Pendahuluan
Senin, 2025-04-21 Perayaan hari kartini merupakan bukti bahwa Indonesia sangat menghargai perempuan. Peran perempuan memang mempunyai nilai tersendiri baik dalam skala kecil maupun besar, tak terkecuali dalam lingkup Negara Indonesia yang sangat besar ini.
RA Kartini adalah simbol perjuangan wanita Indonesia, khususnya Jawa, dalam memperoleh persamaan hak antara laki-laki dan perempuan pada abad ke-19. Saat itu, emansipasi wanita berada pada titik nadir. Perjuangannya dinilai berhasil dan karenanya ia ditetapan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 dan hari kelahirannya; 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.
Dengan mengacu pada peran Kartini yang berhasil membuktikan bahwa wanita juga layak untuk ikut memperjuangkan persamaan hak antara lelaki dan wanita, banyak wanita zaman sekarang yang mempunyai pemikiran bahwa mereka juga layak untuk menjadi wanita karir dan pekerjaan lain yang dahulu kala sedikit dari golongan mereka yang melakukannya.
Lalu, bagaimana pandangan Islam tentang perjuangan meraih emansipasi wanita tersebut?
Baca juga Sejarah Pembangunan Masjid Nabawi Madinah
Hari Kartini
Dalam islam, sejak dahulu, wanita sangat memiliki pengaruh penting dalam perjuangan agama islam. Pada waktu itu, Sayyidah Khadijah telah habis-habisan dalam membantu dakwah islam dengan hartanya. Beberapa abad setelah itu, ada Fathimah al-Fihri yang menjadi pelopor berdirinya Universitas tertua islam di Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko. Jadi, sangat pantas sekali jika kehadiraannya dirayakan sebagai hari spesial.
Pandangan islam mengenai emansipasi wanita
Pada zaman Jahiliyyah, hak-hak perempuan seakan tidak ada harganya sama sekali, jika anak yang lahir perempuan maka harus dibunuh hidup-hidup karena hanya membawa sial bagi keluarganya. Kemudian islam datang seraya sedikit demi sedikit memperjuangkan bahwa hak wanita pun sama dengan lelaki. Dengan ketekunan akhlak yang baginda Rasulullah ajarkan, kebiasaan biadab itu sudah hilang tergantikan akhlak islami yang sangat begitu mulia.
Benarlah menurut Sosiolog Max Weber (1864–1920) bahwa agamalah yang berjasa melahirkan perubahan sosial paling spektakuler dalam sejarah peradaban manusia.
Jauh sebelum RA Kartini lahir, Sayyidah Aisyah RA telah memperjuangkan emansipasi wanita. Pada zaman itu, beliau merupakan representasi bahwa perempuan pun bisa menyamai bahkan melebihi laki-laki. Terbukti, beliau mampu menghafal dan meriwayatkan hadits tak kurang dari 2.210. Atau juga seperti Sayyidah Nusaibah RA yang mengikuti perang Uhud dengan keberaniannya.
Di sisi lain, Nabi bahkan mendorong perempuan sebagaimana laki-laki untuk mencari ilmu tanpa terbatasi waktu dan tempat. Hal ini berbeda dengan ketika RA Kartini hidup di mana perempuan tidak mendapatkan hak yang sama untuk memperoleh pendidikan.
Kesimpulan
Jadi, kesetaraan yang diperjuangkan habis-habisan oleh RA Kartini itu cenderung berupa kesetaraan pendidikan, bukan semuanya! Karena pada dasarnya, dalam islam, ada beberapa hal yang perempuan tidak boleh sama dengan lelaki, bukan karena menjatuhkan dan menindas wanita, melainkan karena menghargai dan menjunjung tinggi hak-hak mereka.
Baca juga Mengenang Peristiwa Badar
Ikuti Kami Pondok Lirboyo
