Khutbah Jumat: Pernikahan di Bulan Syawal

Anda mungkin dididik bahwa menikah di bulan Syawal itu ‘kurang baik’ atau ‘sial’. Padahal, faktanya ada warisan kuno yang sangat kuat dari Rasulullah ﷺ yang sengaja menentang semua takhayul itu!

Baca khutbah ini!

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَضْحَكَ وَأَبْكَى، وَأَمَاتَ وَأَحْيَا، وَخَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ حَبِيْبَنَا وَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، السِّرَاجُ الْمُنِيْرُ وَالْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى محمد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالنُّهَى، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمُلْتَقَى.

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Baca juga: Khutbah Jumat: Apa yang Harus Terjadi Setelah Ramadhan?

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah!

Kita senantiasa wajib bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya, dan yang terbesar adalah nikmat Islam dan iman. Sebagai seorang Mukmin, wajib bagi kita menjadikan Sunnah Nabi sebagai standar hidup, bukan mitos atau kepercayaan yang tidak berdasar.

Pernahkah kita mendengar, atau bahkan meyakini, bahwa ada bulan atau waktu tertentu yang dilarang atau dibenci untuk melangsungkan pernikahan? Keyakinan ini adalah warisan kuno yang harus kita bersihkan dari akidah kita.

Baca juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Syaban

Menghapus Mitos Jahiliyah tentang Bulan Syawal

Ketahuilah, dahulu orang-orang Arab di masa Jahiliyah memiliki keyakinan buruk (tathayyur) terhadap pernikahan yang dilangsungkan di bulan Syawal.

Mereka percaya bahwa wanita yang menikah di bulan Syawal akan menolak suaminya, sebagaimana unta betina (syawalat) yang mengangkat ekornya setelah dikawini unta jantan, yang diartikan sebagai penolakan.

Nabi ﷺ datang untuk membatalkan semua keyakinan buruk dan takhayul seperti ini. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa tidak ada kesialan atau keberuntungan yang mutlak pada waktu atau tempat tertentu, kecuali atas kehendak Allah.

Untuk menghapus mitos ini secara tuntas, Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang agung:

Nabi ﷺ secara sengaja memilih bulan Syawal untuk menikah dan berkumpul dengan Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Dari Urwah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

 تزوَّجني رسول الله صلى الله عليه وسلم في شوال، وبنى بي في شوال، فأيُّ نساءِ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم كان أحظى عندهُ منِّي؟

“Rasulullah ﷺ menikahiku di bulan Syawal, dan berkumpul denganku (berbulan madu) di bulan Syawal. Siapakah di antara istri-istri Rasulullah ﷺ yang paling beruntung di sisi beliau melebihi diriku?” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa Sayyidah Aisyah mengeluarkan pernyataan ini bertujuan untuk menolak apa yang diyakini orang-orang Jahiliyah dan sebagian masyarakat awam saat ini mengenai kemakruhan menikah di bulan Syawal.

Ulama besar seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Katsir menegaskan bahwa keyakinan makruh menikah di Syawal adalah bathil (tidak berdasar) dan merupakan peninggalan Jahiliyah.

Baca juga: Khutbah Jumat: Mengambil Hikmah di Balik Hujan

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah!

Lantas apakah pernikahan di bulan Syawal menjadi sunnah yang harus dikejar?

Jamaah Jumat yang berbahagia! Meskipun pernikahan Nabi ﷺ di bulan Syawal menjadi dalil kuat akan kebolehan dan tidak adanya kemakruhan sama sekali, para ulama berbeda pendapat apakah ini otomatis menjadikannya sunnah yang dianjurkan (mustahab).

Sebagian ulama menganggapnya mustahab (dianjurkan) sebagai bentuk penghormatan terhadap apa yang dilakukan Nabi.

Pendapat yang lebih kuat, sebagaimana disampaikan oleh Imam Asy-Syaukani, adalah bahwa pernikahan Nabi ﷺ di berbagai waktu menunjukkan bahwa menikah pada dasarnya adalah mubah (boleh) kapan saja, dan tidak ada waktu khusus yang secara syar’i diutamakan.

Pernikahan di bulan Syawal menjadi mustahab (dianjurkan) jika tujuannya adalah untuk menentang bid’ah atau mitos di suatu masyarakat yang masih meyakini kemakruhan menikah di bulan ini. Melakukannya adalah tindakan perlawanan terhadap tathayyur dan pengajaran Sunnah.

Tidak ada kesialan pada waktu manapun dalam Islam. Ramadhan, Syawal, atau bulan lainnya adalah sama baiknya untuk menikah, asalkan semua rukun dan syarat dipenuhi. Jika di suatu daerah masih ada keyakinan buruk terhadap Syawal, maka menikah di bulan ini adalah perbuatan yang terpuji karena menghidupkan Sunnah dan membatalkan mitos Jahiliyah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ.

Baca juga: Khutbah Jumat: Birrul Walidain, Investasi Dunia dan Akhirat

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ إِلَى يَوْمِ الْقَرَارِ. أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah!

Setiap keyakinan yang mengaitkan kesialan dengan bulan, hari, atau angka tertentu, harus kita buang jauh-jauh. Kita harus yakin bahwa segala kebaikan dan keburukan datang dari takdir Allah semata.

Kita memohon kepada Allah:

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ.

 يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ.

وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses