Tag Archives: orang tua

Hukum Mendahulukan Haji Orang Tua

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dilihat dari segi finansial, saya adalah orang yang terbilang mampu. Namun bagaimanakah hukumnya ketika saya mendaftarkan haji untuk kedua orang tua saya sementara saya sendiri belum menunaikan ibadah haji? Mohon penjelasannya ustad.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ghufron, Kebumen Jawa Tengah)

_____________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Ibadah haji merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim yang mampu untuk menunaikannya. Namun banyak ditemukan persoalan seorang anak yang mampu mendaftarkan haji orang tuanya, sementara ia sendiri belum pernah menunaikan haji. .

Dalam persoalan ini, ketika seseorang telah mencapai batas mampu untuk menunaikan haji, dia diperbolehkan untuk mengakhirkan dengan syarat ada keyakinan bahwa ia masih mampu dan berniat menunaikan haji di tahun-tahun berikutnya. Sebagaimana Imam Ibnu Hajar menjelaskan:

وَهُمَا عَلَى التَّرَاخِيْ بِشَرْطِ الْعَزْمِ عَلَى الْفِعْلِ بَعْدُ …لَا يَجُوْزُ تَأْخِيْرُ الْمُوَسَّعِ إِلَّا إِنْ غَلَبَ عَلَى الظَّنِّ تَمَكّنُهُ مِنْهُ

Haji dan Umroh kewajibannya melonggar (tidak harus dilaksanakan seketika) dengan syarat ada niat untuk menunaikannya di waktu mendatang…. Begitu pula tidak boleh mengakhirkan sesuatu yang longgar (pelaksanaannya) kecuali ada dugaan kuat bahwa ia masih mampu untuk melakukannya.”[1]

Meskipun diperbolehkan dengan syarat tersebut, namun hukumnya makruh karena ada unsur mendahulukan orang lain dalam hal ibadah. Sebagaimana dalam kaidah fikih: .

اَلْإِيْثَارُ بِالْقُرْبِ مَكْرُوْهٌ

Mendahulukan orang lain dalam hal ibadah hukumnya makruh.”[2]

[]WaAllahu a’lam


[1] Tuhfah Al-Muhtaj, vol. IV hlm. 5, CD. Maktabah Syamilah.

[2] Al-Asybah Wa An-Nadhair, hlm. 180.

Dawuh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus: Keagungan Orang Tua

Ridho Allah dihubungkan dengan ridho orang tua, begitu pun murkanya, itu menandakan betapa agungnya kedua orang tua.

Sangat rugi bila mana orang yang mempunyai kedua orang tua namun tidak birrul walidain dan tidak berbakti kepada kedua orang tuanya.

Jangan sampai kita berkata yang menyakiti orang tua.

Hendaknya, kita berbicara dengan suara yang lebih pelan dari pada orang tua.

Secara fikih tidak apa-apa berpendapat dihadapan orang tua, Namun sahabat Abdullah bin Umar ra. karena saking wira’inya, beliau sampai tidak berani menyampaikan pendapat kepada ayahnya yakni, sayyidina Umar bin Khottob, saat sang ayah mengajak ia dan adiknya, Ubaidillah bin Umar, untuk bermusyawarah. Sahabat Abdullah bin Umar ra. menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada sang ayah.

Wali Uwais al Qorni (Pembesar Tabi’in) ini hidup pada zaman Rasulillah, namun saat akan sowan Rasulillah ini tidak jadi sebab khidmahnya kepada sang ibu. Beliau khidmah luar biasa kepada ibunya sehingga beliau menjadi wali besar.

Makan yang hati-hati, sebab apa yang kita makan akan berdampak pada perilaku kita serta anak turun kita.

Walaupun orang itu sukses, walaupun orang itu alim, namun bila mana tidak menghargai orang tua, tidak ngabekti (berbaktipada orang tua ini percuma, sebab ridho Allah di situ

ُمَا تَ الْإِنْسَانُ عَلَى مَا يَعِيْش

“Manusia mati itu biasanya sesuai dengan kehidupannya”

-Disampaikan saat Majelis Sholawat Kubro, 27 Desember 2018, di aula Al Mu’tamar.(IM)

Sosok Ibu; Antara Peran dan Simbolisme Tahunan

Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt telah berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu,” (QS. Luqman: 14).

Penetapan 22 desember sebagai Hari Ibu merupakan salah satu momentum bagi umat untuk mengingatkan kembali atas segala perjuangan dan pengorbanan seorang ibu. Meskipun secara formalitas hari Ibu bukan tergolong dalam hari libur nasional, namun esensi yang termuat di dalamnya jauh lebih penting dibandingkan yang lain.

Adapun hal yang terpenting dalam konteks ini adalah penerapan untuk menghargai dan menghormati jasa dan pengorbanan sosok ibu dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kehadiran Hari Ibu benar-benar dapat dirasakan kemanfaatannya, bukan sebatas euforia dan simbolisme tahunan belaka.

Derajat Mulia Bagi Insan Mulia

Sebuah realita yang tak terbantahkan, bahwa jasa dan pengorbanan kedua orang tua sangatlah luar biasa, terutama seorang ibu. Bahkan begitu besar apa yang telah dilakukannya seakan tak mampu dibalas dengan apapun, bahkan dunia dan dan seisinya.

Sebagai agama yang paripurna, Islam sangat mengapresiasi jasa dan pengorbanan seorang ibu. Oleh karena itu, tidak asing lagi keberadaan dalil-dalil nash syariat yang menjelaskan tentang kemuliaan dan keluhuran derajatnya.

Diceritakan dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah Ra:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوكَ

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. Lantas ia bertanya; wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak untuk diperlakukan baik di antara manusia?. Beliau menjawab; Ibumu. Laki-laki itu kembali bertanya; kemudian siapa?. Beliau menjawab; Ibumu. Laki-laki itu kembali bertanya; kemudian siapa?. Beliau menjawab; Ibumu. Laki-laki itu kembali bertanya; kemudian siapa?. Beliau menjawab; Ayahmu”.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang Ibu dalam Islam harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Namun bukan berarti hadis ini merupakan bentuk diskriminatif terhadap sosok ayah, karena dalam penutup hadis tersebut menyebutkan kata “Ayah” yang juga harus diperlakukan sebagaimana terhadap sosok ibu. Hanya saja, hadis ini sebatas menjelaskan keutamaan seorang ibu dalam satu sudut pandang tertentu.

Sahabat Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ

Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu,”.

Dalam kitab Faidh Al-Qodir III/361, dijelaskan mengenai penjelasan hadis sahabat Anas bin malik tersebut. Bahwasanya melayani dan menghormati seorang ibu akan memudahkan seorang anak untuk mendapatkan ridhonya. Dan atas dasar ridho seorang ibulah yang menjadikan sebab keridhoan Allah Swt atas surga bagi anak tersebut.

Kewajiban untuk menghormati sosok ibu tersebut sejalan dengan sebuah hadis yang dikutip oleh argumentator Islam, Al-Ghazali, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin II/217:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حَقِّ الْوَالِدِ عَلَى الْوَلَدِ أَنْ يُحَسِّنَ أَدَبَهُ وَيُحَسِّنَ اِسْمَهُ

Rasulullah Saw bersabda; sebagian dari hak orang tua yang wajib bagi anaknya adalah memperbaiki tata krama kepadanya serta memanggilnya dengan sebutan yang baik,” (HR. Baihaqi).

Bagaimana Menghormati Sosok Ibu?

Sebesar apapun balasan kebaikan yang dapat diberikan seorang anak, tentu tidak akan mampu menyamai jasa pengorbanan seorang ibu. Namun setidaknya, seorang anak senantiasa selalu berusaha dengan berbagai hal. Salah satunya adalah dengan membantu meringankan bebannya, menghormati dan melayaninya, dan membuatnya selalu bahagia. Selain itu yang terpenting adalah mendoakan sosok ibu, untuk yang satu ini diklaim lebih bermanfaat kepadanya, baik yang masih hidup ataupun yang telah tiada. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا   

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya  kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sakali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkatan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil,” (QS. Al-Isra’: 23-24).

Walhasil, Islam sebagai norma dan etika sangat mengapresiasi kehadiran sosok ibu. Karena diakui ataupun tidak, segala jasa dan pengorbanannya telah menjadikan cikal bakal peradaban umat manusia. Tanpa kasih sayang ibu, manusia tak akan ada. Begitu juga tanpa menghormati ibu, manusia tak akan mulia.

[]waAllahu a’lam