Tag Archives: dawuh

Birrul Walidain akan Mendatangkan Anak Turun Menjadi Baik

Birrul Walidain akan Mendatangkan Anak Turun Menjadi Baik | KH. M. Anwar Manshur

Orang tua Anda merawat Anda itu mulai dari Anda masih dalam kandungan. Sampai sekarang masih dirawat. Ini seyogyanya Anda renungkan. Jangan mudah “Nggudo” kepada orang tua.

Kesulitannya orang tua itu sudah luar biasa. Anda digendong orang tua anda dalam kandungan selama sembilan  bulan. Setelah 9 bulan, masih dirawat lagi 2 tahun. Ini Anda renungkan. Jangan sampai Anda menyakiti hati orang tua.

Oleh karena itu, dosanya seorang anak yang berani kepada orang tua itu besar sekali.

Soalnya orang tua kesulitannya seperti itu. Anda akan merasakannya, karena Anda juga akan menjadi orang tua.

Jadilah orang yang Tawadu’, rendah hati, patuh kepada kedua orang tua. Seseorang ketika “berbuat baik kepada orang tua” hidupnya itu bahagia. Sungguh.

baca juga: Perintah Rasulullah Untuk Para Pelajar
baca juga: Cara Bersyukur Seorang Pelajar

Rizkinya diberi kecukupan oleh Allah Swt. Oleh karena itu Anda di pondok diajari supaya benar-benar bisa membahagiakan hati orang tua.

Legakan perasaannya. Masya Allah itu sudah yang paling baik.

Jangan menjadikan orang tua marah.

Birrul walidain itu seperti itu. Tujuan Birrul Walidain itu membahagiakan hati orang tua. Jangan sampai menyakiti hati orang tua.

Meskipun Anda repot seperti apa, ketika diperintah orang tua Anda harus menuruti. Kalau Anda bisa seperti itu, masya Allah. Anak turun Anda menjadi orang yang baik semua. Sungguh.[]

baca juga: REARTIKULASI DAWUH “SING MEMPENG”
tonton juga: MAJELIS SHOLAWAT KUBRO #1

Reartikulasi Dawuh “Sing Mempeng”

Reartikulasi Dawuh “Sing Mempeng”

Saya pikir daripada mengutip satu pepatah tentang ilmu yang berserakan dalam buku-buku dan kitab klasik sebagai penghias ‘tulisan’ saja akan lebih berguna dan sedikit lebih ‘ilmiah’ jika mencoba mengejawantahkan kembali makna (reartikulasi) salah satu pepatah populer: sing mempeng, lek!

Sering kali setelah teman-teman sowan kepada Kyai Anwar Mansur dan juga kyai-kyai lainnya saya bertanya nasihat yang disampaikan beliau, jawaban yang dilontarkan pun selalu saja sama, sing mempeng atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan ilmu dan pelajaran sekolah seperti bagaimana hafalanmu?

Dalam sebuah studi tentang niat, ulama tasawuf dan juga Abraham Maslow, seorang pakar psikologi, dalam bukunya “Psikologi Tentang Pengalaman Religius” mewanti-wanti agar jangan sampai sebuah ritual ibadah bertransformasi menjadi sebuah kebiasaan karena hal tersebut dapat menghilangkan makna dan kesakralannya sehingga ‘nol’ secara spiritual, layaknya tubuh yang telah kehilangan jiwanya.

Bukan artinya melakukan ibadah secara kontinu dianggap salah karena angapan tersebut akan menyalahi sabda Nabi Muhammad SAW, “Amal paling baik dilakukan adalah apa yang dijalankan terus-menerus.” Melainkan, ‘jangan sampai kegiatan sakral yang sering dilakukan kehilangan maknanya karena telah menjadi kebiasaan.’

Coba periksa lagi pengalaman-pengalaman religius yang kamu lakukan, kehilangan maknanya atau tidak? Siapa tahu salat yang dilakukan hanya sebatas ucapan dan gerakan-gerakan lahiriah saja tanpa ada kesakralan makna spiritual di dalamnya. Hati-hati.

Kalau dihubungkan dengan teori di atas, boleh jadi dawuh sing mempeng yang sering kali dilontarkan pun dianggap sebagian atau bahkan kebanyakan santri sebagai suatu hal yang klise dan tidak berarti banyak (meaningless) karena telah kehilangan maknanya. Apalah arti sebuah kata bagi seorang pembaca bila telah kehilangan maknanya. Dari titik inilah reartikulasi dawuh tersebut mulai tampak dibutuhkan.

Pemaknaan secara tepat

Secara literer, sing mempeng adalah sebuah nasihat jawa yang terdiri dari dua kata, sing dan mempeng. Dalam Bahasa Indonesia “sing” artinya adalah yang, sementara “mempeng”  adalah sungguh-sungguh, rajin dan sebagainya-hasil wawancara dengan salah satu orang Jawa Tengah-sehingga bisa dipahami maksud dari sing mempeng adalah bersungguh-sungguh.

Sebenarnya, dari makna sederhana ini pun sudah terdapat indikasi betapa berkobarnya api semangat thariqah ta’lim wa ta’allum guru-guru kita. Sebab, dawuh tersebut bisa mengarah kepada keduanya sekaligus (ta’lim wa ta’allum) bergantung pada siapa yang mendapat nasihat: pelajar atau pengajar, dalam arti lain, sifatnya subjektif.

Namun demikan, tulisan ini mencoba untuk juga memahami variabel-variabel yang terlibat dalam dawuh sing mempengagar emas  (makna) yang didapat kualitasnya lebih tinggi lagi.

baca juga: SEMANGAT BARU BERKAT DAWUH MASYAYIKH

Pembagian secara variabel

Variabel pertama, dawuh sing mempeng berkaitan dengan ilmu yang keutamaanya bahkan mampu membuat malaikat mengakui keistimewaan dan kompetensi manusia pertama, Nabi Adam As. Untuk menjabat sebagai khalifah di muka bumi. Jadi, karena dawuh tersebut adalah sebuah usaha menstimulus jalan mencari ilmu, kemuliannya pun tentu setara tujuannya.

 Variabel kedua, dalam sebuat riwayat hadis dikatakan:

إِنَّمَا العِلمُ بالتَعَلُّم

(Ilmu hanya dapat dihasilkan melalui jalur belajar)

Maka, dawuh sing mempeng merupakan realisasi hadis tersebut karena memang tujuan utamanya adalah mendorong santri agar mau bersungguh-sungguh belajar.

Dengan melihat makna literer dan variabel-variabel yang potensial dihasilkan selain dua variabel di atas, jelas sudah bahwa nilai dan makna yang terkandung dalam dawuh sing mempeng ‘bukan kaleng-kaleng’, bagi siapapun yang berusaha menggali makna dan mengamalkannya.

Kesimpulan

Sebagai penutup, dalam kitab adab al-dunya wa al-din terdapat satu cerita yang sekoridor dengan inti pembahasan tulisan ini. Dikatakan bahwa seorang bijak ditanya oleh masyarakat, mana yang lebih baik ilmu atau harta? Seorang bijak menjawab ilmu. Namun, ia suguhi fenomena banyaknya ulama yang berdiam diri di depan pintu rumah saudagar kaya sedang tidak ada satupun saudagar kaya yang berdiam di depan rumah ulama.

Sang bijak menjawabnya satir, itu karena ulama tahu bahwa harta memiliki nilai sedangkan saudagar kaya tidak memahami pentingnya ilmu. Ia tidak paham maknanya. Wallahu a’lam.

tonton juga: Nasionalisme Religius | Ensiklopedia Buku Lirboyo

Reartikulasi Dawuh “Sing Mempeng”

Source:

Ar-Razi, Fakhruddin. Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, tt.
Al-Mawardi. Adab Al-Dunya wa al-Din.
Al-Nawawi, Muhyidin. Riyadh al-Sholihin. Maktabah As-Salam
Maslow, Abraham. Psikologi Tentang Pengalaman Religius.

Penulis: Muhammad Alfan (Ma’had Aly Semester I)

Kebesaran Hati Ibunda KH. Abdul Karim

KH. Abdul Karim ketika masih muda biasa disebut Mbah Manab, menjadi kyai besar seperti itu karena apa?

Kisah ini bermula ketika Ibunda KH. Abdul Karim ditinggal wafat oleh suaminya, kemudian berjualan di pasar.

Ketika beliau mendapatkan keuntungan, beliau tukarkan keutungan itu untuk membeli sebuah kain. Di mana kain tersebut sudah sangat lama diinginkan oleh beliau.

Pada suatu saat, beliau berjalan di samping rumah tetangganya dan mendengar suara tangis dari tetangganya tersebut. Kemudian beliau menghampiri dan menanyakan: “Kenapa menangis yu?”

Tetangganya menjawab: “Ini, saya itu habis melahirkan, bapaknya tidak bisa membeli apa-apa, sekarang pergi ke sawah mencari kerja, tidak tau sudah dapat atau belum. Sedangkan pakaianku tinggal satu kain saja, kalau saya pakai, anak saya kedinginan, kalau saya gunakan untuk dibuat selimut anak saya, saya tidak memakai pakaian.”

Ibunda KH. Abdul Karim kemudian teringat bahwa beliau telah membeli kain baru. Beliau kemudian pulang mengambil kain yang sangat disukainya, yang baru dipakai dua tiga kali saja.

Kain tersebut diambil, kemudian diantarkan dan beliau berkata: “Ini pakai saja, kainmu yang lama gunakan untuk anakmu.”

Seketika saja, waktu itu orang yang ditolong menangis terharu sambil mengatakan: “Terimakasih, semoga kamu dibahagiakan oleh Allah SWT lewat anakmu, sebabnya saya susah karena anak, dan kamu menlongnya.”

Bisa saja do’a tersebut diamini oleh Malaikat.

Allah SWT mengabulkan do’a tersebut dan Ibunda KH. Abdul Karim dikaruniai putra yang namanya telah masyhur dengan sebutan KH. Abdul Karim Lirboyo.

***

Dari sini dapat diambil ibroh bahwa salah satu sebab KH. Abdul Karim bisa menjadi orang yang tinggi derajatnya di sisi Allah SWT terdapat perantara kebesaran hati ibundanya yang menolong tetangga yang tidak memiliki pakaian. Di mana beliau memberikan sehelai kain yang sangat beliau suka. Amal-amal seperti ini yang terkadang menjadi sebab seseorang dikaruniai anak yang sholeh. Karena Allah berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92).[]

Disampaikan oleh KH. M. Abdul Aziz Manshur

baca juga: KH. ABDUL KARIM ( 1856 – 1954 )
tonton juga: Kebesaran Hati Ibunda KH. Abdul Karim | KH. M. Abdul Aziz Manshur

Haul Masayikh Lirboyo dan Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailany

Haul Masayikh Lirboyo dan Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailany

Kamis, 10 Juni 2021 | Pondok Pesantren Almahrusiyyah III Ngampel, menggelar Haul Masayikh Lirboyo dan Pembacaan Manaqib Sayyidina Syekh Abdul Qodir al-Jailany secara Virtual.

Acara ini dihadiri oleh para Habaib di antaranya Habib Mustofa bin Abdullah al-Haddar, Habib Mustofa bin Muhammad al-Jufri, Habib Ahmad Mustofa al-Haddar dan Pengasuh Pondok Pesantren al-Mahrusiyyah Lirboyo, KH. Reza Ahmad Zahid, dan KH. Melvin Zainul Asyikin.

Perhelatan majlis merupakan agenda tahunan dalam rangka berkirim do’a untuk segenap kaum Muslimin dan Muslimat, juga kepada kedua orang tua, para guru, khusunya para masayikh Lirboyo.

Susunan acara pada malam Jum’at tersebut diawali dengan pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailany, dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Diba’, dan disambung dengan pembukaan acara. Disusul juga sambutan dari Sohibul Bait Agus Haji Nabil Ali Ustman.

Beliau berharap dengan barakah pembacaan manaqib ini, wabah yang sedang melanda dapat segera selesai, juga bagi para santri diberikan dikelancaran dan kemudahkan dalam mencari ilmu.

Setelah sambutan selesai, acara ini kemudian dilanjutkan dengan mauidoh hasanah yang di bawakan oleh Habib Mustofa bin Muhammad al-Jufri.

Mauidhoh

Dalam mauidhohnya, beliau menukil perkataan dari salah seorang ulama;

ثَلَاثَةٌ لَابُدَّ أَنْ تَسْتَقِرَّ فِي ذِهنِكُمْ

“Tiga perkara yang hendaknya senantiasa ada dalam fikiran kalian.”

1. لَا نَجَاةَ مِنَ المَوْتِ

“Tidak ada yang selamat dari kematian.”

Beliau (Habib Mustofa) memaparkan dengan sangat jelas keterangannya bahwa setiap yang hidup pasti akan mengalami kematian, dan jika hari ini kita (red. kita sebagai orang yang masih hidup) mendoakan orang-orang yang telah meninggal, maka kita juga akan dido’akan oleh orang-orang setelah kita.

2. لَا رَاحَةَ فِي الدُّنْيَا

“Dunia bukanlah tempat untuk bermalas-malasan.”

               Hal ini ditekankan oleh beliau khususnya bagi para pelajar untuk tidak diperbolehkan bermalas-malasan dalam mencari ilmu. Orang akan sukses ketika ia bersungguh-sungguh dalam pencariannya. Pesan beliau ini memunculkan semangat baru dalam diri para pelajar.

3. لَا سَلَامَةَ مِنَ النَّاسِ

“Tidak manusia yang selamat dari godaan manusia.”

               Maqolah ini sangat tepat untuk dijadikan tameng menjaga semangat santri dalam mecari ilmu. Bahwa seseorang pasti, dan tidak akan pernah luput dari godaan manusia. Di antara godaan manusia yaitu adanya pro-kontra. Ada yang mendukung dan ada yang bertolak belakang, walaupun bagi orang-orang yang sedang menuntut ilmu.

               Ketika ada hal-hal yang tidak disukai kita—akan pendapat orang lain, hal ini bisa dikatakan wajar. Maka langkah yang baik adalah ketika seseorang beramal harusah diniati karena Allah Swt. bukan yang lain.

               Acara ini ditutup dengan bacaan do’a, kemudian disambung penampilan dari hadroh Al-Mahrusiyyah.[]


Simak acara lebih lengkap di Haul Masayikh Lirboyo & Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir | Lirboyo AL-Mahrusiyah
Baca juga: Pondok Pesantren Lirboyo Al-Mahrusiyah

Memiliki Santri Ibarat Rizki

Dalam pembukaan Bahtsul Masail Kubra (BMK) dan Bahtsul Masail Himasal kemarin (22/03), KH. M. Anwar Manshur, selaku pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo menyampaikan beberapa pesan untuk generasi penerus pendidikan salaf. Menurut beliau, membangun lembaga pendidikan berbasis salaf memiliki “rahasia” tersendiri. Tidak mudah dan tidak bisa sembarangan. Apalagi diteorikan.

“Pondok itu ndak bisa dibangun. Tidak seperti madrasah, kalau madrasah, kita membangun madrasah itu bisa. Kalau membangun pondok pesantren tidak bisa, (sebab itu merupakan) fadhlun minallah. Kalau sudah mendapat jatah mempunyai pondok, dimana saja akan diikuti santri. Beda dengan madrasah, kita bisa mendirikan madrasah (dimana saja). Maka sing nduwe pondok sing tenanan. Sebab itu amanah dari Allah, menyampaikan syari’at agama islam kepada masyarakat kita.” Tutur beliau.

Salah satu kelebihan Indonesia, menurut beliau, adalah mudah dan gampangnya menyebarkan ilmu. Siapapun bisa dan berhak menyebarkan ilmu yang dimiliki tanpa harus mengantongi izin dari pemerintah. Siapapun memiliki kebebasan untuk mengajar di institusi pendidikan yang dibangunnya tanpa ada aadministrasi yang berbelit-belit.

Sing akeh pondok pesantren yo ning Indonesia, sing paling akeh yo ndik Jowo. Di luar negeri jarang (ada) pondok pesantren yang seperti di Indonesia. Alhamdulillah, di Indonesia paling enak. membuat pendidikan di Indonesia paling enak. Tetangga kita saja, Malaysia, Singapura, membuat pendidikan harus ada izin dari pemerintah. Kalau tidak ada izin, dibubarkan. Seperti di Saudi Arabia, ora gampang wong mulang! Makanya kita sangat bersyukur sekali bertempat di suatu negara yang toleransi. Murah, ora enek wong nduwe pendidikan dilarang. Nek dilarang yo malah diperkoro.” (Kalau ada yang membuat pendidikan di Indonesia dan dilarang, justru akan menjadi masalah.) ungkap beliau.

Beliau juga berpesan, kepada segenap pengelola pendidikan untuk bisa menjaga kerukunan dan keharmonisan. Sebab menurut beliau, santri ibarat rizki yang diberikan oleh Allah SWT, dan bukan sesuatu yang bisa dicari. Santri akan datang sendiri, bukan dicari.

“Ojo tukaran! Santri dadi kiai kok tukaran. Kabeh nduwe jatah dewe-dewe. Wis koyo rizki ngoten niku, iki sugih yo ojo didrengkeni, iki ra patek nduwe yo ojo dilok-lokno. Dadi, santri niku koyo rizki, saestu niku. Nek rizkine santri katah, ndeliko nyangdi wae yo diuber kaleh santri.”

(Jangan sampai bertengkar, santri jadi kiai kok bertengkar. Semua sudah memiliki bagian masing-masing. Ibarat rizki, kalau ada yang kaya jangan dengki, dan kalau ada yang kurang mampu jangan dihina. Jadi, memiliki santri ibarat rizki. Kalau rizkinya santri banyak, sembunyi dimanapun akan dicari oleh santri.)

Terakhir, beliau menekankan tentang perlunya mengajar kepada siapapun, walaupun murid yang dididik hanyalah seorang anak kecil. Sebab, justru itulah salah satu yang paling besar pahalanya dimata Allah SWT.

“Min afdholil ‘ibâdah tarbiyyatul banin wal banât. Ngopeni bocah-bocah cilik sing durung iso salat, durung iso moco fatehah. Dibenerno salate, (dibenerno) fatehahe. Niku mni afdholil ‘ibâdah. Ojo disepelekno. Nek (bocah-bocah cilik) niku mboten diramut, dadi nopo niku mangke? Mulane diramut, men dadi wong sing ngerti ngibadah mangke dadi wong apik. Niku kewajiban awake dewe.”

(Termasuk ibadah yang paling utama adalah mendidik anak-anak. Memperhatikan anal-anak yang masih kecil, belum bisa salat, belum bisa membaca fatihah. Salatnya dibetulkan, fatihahnya dibetulkan. Itu termasuk ibafah yang paling utama. Jangan sampai disepelekan. Kalau anak-anak kaecil itu tidak dididik, jadi apa mereka nantinya? Maka dari itu, dididik, agar bisa menjadi orang yang tahu akan ibadah, dan kelak menjadi orang yang baik. Itulah kewajiban kita.)[]