Cinta Beda Agama: Menguntungkan atau Menjerumuskan?

Di tengah kompleksitas kehidupan sosial hari ini, fenomena cinta beda agama bukanlah sesuatu yang asing. Ia kerap berawal dari ketertarikan terhadap sesuatu yang tampak “lezat”—sebuah daya pikat yang terpancar dari salah satu pihak—hingga akhirnya, cinta pun singgah perlahan tanpa terasa.

Baca juga: Setengah Buah Apel dan Cahaya Wara’

Cinta menurut Imam al-Ghazali

Imam al-Ghazali menulis dalam karya monumentalnya bahwa:

الحُبُّ عِبارَةٌ عَنْ مَيْلِ الطَّبْعِ إِلىَ الشَّيْءِ المُلَذِّ

“Cinta adalah ungkapan ketertarikan watak pada sesuatu yang dianggap lezat”[1]

Namun, bagi seorang muslim sejati, cinta beda agama merupakan problem serius karena terkadang di dalamnya terdapat penentu “hidup” kita setelah kematian kelak; beruntung atau justru celaka?

Baca juga: Baca juga: Kisah Tsa’labah bin Hatib: Ketika Kaya Justru Menjauhkan dari Agama

Hadits Nabi tentang akhir hidup manusia

Di dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw. menjelaskan akhir kehidupan seseorang sejatinya sudah Allah tentukan dalam sebuah “catatan takdir”. Beliau bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّىٰ مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّىٰ مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا) .رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ(

“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian benar-benar melakukan amalan penghuni surga, hingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal sehasta saja. Namun ketetapan (takdir) mendahuluinya, lalu ia melakukan amalan penghuni neraka, maka ia pun masuk ke dalamnya.

Dan sesungguhnya salah seorang di antara kalian benar-benar melakukan amalan penghuni neraka, hingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal sehasta saja. Namun ketetapan (takdir) mendahuluinya, lalu ia melakukan amalan penghuni surga, maka ia pun masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Baca juga: Kubah Misterius di Dasar Laut: Hikmah Agung Bakti Seorang Anak

Maksud hadits tersebut

Dalam memberi komentar (syarh) pada hadits ini, Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Jurwani dalam kitab al-Jauhar al-Lu’luiyyah menerangkan bahwa:

فَمَنْ سَبَقَتْ لَهُ السَّعَادَةُ صَرَفَ اللَّهُ قَلْبَهُ إِلَى الْخَيْرِ قَبْلَ مَوْتِهِ، وَمَنْ سَبَقَتْ لَهُ الشَّقَاوَةُ ـ وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ ـ كَانَ بِعَكْسِهِ.

“Maka barang siapa telah Allah tetapkan baginya kebahagiaan (akhir yang baik), Allah akan memalingkan hatinya kepada kebaikan sebelum kematiannya. Dan barang siapa telah Allah tetapkan baginya kesengsaraan—kita berlindung kepada Allah—maka keadaannya adalah sebaliknya.”[2]

Cinta beda agama

Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki muslim yang sangat begitu mencintai perempuan Nasrani. Suatu ketika, ia jatuh sakit, sakit yang menghantarkannya kepada kematian. Namun dalam kemelut sakitnya, ia masih memikirkan wanita itu dan bergumam dalam hatinya:

أَنَا أَعْشَقُ هَذِهِ وَلَمْ أَجْتَمِعْ بِهَا فِي الدُّنْيَا، وَإِنْ مُتُّ عَلَى الْإِسْلَامِ لَمْ أَجْتَمِعْ بِهَا فِي الْآخِرَةِ.

“Aku mencintai wanita (Nasrani itu), namun aku tidak dapat bersatu dengannya di dunia. Dan jika aku wafat dalam keadaan Islam, aku pun tidak akan bersatu dengannya di akhirat.”

Kemudian ia menjadi Nasrani dan meninggal dalam keadaan memegang keyakinan Nasrani.

Di sisi lain, tatkala sang wanita Nasrani itu terkapar sakit, ia pun bergumam:

إِنَّ فُلَانًا يَهْوَانِي وَلَمْ يَجْتَمِعْ بِي فِي الدُّنْيَا، وَأَخْشَى إِنْ مُتُّ عَلَى النَّصْرَانِيَّةِ أَلَّا أَجْتَمِعَ بِهِ فِي الْآخِرَةِ.

“Sesungguhnya ada seorang lelaki (Muslim) mencintaiku, namun ia tidak dapat bersatu denganku di dunia. Dan aku khawatir jika aku meninggal dalam keadaan Nasrani, aku tidak akan dapat bersatu dengannya di akhirat.”

Setelah itu, sang wanita pun memeluk agama Islam dan wafat dalam keadaan Muslimah.[3] Wallahu a’lam.


[1] Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, juz 4 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), hlm. 296.

[2] Muḥammad bin ‘Abdullāh al-Jurwānī, al-Jawhar al-Lu’lu’iyyah (Kairo: Dār al-Faḍīlah, t.t.), hlm. 67.

[3] Ibid.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses