Menjaga Kebersihan Hati sebagaima Dawuh KH. Abdulloh Kafabihi

Hubungan Orang Tua dan Anak kebersihan

KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dalam sebuah mau‘izhah, mengingatkan kepada para santri bahwa perjalanan menuntut ilmu itu menuntut keseriusan, kedisiplinan, dan—yang paling penting—kebersihan hati.

Baca juga: KH. Anwar Manshur: Keikhlasan Mengajar dan Warisan Ilmu

Beliau membuka dawuh dengan menyinggung tentang betapa mudahnya manusia tergelincir pada perbincangan yang tidak bermanfaat. Bahkan sahabat Nabi pun pernah Allah tegur ketika perbincangan mereka melampaui batas kewajaran. Dalam mau‘izhah tersebut beliau menyampaikan:

“Jangan ngobrol yang tidak-tidak. Pernah suatu saat sahabat itu ngobrol yang tidak-tidak ya, guyon. Lantas turun ayat;

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Apakah belum saatnya orang-orang yang beriman hatinya khusuk untuk zikir kepada Allah SWT.”

Baca juga: KH. Nurul Huda Ahmad: Ikhtiar Santri dan Kedalaman Tikror

Ayat ini menjadi penegas bahwa hati yang condong kepada permainan dan kelalaian tidak mungkin mencapai kekhusyukan. Beliau menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar hasil kerja nalar fikiran, akan tetapi karunia Allah yang hanya turun kepada hati yang layak menerimanya:

“Dan mencari ilmu ini tidak hanya mengandalkan Dzohir saja. Bahkan batin itu lebih penting. Ilmu merupakan nurullah dan nurullah itu hanya mau bertempat di hati yang bersih, hati yang baik. Jauh dari khasat, riak, wujud, dan lain-lain.”

Baca juga: Adab sebagai Ruh Ilmu: Dawuh KH. Abdulloh Kafabihi

Menjaga Kebersihan menurut Ulama Sufi

KH. Abdulloh Kafabihi melanjutkan, bahwasanya kebersihan batin ini menurut para sufi adalah ekspansi dari prinsip kebersihan dalam Islam:

“Ilmu tidak mau bersinggah di hati yang kotor. Maka kebersihan hati kalian sebaiknya diperhatikan.”

“النَّظَافَةُ مِنَ الْإِيمَانِ

Ini oleh orang-orang sufi ditarik (maknanya) yaitu kebersihan dalam hati.”

Namun, karena syariat memberikan kerangka hukum yang objektif, kebersihan lahir juga tetap tidak boleh kita tinggalkan:

“Ikhlas secara fikih, -Fikihkan mbahas-nya dzohir-,

نَحْنُ نَحْكُمُ بِالظَّوَاهِرِ

Maka dzohir juga bersih. Dengan arti, kalau dzohir saja dibersihkan, -diperhatikan kebersihan dzohir(nya)-. (maka) Apalagi kebersihan batin (nya), ini harus lebih diperhatikan.”

Baca juga: Agus Abdul Mu’id Shohib: Mengamalkan Ilmu: Menjaga Ilmu

Beliau menutup bagian ini dengan penegasan bahwa kebersihan hati secara mutlak hanyalah milik para nabi dan rasul. Bahkan ulama dan para wali pun tidak memiliki jaminan absolut dalam kebersihan hati:

“Misalkan (menjaga kebersihan hati), (itu dengan) jauh dari riak, khasad, iri, dengki, dan lain-lain. Hati bersih itu hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul. Adapun ulama (atau) walaupun ulama, (atau) walaupun auliya, ini tidak mungkin jaminan hatinya bersih.”

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses