Bukan Sekadar Pendamping: Peran Besar Nyai Dlomroh dalam Membangun Lirboyo

Di antara banyak hal yang kerap kita lupakan, ada kisah-kisah luar biasa yang justru layak untuk terus dikenang. Dalam semangat peringatan Hari Kartini, kita diingatkan bahwa semangat Kartini tidak pernah benar-benar padam—ia hidup dalam sosok-sosok perempuan tangguh di berbagai penjuru negeri. Salah satunya adalah Nyai Dlomroh.

Baca juga: Setengah Buah Apel dan Cahaya Wara’

Pejuang dari bilik pesantren

Beliau bukan hanya pendamping, tetapi juga pilar kuat dalam perjalanan awal Pondok Pesantren Lirboyo yang berdiri pada tahun 1910. Dari bilik-bilik sederhana pesantren, Nyai Dlomroh membuktikan bahwa peran perempuan jauh melampaui batas domestik. Dengan ketekunan dan keteguhan hati, ia ikut membangun pondok dari nol—bukan sekadar mendampingi, tetapi terjun langsung memastikan para santri memiliki tempat tinggal yang layak.

Lebih dari itu, beliau bahkan mengajarkan para santri cara membangun kamar secara bertahap. Sebuah peran yang mungkin jarang disorot, namun sangat menentukan keberlangsungan pesantren di masa-masa awal.

Baca juga: Kisah Tsa’labah bin Hatib: Ketika Kaya Justru Menjauhkan dari Agama

Kisah Perjuangan Nyai Dlomroh

Kisah Nyai Dlomroh juga menghadirkan teladan tentang hubungan suami-istri yang penuh penghormatan. Suaminya, KH. Abdul Karim—yang akrab disapa Kiai Manab sebelum menunaikan haji—menunjukkan sikap bijak saat menghadapi permintaan keluarganya di Magelang. Alih-alih mengambil keputusan sepihak, beliau justru meminta utusan untuk meminta pendapat sang istri.

Namun sebelum utusan itu sempat bertanya, Nyai Dlomroh telah lebih dulu menyampaikan sikapnya dengan tegas namun penuh ketenangan:
“Menawi panjenengan badhe kundur ngilen monggo. Ning kulo mboten badhe nderek” “Jika kiai ingin pulang, silakan. Tapi saya tidak ikut.”

Bukan sekadar penolakan, beliau juga menawarkan solusi yang mencerminkan kecerdasan, pengorbanan, dan ketulusan luar biasa:
“Menawi kerso teng mriki, monggo panjenengan kantun ngimami sholat, ngaosm manggihi tamu. Sedoyo kulo ingkang nyekapi.”

“Jika tetap di sini, kiai cukup mengimami salat, mengajar, dan menerima tamu. Semua kebutuhan akan saya tanggung.”

Sebuah jawaban yang bukan hanya menguatkan, tetapi juga menggerakkan hati. Pada akhirnya, Kiai Manab memilih tetap di Lirboyo—melanjutkan perjuangan mendidik santri dan mengembangkan pesantren.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa di balik sosok besar, seringkali ada figur perempuan hebat yang bekerja dalam diam namun berdampak besar. Nyai Dlomroh bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga inspirasi hidup tentang keteguhan, kecerdasan, dan pengabdian tanpa batas.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses