Doa merupakan inti ibadah dan manifestasi paling jujur dari penghambaan kepada Rabb-nya. Dalam Islam, doa tidak hanya permohonan, tetapi juga sebagai sarana perubahan,bahkan terhadap qadar (ketetapan Allah). Konsep ini sering menimbulkan pertanyaan: apakah doa memang bisa mengubah takdir Qadar?
Pengertian Qadar dan Hubungannya dengan Doa
Dalam islam, takdir terbagi menjadi 2, yakni Qada’ dan Qadar. secara mendetail, Qada’ adalah ketetapan Allah yang ada sejak zaman Azali. masa sebelum segala sesuatu tercipta, termasuk manusia, di mana Allah SWT telah menetapkan takdir Qada’ bagi seluruh makhluk-Nya, seperti rezeki, jodoh, dan kematian, yang semuanya tertulis di Lauhul Mahfudz.
Berbeda dengan Qada’, Qadar adalah menifestasi dari takdir yang masih bisa berubah dan bisa manusia upayakan dengan usaha dan Doa. Qada’ dan Qadar adalah perwujuduan dari Takdir/ketetapan Allah SWT, dan manusia wajib mengimaninya sebagai bagian dari Rukun Iman. Salah satu cara agar kita bisa mengimaninya adalah berdoa untuk takdir baik dan menjadi lebih baik.
Baca Juga: Meraih Keberkahan Waktu dengan Doa dan Dzikir
Dalil Al-Qur’an tentang Kekuatan Doa
Allah ﷻ berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ
Artinya :“Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan).”(QS. Ghafir: 60)
Ayat ini menunjukkan bahwa doa bukan sekadar ritual, tetapi sarana yang Allah Janjikan kepada hambanya untuk menghasilkan perubahan nyata. dan Allah juga akan mengabulkan semua permintaan(selagi itu adalah hal yang baik), Dan Qadar juga termasuk kedalamnya, karena Allah menegaskan kekuasaan Allah dari surat Ar-Ra’d ayat 39:
يَمْحُوا اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُ وَيُثْبِتُۚ وَعِنْدَهٗٓ اُمُّ الْكِتٰبِ ٣٩
Artinya :“Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Di sisi-Nyalah terdapat Ummul-Kitāb (Lauh Mahfuz).”(QS. Ar Ra’d: 39)
Baca Juga: Bulan Rajab dan Kesadaran Diri: Doa dan Dzikir sebagai Jalan Kembali
Hadits Nabi ﷺ tentang Doa dan Qadar
Rasulullah ﷺ bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ
Artinya :“Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada yang dapat menolak ketetapan (qadhā’) kecuali doa.”[¹ Abū ‘Īsā Muḥammad bin ‘Īsā al-Tirmiżī, al-Jāmi‘ al-Kabīr (Sunan al-Tirmiżī), tahqīq dan takhrīj oleh Bashshār ‘Awwād Ma‘rūf. hal. 18 juz. 4]
Hadits ini menjadi dasar utama dan alasan bahwa doa memiliki peran aktif dalam perjalanan hidup seorang hamba.
Baca Juga: Menyambut Bulan Rajab dengan Doa-Doa Keselamatan di Dunia dan Akhirat
Hikmah di Balik Doa sebagai Pengubah Qadar
- Menegaskan rububiyyah Allah – bahwa hanya Dia yang berkuasa mutlak.
- Melatih tawakal – berserah diri tanpa meninggalkan usaha.
- Menghidupkan harapan – bahkan dalam kondisi paling gelap.
- Mendidik adab kehambaan – merasa butuh dan bergantung kepada Allah.
Penutup
Doa bukanlah penyangkalan terhadap qadar, melainkan bagian dari kebesaran Allah. Allah menetapkan takdir sekaligus menetapkan sebab-sebabnya, dan doa adalah sebab terbesar yang diberikan kepada manusia. Dengan doa, seorang hamba tidak melawan kehendak Allah, tetapi justru berjalan di dalam sistem ketetapan-Nya.
Maka, ketika menghadapi takdir yang berat, Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa harapan, tetapi mengajarkan untuk berdoa dengan keyakinan, karena di situlah letak kedahsyatan doa sebagai pengubah qadar.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
