Membicarakan KH. Mahrus Aly bukan sekadar membicarakan sosok pengasuh besar Lirboyo, tapi juga mengisahkan bagaimana seorang manusia mengusahakan dirinya demi bakti pada orang tua, mengupayakan dirinya berjuang di jalan Allah dan berikhtiar untuk tetap menabur kasih sayang pada umat.
Dalam peringatan Haul ke-42 beliau, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus membagikan serpihan kisah-kisah menarik beliau yang mungkin kita tak banyak tahu.
Baca juga: Perjalanan Mencari Ilmu KH. Abdul Karim
Didikan Keras Sang Kakak dan Pesan Ibu
Dulu, saat masih bernama Rusydi, beliau dididik oleh kakaknya sendiri, Kiai Ahmad Afifi. Konon, di masa belajar itu, Rusydi kecil tidak langsung terlihat menonjol atau pintar. Beliau sering mendapat didikan yang sangat disiplin dan keras.
Sang ibunda sering berbisik kepada sang kakak, “Jangan keras-keras mendidiknya, karena kelak dia akan menjadi orang besar.”
Pesan yang KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus sampaikan perihal cerita ini adalah kesuksesan seseorang juga bergantung dengan dukungan dari saudaranya.
Baca juga: Menjaga Akhlak di Mana Pun Berada: Pesan KH. M. Anwar Manshur untuk Santri Lirboyo
Memuliakan Orang Tua
Sejenak mari kita sama-sama lihat bagaimana Kiai Mahrus Aly menempatkan ibunya. Beliau sangat takzim. KH. Abdulloh Kafabihi menggambarkan dengan dawuhnya “beliau sangat tidak rida jika melihat ibunya menginjak kotoran aya”.
Suka Mondok dan Berjuang Karena Agama
Perjalanan ilmu beliau adalah perjalanan panjang yang melintasi tangan-tangan dingin ulama besar, mulai dari KH. Hasyim Asy’ari hingga Kiai Dalhar Watucongol.
Uniknya, meski masih berstatus santri, yang notabenenya masih menimba ilmu di beberapa pondok, beliau sudah dipercaya menjadi Rais PWNU Jawa Timur.
Pengabdian beliau di NU selama 27 tahun adalah bukti kebijaksanaan beliau. Bayangkan, beliau rela keliling Jawa Timur demi mengurus pembebasan para kiai yang difitnah dan dituduh terlibat “Komando Jihad”. Beliau pasang badan demi saudara-saudaranya.
Pernah suatu ketika, ada yang mengusulkan agar Indonesia menempuh jalur “jihad” (perlawanan fisik) demi kemakmuran. Kiai Mahrus dengan penuh sahaja menolak.
“Jangan, kasihan umat, kasihan umat,” ucap beliau.
Baca juga: KH. An’im Falahuddin Mahrus: Santri adalah Aset Berharga Bangsa
Kantong yang Selalu Kosong
Hal yang paling menggetarkan mungkin adalah cara beliau memandang harta. Kiai Mahrus kalau sudah memasukkan tangan ke saku untuk bersedekah, maka seisi saku itu akan beliau berikan semua. Tidak ada yang beliau sisakan, tidak ada yang beliau hitung.
Bahkan kalau belanja, beliau pantang menawar apalagi meminta kembalian. KH. Abdulloh Kafabihi sempat berkelakar, “Tidak seperti kita yang urusan belanja saja masih tawar-menawar.”
Al-Fatihah kagem beliau.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
