Kediri, Jum’at (17/04/2026) — Lajnah Bahtsul Masail Madrasah Hidayatul Mubtadiin (LBM-MHM) secara resmi membuka rangkaian aktivitasnya untuk tahun ajaran 1447–1448 H / 2026–2027 M. Kegiatan ini dilaksanakan bakda salat Jumat, sekitar pukul 14.00 WIB, bertempat di Aula Al-Muktamar, dengan suasana penuh antusias dari para santri yang hadir.
Kehadiran Para Masyayikh dan Tokoh Pesantren
Sejumlah masyayikh dan tokoh penting Pondok Pesantren Lirboyo turut menghadiri acara ini. Di antaranya yaitu KH. M. Anwar Manshur, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, KH. An’im Falahuddin Mahrus, KH. Athoillah S. Anwar, serta para ndalem Agus, termasuk Agus HM. Adibussholeh Anwar, Agus HM. Said Ridlwan, Agus HM. Abdurrahman Kafabihi, dan Agus HM. Syarief Hakeem. Turut hadir pula dewan rois dan perumus LBM yang menjadi pilar utama dalam kegiatan bahtsul masail.
Baca juga: Wudhu Tidak Sah Jika Ini Terlewatkan!
Penyampaian Hasil Sidang Harian 1 dan Penataan Fasilitas
Pembacaan hasil sidang harian 1 disampaikan oleh Bapak M. Mundzir Zainuddin. Dalam laporannya, ia menyampaikan bahwa Aula LBM kini berfungsi sepenuhnya sebagai aula perpustakaan. Hal ini bertujuan untuk menunjang aktivitas belajar santri serta mempermudah akses terhadap berbagai referensi keilmuan.
Sementara itu, kegiatan-kegiatan yang sebelumnya terlaksana di Aula LBM kini pindah ke Gedung Al-Ikhlas, sebagai bagian dari penataan fasilitas yang lebih efektif dan terorganisir.
Penegasan Identitas Baru LBM MHM
Dalam sambutan atas nama Mudir MHM dan Ma’had Aly, KH. Athoillah S. Anwar menyampaikan sejarah singkat lembaga ini. Beliau menjelaskan bahwa LBM pada awalnya bernama LBM P2L (Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo). Namun dalam perkembangannya, Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) menjadi pihak yang mengakomodasi secara penuh kegiatan tersebut.
“Dengan demikian, saat ini secara resmi LBM namanya menjadi LBM MHM,” tegas beliau, menandai penguatan identitas kelembagaan yang lebih terstruktur di bawah naungan MHM.
Baca juga: Hukum Mengubur Ari-Ari Bayi
Mauidzah: Meneguhkan Istiqamah dan Semangat Belajar
Dalam mauidzahnya, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus menekankan pentingnya keaktifan santri dalam mengikuti pengajian para masyayikh dan guru. Beliau mengingatkan bahwa meskipun proses mengaji terasa monoton, manfaatnya akan sangat terasa di kemudian hari.
“Istiqamah adalah riyadhoh yang paling utama. Santri harus mengutamakan muthola’ah, karena ibadah yang paling utama adalah yang ibadah dengan hati dan akal, seperti tafakkur,” ungkap beliau.
Mauidzah selanjutnya oleh KH. An’im Falahuddin Mahrus yang menyoroti pentingnya kesungguhan dalam mempelajari ilmu fikih. Beliau menjelaskan bahwa berbeda dengan ilmu nahwu yang relatif bisa selesai dalam beberapa tahun, ilmu fikih membutuhkan waktu panjang karena sifatnya yang terus berkembang.
“Mulailah dari kitab-kitab kecil, hafalkan dan pahami dengan sungguh-sungguh. Aktivis LBM harus benar-benar menguasai dasar-dasar fikih, khususnya dari mazhab Syafi’iyah,” pesan beliau, seraya menekankan pentingnya keseriusan dalam mengikuti forum musyawarah seperti Fathul Qorib atau Taqrib.
Baca juga: Hukum Salat Jumat bagi Wanita
KH. M. Anwar Manshur Pimpin Doa Penutup
Ketika hari beranjak sore, rangkaian acara Pembukaan Aktivitas LBM-MHM berakhir dengan doa yang KH. M. Anwar Manshur pimpin. Para hadirin tampak khidmat bersama-sama mengamini doa beliau.
Harapan untuk LBM MHM ke Depan
Dengan dibukanya aktivitas LBM MHM ini, diharapkan lembaga ini mampu terus memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan keilmuan santri, khususnya dalam bidang bahtsul masail. Selain itu, LBM juga diharapkan menjadi wadah kaderisasi santri yang mampu mendalami agama (tafaqquh fiddin) secara mendalam dan berkelanjutan.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





