Apa Itu Diyatsah? Mengenal Sosok Suami yang Tidak Punya Rasa Cemburu dalam Islam

diyatsah cemburunya suami

Tentu kita masih terbayang betapa teduhnya sosok suami yang menjaga kehormatan istrinya dengan penuh kasih sayang dan rasa cemburu yang sejalan dengan syariat Islam. Namun, bagaimana jika potret ideal itu pudar? Bagaimana jika pelindung yang seharusnya menjadi benteng ketaatan, justru membiarkan pintu fitnah terbuka lebar di rumahnya sendiri?

Dalam khazanah Islam, ada sebuah istilah yang menggetarkan hati bagi setiap lelaki yang memiliki muruah (kehormatan diri), yaitu Diyatsah. Fenomena ini bukan sekadar ketidakpedulian biasa, melainkan sebuah penyakit hati yang bisa meruntuhkan keberkahan bahtera rumah tangga.

Baca juga: Rasulullah, Khadijah, dan Aisyah: Cinta Tak Bisa Kau Salahkan

Apa Itu Diyatsah?

Imam Tajuddin al-Subki (w. 771 H) dalam kitabnya yang terkenal Jam’u al-Jawami’ yang selalu santri-santri salaf kaji mengutarakan bahwa salah satu dosa besar adalah Diyatsah.

Secara sederhana, Diyatsah adalah kondisi di mana seorang suami tidak memiliki rasa cemburu (ghirah) terhadap istri atau keluarganya. Sosok ini biasa ulama sebut sebagai dayyuts—ia yang mengetahui adanya kemungkaran atau perilaku tidak terpuji pada keluarganya, namun memilih menutup mata dan membiarkannya.

Syariat kita yang agung hadir untuk menjaga nasab dan kehormatan. Allah Swt. telah menetapkan batasan yang tegas untuk menjaga kesucian hubungan manusia. Membiarkan istri atau keluarga kita bersama orang bukan mahram adalah kekeliruan, apalagi tidak terbesit rasa cemburu dalam hati.

Baca juga: Spek Wanita Idaman dalam Kacamata Tasawuf

Cemburu yang Diperbolehkan

Mungkin sebagian dari kita menganggap cemburu adalah bumbu pertikaian. Namun, dalam porsi dan posisi yang lain, cemburu adalah refleksi dari ketaatan jika kita sertai dengan pengetahuan akan syariat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda saat para sahabat heran dengan besarnya rasa cemburu Sa’ad bin Ubadah:

“Apakah kalian heran dengan cemburunya Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya, dan Allah lebih cemburu daripadaku…”

Suami yang memiliki ghirah akan memastikan istrinya berpakaian sesuai syariat, menjaga pergaulannya dengan lawan jenis, dan tidak membiarkan kecantikan sang istri menjadi konsumsi publik. Sebaliknya, suami yang kehilangan rasa ini—menurut Imam Al-Ghazali—adalah ia yang jiwanya telah “mati” sebelum jasadnya.

Baca juga: Makna Surga Istri Tergantung Keridaan Suami

Jangan Sampai Menjadi Suami yang Dayyuts (Tidak Punya Rasa Cemburu)

Menjadi suami yang tidak punya rasa cemburu bukan hanya masalah sosial, tapi masalah keselamatan di akhirat. Berikut adalah konsekuensi berat bagi seorang Dayyuts:

  • Terhalang dari Surga: Terdapat keterangan dalam hadis sahih ada tiga golongan yang tidak akan Allah lihat pada hari kiamat, salah satunya adalah Dayyuts.

ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة: العاق لوالديه، والمرأة المترجلة، والديوث

“Ada tiga golongan yang tidak akan Allah Azza wa Jalla lihat pada hari kiamat: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki (tashabbuh), dan dayyuts (suami yang tidak memiliki rasa cemburu/membiarkan kemaksiatan pada keluarganya).” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i)

  • Merusak Nasab: Ketika ghirah melemah pada lelaki, maka penjagaan diri pada perempuan pun akan ikut melemah. Hal ini berisiko mencampuradukkan nasab dan merusak tatanan keluarga.
  • Kehilangan Wibawa: Suami yang membiarkan istrinya mempertontonkan aurat atau berinteraksi bebas dengan lelaki asing akan kehilangan harga diri di mata manusia dan Sang Pencipta.

Tantangan Zaman: Media dan Lunturnya Ghirah

Tantangan hari ini terasa lebih berat. Seringkali, media sosial dan tayangan hiburan tanpa sadar “mendidik” para suami untuk menjadi permisif.

Kita melihat fenomena di mana suami justru bangga memamerkan kecantikan istrinya yang berpakaian terbuka demi likes dan followers. Ada pula suami yang tenang-tenang saja saat istrinya secara terang-terangan mengagumi sosok publik figur lelaki lain di hadapannya. Inilah “racun” diyatsah yang dikemas dalam bungkus modernitas dan kebebasan.

Baca juga: Ketika Ulama Madzhab Syafi’iyyah Membicarakan Definisi Cantik

Istri: Mengembalikan Fitrah Pelindung

Jika seorang suami mulai kehilangan rasa cemburunya, apa yang harus istri lakukan?

  1. Mengingatkan dengan Lembut: Ingatkan suami bahwa tugas kepemimpinannya adalah menjaga keluarga dari api neraka sebagaimana tertuang dalam QS. At-Tahrim ayat 6.
  2. Menjaga Diri Secara Mandiri: Jangan menunggu suami menegur untuk menutup aurat atau menjaga pergaulan. Kesadaran istri seringkali menjadi cermin bagi suami untuk kembali memiliki ghirah.
  3. Doa yang Tak Putus: Mohonlah kepada Allah agar suami, Allah berikan hati yang hidup, yang cemburu karena Allah, dan yang rida hanya pada ketaatan.

Baca juga: Ayat Pukul Istri Sering Disalahpahami—Ini Penjelasan Ulama

Kesimpulan

Rumah tangga yang berkah bukan hanya terbangun di atas cinta, tapi di atas kehormatan (izzah) yang mempunyai dasar ilmu. Suami adalah penjaga pintu surga bagi keluarganya. Tanpa rasa cemburu yang benar, rumah tangga kehilangan kompas spiritualnya.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses