Keteladanan Mbah Kyai Abdul Karim dalam Mencari Ilmu, Dawuh KH. AHS. Zamzami Mahrus

Mbah Kyai Abdul Karim

Di antara sekian banyak kisah ulama salaf Nusantara, perjalanan hidup Mbah Kyai Abdul Karim adalah potret ketekunan yang nyaris terasa “tidak masuk akal” bagi generasi serba instan di hari ini. Kisah ini KH. AHS. Zamzami Mahrus sampaikan sebagai kisah yang memberikan pelajaran hidup dengan nilai yang mahal harganya.

“Mbah Abdul Karim itu mencari ilmu dengan susah payah. Mbah Abdul Karim mondok itu lama sekali.”

Kalimat ini membuka tabir bahwa ilmu, dalam tradisi pesantren, bukan hasil yang kilat buah dari kecerdasan, melainkan hasil istiqamah dalam kesusahan yang panjang. Mondok lama bukan karena lambat menerima pelajaran, tetapi karena sabar menunggu ilmu benar-benar matang dan juga karena bentuk kecintaan terhadap proses mencari ilmu.

Baca juga: KH. An’im Falahuddin Mahrus: Ciri Orang Munafik dan Akhlak sebagai Cermin Kejujuran Iman

Mbah Kyai Abdul Karim Berangkat Mondok

Perjalanan beliau menuju Bangkalan, kepada Syaikhona Kholil, sudah mendapat ujian sejak langkah pertama.

“Beliau mondok ke Bangkalan, ke Syaikhona Kholil, dari rumahnya (Mbah Kyai Abdul Karim) mau ke Bangkalan, beliau punya uang sedikit. Kalau naik kendaraan, maka nggak bisa beli kitab. Kalau beli kitab, maka nggak naik kendaraan.”

Dilema ini sederhana, tetapi sangat menentukan: memilih kenyamanan perjalanan atau bekal ilmu. KH. Abdul Karim memilih yang kedua.

Kesusahan di Pondok

Kesusahan itu tidak berhenti di situ, kesusahan itu berlanjut sampai di pondok.

“Waktu di pondok juga begitu, kangelan (kesusahan) banget. Nggak ada yang meseli (wesel: kiriman uang).”

Tanpa kiriman, tanpa jaminan, tanpa sandaran materi. KH. Abdul Karim memanfaatkan waktu liburan bukan untuk bersantai, melainkan untuk mecari bekal mencari  ilmu.

“Kalau liburan itu derep, derep itu panen padi sebagai buruh, nanti dikasih padi persenan padi.”

Baca juga: Ilmu sebagai Jalan Kemuliaan: Dawuh KH. AHS Zamzami Mahrus

Buruh tani di masa liburan—itulah “beasiswa” beliau. Padi beliau bawa pulang sebagai bekal hidup dan belajar. Namun yang paling menyentuh justru terjadi ketika kembali ke Bangkalan.

“Nanti pulang bawa padi, setelah pulang ke Bangkalan/ke pondok, sama Syaikhona Kholil di papak dulu –dulu nama Mbah Abdul Karim adalah Manab- ‘Nab, Manab, ayam saya lama nggak makan.’ Diminta berasnya sama Syaikhona Kholil diminta. Sebagai gantinya Mbah Yai Abdul Karim dihalalkan memakan bentis atau mengkudu di dekat rumahnya Syaikhona Kholil.”

Padi hasil jerih payah beliau berikan seluruhnya kepada guru. Tidak menawar, yang ada hanyalah adab. Dan sebagai gantinya, Syaikhona Kholil menghalalkan memakan buah —bentis atau mengkudu. Bahkan, Kesederhanaan hidup beliau –bagi kita- mencapai titik yang nyaris ekstrem.

Baca juga: Menjaga Kebersihan Hati sebagaima Dawuh KH. Abdulloh Kafabihi

“Mbah Abdul Karim –kabarnya- itu pakainnya hanya satu, sarungnya satu. Kalau dicuci, (beliau) kumkum di belumbang nunggu sampai keringnya, dan nunggu sambil menghafal Alfiyah.”

Satu sarung, satu pakaian. Dicuci, ditunggu kering, sambil menghafal Alfiyah. Waktu tidak dibiarkan kosong, bahkan saat menunggu pakaian kering. Jika hari ini kita menunggu, sambil scrool sosmed, KH. Abdul Karim menunggu sarung kering sambil menguatkan hafalan. Bukan perbedaan tipis, ini perbedaan yang jauh dan tentunya hasilnya juga jauh.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses