Kejujuran adalah ajaran dasar dalam agama Islam, tetapi tidak semua orang mampu menjaganya dalam keadaan sulit. KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menyampaikan sebuah teladan penting dari kehidupan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang menunjukkan betapa besar pengaruh pendidikan ibu dalam membentuk akhlak seorang anak.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dikenal sebagai sosok yang sangat patuh kepada ibunya. Dari ketaatan itulah lahir pendidikan akhlak yang kuat, terutama dalam hal kejujuran. Sejak kecil, beliau sudah dibiasakan untuk selalu berkata benar, apa pun keadaannya.
Baca juga: Hubungan Orang Tua dan Anak; Pesan KH. Abdulloh Kafabihi
KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menyampaikan:
“Ibunya mendidik jujur. Ketika Sayyidina Abdul Qadir al-Jailani berpergian akan menuntut ilmu, dipesan oleh ibunya supaya jujur.”
Pesan ini sederhana, tetapi menjadi pegangan hidup. Kejujuran tidak hanya kita laksanakan saat aman, tetapi juga saat menghadapi bahaya. Hal ini terlihat ketika Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mengalami perampokan di perjalanan.
Baca juga: Keteladanan Mbah Kyai Abdul Karim dalam Mencari Ilmu, Dawuh KH. AHS. Zamzami Mahrus
Beliau mengisahkan:
“Sehingga ketika Sayyidina Abdul Qadir al-Jailani dirampok. Ini mengaku, dia dibawai bekal oleh ibunya demikian disini. (Beliau) mengaku, jujur, tidak menipu.”
Secara akal, kejujuran seperti ini tampak merugikan. Namun justru dari kejujuran itulah Allah mengangkat derajat beliau.
Pandangan Ulama terhadap Kejujuran
KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus kemudian menjelaskan bahwa dalam fikih, dusta dalam untuk kemaslahatan itu boleh.
Beliau berkata:
“Walaupun goroh (atau) dusta itu li maslahat (untuk kemaslahatan) Inda fikih (menurut fikih) tidak apa-apa.”
Namun, jalan tasawuf memiliki tuntutan yang lebih tinggi. Seorang sufi tidak hanya mengejar yang boleh, tetapi mengejar yang lebih bersih bagi hati.
Baca juga: KH. An’im Falahuddin Mahrus: Ciri Orang Munafik dan Akhlak sebagai Cermin Kejujuran Iman
Karena itu beliau menegaskan:
“Namun inda sufi berbeda lagi, supaya kita menghindari goroh. (Karena) ini ada hubungannya dengan keluhuran derajat.”
Dari dawuh ini kita belajar bahwa kejujuran bukan hanya soal hukum halal dan haram, tetapi soal kualitas batin. Kejujuran menjaga hati tetap jernih dan menjadi sebab terangkatnya derajat seseorang di sisi Allah. Sebagaimana yang Sayyidina Abdul Qadir Al-Jailani contohkan kepada kita.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





