Selasa siang (12.30 WIB), suasana khidmat menyelimuti acara pelepasan dan penjemputan guru bantu yang diselenggarakan oleh Lembaga Ittihadul Muballighin, Pondok Lirboyo dan Ma’had Aly Lirboyo. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para mahasantri semester VII yang akan menjalankan tugas pengabdian (khidmah) di berbagai daerah.
Sebanyak 365 mahasantri Ma’had Aly Lirboyo semester VII diberangkatkan sebagai delegasi guru bantu yang akan bertugas di 73 daerah dan 203 lembaga sebagai tempat pengabdian. Mereka akan menjalani masa khidmah selama satu tahun penuh sesuai dengan penempatan yang telah ditentukan oleh panitia.
Baca juga: Edukasi OJK di SAKINAH Lirboyo: Literasi Keuangan Syariah Bagi Santri
Acara ini dihadiri oleh para masyayikh dan dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo, di antaranya:
- KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus
- KH. Athoillah Solahuddin Anwar
- Agus HM. Ibrahim Ahmad Hafidz
- Agus HM. Abdul Muid Shohib
- Agus H. Ali Ya’lu Anwar
- Agus HM. Adibussholeh Anwar
- Agus H. Reza Ahmad Zahid Imam
- Agus A. Zulfa Laday Robby Sholeh
- Agus Nururrohman Ya’lu
- Agus Abdurohman Kafabihi
- Agus Yusuf Fadlulloh
- Dewan Mudir Ma’had Aly
- Dewan Dosen Ma’had Aly Semester VII
Sambutan Dosen Guru Bantu: Bapak Kholid Asnawi
Dalam sambutannya, dosen Ma’had Aly, Bapak Kholid Asnawi, menekankan pentingnya meluruskan niat dalam berkhidmah. Ia mengingatkan agar para guru bantu meniatkan keberangkatan mereka sebagai bentuk pengabdian kepada para masyayikh Lirboyo dan lembaga tempat mereka bertugas, sehingga tidak sekadar mendapatkan lelah, tetapi juga keberkahan.
“Niatkan keberangkatan kalian sebagai khidmah kepada masyayikh Lirboyo dan masyayikh di tempat kalian bertugas. Dalam rangka berkhidmah, niatkanlah dengan ikhlas agar tidak hanya mendapatkan lelah saja.”
Baca juga: SAKINAH Lirboyo 2026: Santri Dibekali Literasi Keuangan Syariah dan Edukasi Gizi
Beliau juga berpesan agar selalu menjaga akhlakul karimah dengan kiasan:
“Di mana pun berada, junjung tinggi bendera Lirboyo (jangan sampai ‘sak karepe dewe’ hingga mencoreng nama baik Lirboyo).”
Kemudian, beliau menyampaikan permohonan kepada para pengasuh yang menerima para guru bantu:
“Kepada para pengasuh yang menerima teman-teman kami, mohon bimbing mereka dengan sebaik-baiknya karena masih dalam tahap belajar berkhidmah.”
Mauidzotul Hasanah: KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus
KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menyoroti pentingnya menjaga adab selama menjalankan tugas. Menurut beliau, adab merupakan kunci utama agar para guru bantu dapat menjadi teladan di tengah masyarakat.
Beliau juga menyampaikan bahwa para guru bantu harus patuh terhadap peraturan dan arahan dari pengasuh pondok atau madrasah tempat mereka bertugas:
“Menjadi makmum, menjadi khodim. Jangan melakukan perkara-perkara tanpa seizin pengasuh.”
Baca juga: Perkuat Ekosistem Pesantren, 27 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Diresmikan di Lirboyo
Beliau juga memberikan amanat kepada para pengasuh, apabila terdapat kesalahan agar ditegur dan diberikan tugas sesuai perjanjian.
Selain itu, beliau menyampaikan harapan kepada para pengasuh:
“Dzuriyah dan santrinya diarahkan ke Pondok Lirboyo, sebab terkadang ada yang meminta guru bantu ke Lirboyo, tetapi anak atau santrinya tidak mondok ke Lirboyo.”
Di akhir, beliau menitipkan salam kepada para guru bantu untuk disampaikan kepada para pengasuh dan keluarganya.
Sambutan Agus Adibussholeh Anwar atas Nama Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo
Agus Adibussholeh Anwar menekankan sejumlah poin penting yang harus kita perhatikan selama menjalankan tugas khidmah. Para peserta wajib untuk sowan terlebih dahulu kepada pengasuh setempat sebagai bentuk adab sekaligus memohon doa restu.
Selain itu, pemahaman terhadap lingkungan pesantren dan kemampuan membaca karakter santri menjadi langkah awal yang krusial. Hal ini perlu guru bantu imbangi dengan koordinasi yang baik terkait kurikulum serta penerapan metode pengajaran di masing-masing lembaga.
Baca juga: FEBIS Lirboyo Dorong Kolaborasi UMKM Syariah, Hadirkan Bank hingga LPPNU
Beliau juga menegaskan pentingnya menjaga profesionalisme dan kedisiplinan, di antaranya dengan membiasakan hadir lebih awal sebelum kegiatan. Sebelum proses belajar mengajar berlangsung, para guru bantu harus membaca Al-Fatihah yang mereka hadiahkan kepada para pengarang kitab dan masyayikh setempat sebagai bentuk ikhtiar meraih keberkahan ilmu.
Dalam praktiknya, beliau mengajurkan pendekatan persuasif yang tegas dalam mendidik santri tanpa melibatkan kekerasan fisik. Apabila menemui kendala di lapangan, para guru bantu diminta segera berkoordinasi dengan pihak lembaga.
Tak kalah penting, aspek penampilan juga menjadi perhatian. Guru yang rapi dan berwibawa dinilai lebih mudah diterima oleh santri dalam proses pembelajaran.
Baca juga: Ribuan Santri Penuhi Aula Muktamar dalam Agenda Halal Bihalal Safari Ramadan LIM
Sebagai penutup, panitia mengingatkan bahwa menjaga ibadah, khususnya salat lima waktu secara berjamaah, merupakan fondasi utama dalam menjalankan amanah khidmah.
Sambutan Agus Ibrahim Ahmad Hafidz atas Nama Mudir Ma’had Aly Lirboyo
Sebagai guru bantu yang dikirim oleh Lirboyo atau almamater Ma’had Aly, yang dilihat oleh masyarakat adalah identitas sebagai santri para masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga marwah almamater dan masyayikh.
Apabila terdapat pemantik emosi, hendaknya segera mengingat bahwa diri adalah utusan Pondok Pesantren Lirboyo.
Baca juga: Lirboyo Gelar Haul KH Mahrus Aly yang ke-42
Para guru bantu menjalankan tugas yang telah disepakati dan akan diberikan tanggung jawab sesuai kemampuan masing-masing, mengingat tidak semua memiliki keunggulan yang sama dalam bidang keilmuan Ma’had Aly Lirboyo.
Sambutan Agus Abdul Muid Shohib atas Nama Dzuriyah KH. Abdul Karim
Dalam sambutannya mewakili dzuriyah KH. Abdul Karim, Agus Abdul Muid Shohib menyampaikan pesan singkat namun sarat makna kepada para guru bantu. Beliau mengucapkan selamat jalan, selamat berkhidmah, dan selamat menjalankan tugas.
Beliau juga mengingatkan pentingnya beradaptasi dengan lingkungan tempat pengabdian, sebagaimana pepatah, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Menurut beliau, adab menjadi kunci utama, bahkan dapat menutupi kekurangan dalam hal keilmuan.
Mauidzotul Hasanah ke-2: KH. Athoillah S. Anwar
Dalam mauidzotul hasanah kedua, KH. Athoillah S. Anwar meluruskan persepsi yang keliru terkait penugasan guru bantu. Beliau menegaskan bahwa pengiriman ke luar daerah bukanlah bentuk “pembuangan”, melainkan amanah dan kepercayaan yang harus mereka jaga.
“Sampean dijadikan guru bantu di luar itu bukan dibuang, karena masih ada mindset yang berpikiran seperti itu.”
Baca juga: Halal Bihalal Pondok Pesantren Lirboyo 1447 H: Pesan Kedisiplinan dan Semangat Menuntut Ilmu
Beliau juga mendorong para peserta untuk segera beradaptasi dengan lingkungan tempat khidmah, termasuk memperbaiki kebiasaan yang kurang baik selama masa studi, seperti begadang berlebihan.
Lebih lanjut, beliau mengingatkan agar para guru bantu memiliki semangat juang yang tinggi dan tidak kalah dengan kalangan luar yang berani terjun ke daerah terpencil. Hal ini menjadi dorongan agar para santri siap menghadapi tantangan serta berkontribusi secara maksimal di tengah masyarakat.
“Jangan sampai kalah dengan orang orientalis, yakni orang kota yang berani ke pedesaan terpencil. Bahkan wanitanya berani dinikahi oleh kepala suku desa tersebut.”
Baca juga: Santri Lirboyo Gelar Khataman Al-Qur’an Menyongsong Haul KH Abdul Karim
Musafahah antara para peserta, penanggung jawab, serta dzuriyah dan masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo menjadi penutup acara serta sebagai simbol restu dan doa untuk kelancaran tugas pengabdian.
Dengan pelepasan ini, harapannya para guru bantu mampu menjadi representasi akhlakul karimah Lirboyo sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan Islam di tengah masyarakat.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





