KH. Abdulloh Kafabihi menyampaikan pesan dari ayah beliau bahwasannya untuk bepergian ke tempat yang dekat sudah selayakny kita harus meminta izin orang tua.

“Kata orang tua saya KH. Mahrus Aly: Anak bila mana berpergian, baik jauh atau dekat, supaya izin kepada orang tua. Supaya dapat ridho dan doanya.”

Baca juga: Keteladanan Mbah Kyai Abdul Karim dalam Mencari Ilmu, Dawuh KH. AHS. Zamzami Mahrus

Izin kepada orang tua bukan sekadar formalitas belaka, melainkan kunci terbukanya ridho dan doa dari orang tua. Banyak dari kita tergesa melangkah jauh, namun lupa satu langkah kecil yang justru menentukan arah: yakni mengetuk pintu restu dan izin orang tua.

Bilamana Anak Menyakiti Orang Tuanya

Kemudian beliau juga menyampaikan bahwasannya orang tua akan sangat merasa sakit bilamana anaknya yang menyakitinya.

“Orang tua itu bila mana disakiti dengan anak sakitnya tidak karuan. Sebab yang meneruskan perjuangan orang tua itu anak.”

Kalimat ini menyingkap luka yang sering tidak kita lihat. Sakitnya orang tua bukan selalu pada tubuh, tetapi pada hati dan harapan orang tua. Anak adalah pioner yang melanjutkan perjuangan orang tua. Tidak heran jika rasa sakit itu “tidak karuan”; sebab yang disakiti adalah masa depan yang seharusnya menjadi penerus mereka.

Baca juga: KH. An’im Falahuddin Mahrus: Ciri Orang Munafik dan Akhlak sebagai Cermin Kejujuran Iman

“Anak itu diakui atau tidak tetap saja anak. Misalkan orang tua mempunyai anak yang nakal, tidak (dia) akui. Tetap saja (itu) anaknya.”

Kisah Al Qomah yang Durhaka

KH. Abdulloh Kafabihi kemudian menuturkan kisah seorang sahabat bernama Al Qomah. Ketika menjelang wafat, Al Qomah mengalami kesulitan luar biasa dalam menghadapi sakaratul maut. Rasulullah ﷺ lalu bertanya kepada para sahabat, “Ini ibunya ada atau tidak?”

Lantas Sahabat menjawab, “Masih Ya Rasulullah.”

Ibunya pun dipanggil. Rasulullah bertanya kepada sang ibu,

“Kamu mau apa tidak mengampuni anakmu Al Qomah?”

Ibunya menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.” Sebab Si Ibu menganggap dosanya besar.

Baca juga: Ilmu sebagai Jalan Kemuliaan: Dawuh KH. AHS Zamzami Mahrus

Mendengar itu, Rasulullah ﷺ bersabda tegas,

“Kalau kamu tidak mengampuni, maka Al Qomah akan saya bakar — daripada dia diadzab oleh Allah dengan api neraka yang pedih.”

Mendengar ancaman tersebut, sang ibu tak tega. Ia pun memaafkan anaknya dengan sepenuh hati. Saat itulah Al Qomah dapat menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang.

Cerita ini menegaskan kembali tentang betapa pentingnya peran orang tua dalam kehidupan seorang anak. Karena tanpa ridho darinya maka anak akan kesusahan bahkan dalam tarikan nafas terakhirnya.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

One thought on “Hubungan Orang Tua dan Anak; Pesan KH. Abdulloh Kafabihi

  1. Apa hukum menghajr (tidak mengajak bicara) orang tua yang sering melakukan dosa besar?
    Dan bagaimana caranya kita bersikap selaku anak kepada orang tua. Karena sudah kita berikan nasehat tapi tidak kunjung di dengar oleh mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses