Di antara sekian banyak malam yang Allah ciptakan sepanjang sejarah manusia, ada satu malam yang nilainya melampaui usia panjang manusia. Satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam yang di dalamnya diturunkan rahmat, ampunan, dan penetapan takdir. Itulah malam Lailatul Qadar, malam yang akan kita jelaskan pada kesempat khutbah Jumat kali ini.
Baca juga: Khutbah Jumat: Nuzulul Quran dan Hikmah Turunnya
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَتَمَّمَ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ وَجَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مَوْسِمًا لِلْخَيْرَاتِ وَأَيَّامَهُ مِضْمَارًا لِلصَّالِحَاتِ، نَحْمَدُهُ تَعَالَى حَمْدًا كَثِيرًا وَنَشْكُرُهُ شُكْرًا جَمِيلًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَاتَّقُوْهُ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوْهُ فِي السِّرِّ وَالعَلَانِيَةِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ .
Baca juga: Khutbah: Tiga Tingkatan Puasa, Sudah di Level Mana Ibadah Kita?
Isi Khutbah: Keagungan dan Makna Lailatul Qadar
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kita kini berada di penghujung bulan suci Ramadan, hari-hari yang penuh keberkahan dan ampunan. Di antara malam-malam yang tersisa, ada satu malam yang sangat istimewa, sebuah malam yang kemuliaannya melebihi ribuan bulan, yaitu Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Qadr:
﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Baca juga: Isi Salah Satu Khutbah Nabi Muhammad Perihal Ramadan
Alasan penamaan Lailatul Qadar
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,
Mengapa malam ini dinamakan Lailatul Qadar? Syaikh Nawawi al-Bantani dalam tafsir Marah Labid menjelaskan bahwa pada malam itu Allah SWT menetapkan segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk satu tahun ke depan, mulai dari urusan kematian, ajal, rezeki, hingga berbagai ketentuan lainnya. Semua ketetapan itu kemudian diserahkan kepada empat malaikat utama yang mengatur urusan tersebut: Israfil, Mikail, Izrail, dan Jibril alaihimussalam.
Baca juga: Khutbah: Memahami Cara Bercanda Nabi Muhammad
Perbedaan pendapat mengenai malam Lailatul Qadar
Hadirin jamaah Jumat yang berbahagia,
Para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar berada di bulan Ramadan. Namun, mereka berbeda pendapat dalam menentukan malam pastinya. Ada yang berpendapat bahwa Lailatul Qadar adalah malam kedua puluh tujuh Ramadan. Pendapat ini didukung oleh beberapa dalil dan isyarat, di antaranya:
- Kisah Umar bin Khattab dan Ibnu Abbas RA yang menyebutkan bahwa Allah menyukai bilangan ganjil, dan yang paling disukai-Nya adalah angka tujuh. Ibnu Abbas kemudian mengaitkannya dengan tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, tujuh hari dalam sepekan, tujuh tingkatan neraka, tujuh putaran tawaf, dan tujuh anggota sujud. Semua ini mengarah pada malam kedua puluh tujuh.
- Perkataan Ibnu Abbas bahwa surah Al-Qadr terdiri dari tiga puluh kata, dan kata “Hiya” (ia) yang merujuk pada Lailatul Qadar, berada pada urutan ke-27.
- Kata “Lailatul Qadr” yang terdiri dari sembilan huruf, disebutkan tiga kali dalam surah Al-Qadr, sehingga jika dikalikan (9×3) hasilnya adalah dua puluh tujuh.
- Kisah Utsman bin Abi Al-Ash yang memiliki budak, yang memberitahukan bahwa air laut berubah menjadi sangat tawar pada satu malam tertentu di setiap bulan, dan malam itu adalah malam kedua puluh tujuh.
Baca juga: Khutbah Jumat: Ketaatan kepada Orang Tua
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Selain itu, di antara pendapat ulama tentang penentuan Lailatul Qadar terdapat pula pandangan halus yang oleh Imam al-Ghazali nukil. Pendapat ini beliau sampaikan berdasarkan penjelasan Syaikh al-Kurdi, yang menegaskan bahwa ucapan Imam al-Syafi‘i—rahimahullahu ta‘ala—dalam mengompromikan berbagai hadis memberi isyarat kuat mengenai hal tersebut.
Beliau menyatakan bahwa tanda-tanda Lailatul Qadar dapat kita kenali dengan memperhatikan hari pertama kita memasuki bulan Ramadan. Dari sinilah beliau merumuskan ketentuan berikut:
- Apabila awal Ramadan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadar berada pada malam ke-29.
- Apabila awal Ramadan jatuh pada hari Senin, maka Lailatul Qadar berada pada malam ke-21.
- Apabila awal Ramadan jatuh pada hari Selasa atau Jumat, maka Lailatul Qadar berada pada malam ke-27, malam yang selama ini masyhur di kalangan kaum Muslimin.
- Apabila awal Ramadan jatuh pada hari Kamis, maka Lailatul Qadar berada pada malam ke-25.
- Apabila awal Ramadan jatuh pada hari Sabtu, maka Lailatul Qadar berada pada malam ke-23.
Baca juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Syaban
Pengaitan Lailatul Qadar dengan peristiwa lain
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Yang terpenting bukanlah secara pasti mengetahui kapan Lailatul Qadar itu datang, melainkan bagaimana kita berupaya untuk mendapatkannya. Allah SWT menjelaskan keutamaan malam ini dari tiga atau empat sisi, yang puncaknya adalah firman-Nya, “Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.” Seribu bulan itu setara dengan delapan puluh tiga tahun empat bulan. Ini berarti, ibadah yang kita lakukan pada satu malam Lailatul Qadar nilainya lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadar di dalamnya.
Para ulama menyebutkan berbagai tafsiran tentang “lebih baik dari seribu bulan” ini. Ada yang mengisahkannya dengan seorang lelaki dari Bani Israil yang beribadah sepanjang malam dan berjihad sepanjang hari selama seribu bulan, namun satu malam Lailatul Qadar bagi umat Nabi Muhammad ﷺ lebih mulia dari ibadah lelaki tersebut. Ada pula yang mengaitkannya dengan kerajaan Nabi Sulaiman dan Dzulqarnain yang masing-masing berlangsung lima ratus bulan. Allah menjadikan amal ibadah pada Lailatul Qadar lebih baik daripada masa kerajaan keduanya. Bahkan, sebagian ulama menyebutkan bahwa diturunkannya surah ini juga sebagai penghibur bagi Nabi ﷺ yang bermimpi melihat Bani Umayyah melompat-lompat di atas mimbar beliau seperti kera, menunjukkan kekuasaan yang tidak berlandaskan kebaikan, maka Allah memberikan keutamaan malam Lailatul Qadar ini sebagai kompensasi kemuliaan umat beliau.
Baca juga: Khutbah Jumat: Meneladani Peristiwa Isra Mikraj
Kesungguhan Rasulullah ﷺ di Sepuluh Malam Terakhir
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Melihat keutamaan yang begitu besar ini, tidak heran jika Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Sayyidah Aisyah RA meriwayatkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ، أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ المِئْزَرَ
“Apabila Rasulullah ﷺ telah memasuki sepuluh (malam) terakhir (bulan Ramadan), beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan ibadah), membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh (dalam beribadah), dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa besar kesungguhan Nabi ﷺ. Menurut Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim, bahwa makna “menghidupkan malam” adalah mengisi seluruh malam dengan ibadah seperti shalat, zikir, membaca Al-Qur’an, dan doa. “Membangunkan keluarganya” berarti beliau tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga mengajak serta istri dan anak-anaknya untuk meraih kemuliaan malam-malam itu. Adapun “mengencangkan ikat pinggangnya” ditafsirkan sebagai bentuk kesiapan total dan mencurahkan seluruh waktu untuk ibadah, atau secara kiasan menjauhi hubungan intim dengan istri demi fokus ibadah.
Maka dari itu, marilah kita meneladani beliau. Di sisa-sisa malam Ramadan ini, terutama di sepuluh malam terakhir, perbanyaklah ibadah, hidupkanlah malam-malam kita dengan shalat, qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, dan memperbanyak doa. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita Lailatul Qadar, yang ibadah di dalamnya lebih baik dari seribu bulan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Baca juga: Khutbah Jumat: Birrul Walidain, Investasi Dunia dan Akhirat
Khutbah Kedua
الحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ البَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ المَحْشَرِ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ. واجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذِهِ بَلْدَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ المُسْلِمِينَ عَامَّةً يَا رَبَّ العَالَمِينَ.
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾
فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
