Kediri – Pondok Pesantren Lirboyo kembali menjadi titik sentral sinergi antara ulama dan umara‘. Pada agenda bertajuk “Penguatan Ekosistem Pesantren: Melalui Literasi Dan Inklusi Keuangan Syariah”, sejumlah tokoh nasional dan masyayikh berkumpul untuk mengawal program prioritas pemerintah dalam bidang gizi dan ketahanan ekonomi syariah.
Ustadz Hilmi Musyafa menambah khidmat acara ini dengan melantunkan ayat suci Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 167-169). Semangat nasionalisme dan religiusitas pun membahana saat seluruh hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan mars Syubbanul Wathon.
Baca juga: FEBIS Lirboyo Dorong Kolaborasi UMKM Syariah, Hadirkan Bank hingga LPPNU
Komitmen 1.000 Dapur untuk Nahdlatul Ulama
Dalam sambutan pembuka, Bapak Fahmi Akbar Idries selaku perwakilan Tim Koordinasi dan Akselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menegaskan komitmen pemerintah dalam menggandeng struktur NU.
“Kami berkomitmen membangun 1.000 dapur untuk lingkungan Nahdlatul Ulama. Khusus untuk Lirboyo, saat ini baru tersedia dua dapur, dan akan segera kami upayakan menjadi delapan dapur,” jelas beliau sembari mengapresiasi kemeriahan acara tersebut.
Baca juga: Lirboyo Gelar Haul KH Mahrus Aly yang ke-42
Dawuh Pengasuh: Kontribusi Pesantren untuk Negeri
Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah dan PBNU. Beliau menegaskan bahwa pesantren adalah pilar yang tak terpisahkan dari sejarah dan masa depan Indonesia.
“Pesantren selalu hadir sejak masa merebut kemerdekaan. Meski terkadang dimarginalkan, sejarah membuktikan alumni pesantren selalu berkontribusi nyata bagi negara,” tutur beliau.
Dengan nada berkelakar, Kiai Kafabihi menyinggung soal filosofi keprihatinan santri. “Biasanya, santri yang makannya terlalu mewah justru sulit sukses. Yang sukses itu yang terbiasa lapar dan istiqamah dalam riyadah. Saya yakin Kiai Yahya Staquf pun demikian saat mondok dulu,” kelakar beliau.
Baca juga: Halal Bihalal Pondok Pesantren Lirboyo 1447 H: Pesan Kedisiplinan dan Semangat Menuntut Ilmu
Transformasi Gizi dan Literasi Keuangan
Agenda dilanjutkan dengan pemaparan dari dua keynote speaker utama:
- Bpk. Soni Sanjaya (Wakil Kepala Badan Gizi Nasional): Beliau memaparkan bahwa program MBG bukan sekadar soal makanan, melainkan upaya mengubah mindset bangsa tentang standar kesehatan. Saat ini, terdapat 2.663 SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dengan 1,2 juta tenaga kerja, di mana Kediri menyerap 8.209 pekerja melalui 183 SPPG. “Multiplayer effect-nya adalah kesejahteraan bagi para pekerja lokal,” tegasnya.
- Bpk. Dicky Kartikoyono (OJK RI): Menyoroti rendahnya indeks keuangan syariah di Indonesia yang masih di angka 7,5%. Beliau menekankan pentingnya literasi digital dan inklusi keuangan bagi santri agar waspada terhadap risiko di era digital sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi syariah nasional.
Baca juga: Kumpulan Kisah KH. Mahrus Aly yang Disampaikan KH. Abdulloh Kafabihi pada Haul ke-42
Puncak Acara: Peresmian 27 SPPG dan Pengarahan Ketua Umum PBNU
Momen monumental terjadi saat prosesi penandatanganan prasasti peresmian 27 SPPG oleh Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), bersama Bapak Soni Sanjaya.
Dalam pengarahannya, Gus Yahya menggarisbawahi bahwa program MBG tidak akan menggerus budaya riyadah (tirakat) di pesantren. “Lirboyo sudah berdiri lebih dari satu abad dan selama ini tidak pernah ada laporan kekurangan gizi. Adanya MBG ini justru harus kita harapkan membawa dampak ekonomi sistemik dan menciptakan struktur pasar baru yang tidak monopolistik,” urai beliau. Gus Yahya menutup dengan doa agar ikhtiar ini senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
Acara siang ini juga terdapat seremoni penandatanganan kerja sama oleh Bapak Kemas dan Agus Adib. Pembacaan doa oleh Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Muhammad Anwar Manshur adalah menjadi penutup acara siang hari ini.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
