Haul ke-68 Ibu Nyai Dlomroh: Teladan Kesabaran dan Pengabdian di Pondok Pesantren Lirboyo

Haul Ibu Nyai Dlomroh

Kediri, 23 April 2026 — Suasana khidmat menyelimuti peringatan Haul ke-68 Almarhumah Almaghfurlaha Ibu Nyai Dlomroh yang bertepatan dengan 5 Dzulqo’dah 1447 H. Acara ini digelar sebagai bentuk penghormatan kepada sosok mulia, istri dari pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdul Karim, yang dikenal luas akan kesabaran dan dedikasinya dalam mendampingi perjuangan pesantren.

Kegiatan yang berlangsung pada malam hari ini dihadiri oleh berbagai elemen, mulai dari para santri, pengurus, pengajar, pimpinan pondok dan madrasah, hingga dzuriyah KH. Abdul Karim dan Nyai Dlomroh. Tidak hanya itu, masyarakat sekitar serta para alumni Pondok Pesantren Lirboyo turut memadati Aula Al Muktamar sejak pukul 19.00 WIB.

Baca juga: Ujian Masuk MHM Lirboyo Cabang Zonasi 2026/2027: Pembagian Zonasi dan Jadwal Lengkap

Acara dipandu oleh Agus Mihyal Manutho Muhammad, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sdr. Anis Taufiqurrohman. Suasana semakin khusyuk saat KH. Nurul Huda Ahmad memimpin pembacaan Surat Yasin, yang kemudian disusul dengan tahlil dan doa yang dipimpin oleh KH. An’im Falahuddin Mahrus.

Manaqib ke-1 Ibu Nyai Dlomroh

Dalam sesi pembacaan manaqib, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus mengisahkan keteladanan Nyai Dlomroh, terutama dalam hal kesabaran dan keteguhan hati. Diceritakan bahwa beliau sempat berinisiatif membantu perekonomian keluarga dengan berdagang ke pasar. Namun, atas nasihat ibunya, beliau memilih untuk tidak melanjutkan usaha tersebut dan tetap istiqamah mendampingi suami serta mengasuh santri.

Keputusan itu terbukti membawa keberkahan. Putri-putri beliau dipersunting oleh tokoh-tokoh ulama besar seperti KH. Abdullah Siroj, Kiai Mansur, Kiai Jauhari, Kiai Marzuqi, Kiai Mahrus Aly, hingga Kiai Zaini Krapyak. Bahkan, dalam urusan memilih menantu, Nyai Dlomroh lan yang berperan langsung dalam pemilihannya.

Baca juga: Pembukaan Aktivitas LBM-MHM: Menguatkan Tradisi Bahtsul Masail di Lirboyo

Lebih lanjut, KH. Abdulloh Kafabihi juga menyinggung bahwa tanah Pondok Pesantren Lirboyo merupakan bagian dari tirkah (warisan) Nyai Dlomroh yang kemudian diwariskan kepada putri-putrinya dan diwakafkan untuk kepentingan pesantren.

Manaqib ke-2

Sementara itu, dalam pembacaan manaqib berikutnya, KH. M. Anwar Manshur menyoroti sisi lain dari keteladanan Ibu Nyai Dlomroh, yakni perhatian mendalam terhadap para santri. Tidak hanya memenuhi kebutuhan lahiriah, beliau juga memastikan keamanan para santri, bahkan hingga rela berjaga di malam hari.

“Mbah Nyai Dlomroh ngopeni santri tenanan. Nek dalu melek, tenguk-tenguk (nunggu) teng emper ndalem. Jaman itu banyak maling. Beliau malah yang jaga maling. Melek sampai subuh.” tutur beliau.

Baca juga: Pondok Lirboyo Kirim 365 Mahasantri sebagai Guru Bantu di 203 Lembaga

Haul ke-68 ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. M. Anwar Manshur, mengakhiri rangkaian acara dengan penuh kekhusyukan dan harapan agar nilai-nilai keteladanan Ibu Nyai Dlomroh senantiasa hidup dalam kehidupan para santri dan masyarakat.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

One thought on “Haul ke-68 Ibu Nyai Dlomroh: Teladan Kesabaran dan Pengabdian di Pondok Pesantren Lirboyo

  1. Semoga Sifat baik mbah Nyai Dlomroh yang Penyabar ,ihlas dalam perjuangan Agama Islam dapat menjadi teladan dan dapat kita amalkan. Semoga Beliau mendapat Tempat Kembali ysng Mulia di Sisi Alloh
    Saya memohon Do”anya agar anak saya mau Mondok / Nyantri untukmemperoleh Ilmu Agama Yang Manfaat dan Barokah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses