Tag Archives: syekher mania

Nabi Tidak Mengenali Umatnya?

Seorang shaleh shalat. Di tengah tasyahud, ia lupa membaca shalawat kepada nabi. Dalam mimpinya ia bertemu Nabi.

“Kenapa engkau lupa membaca shalawat padaku?”

“aku terlalu sibuk dengan memuja Allah dan menghamba padanya. Karena itulah aku lupa.”

“apakah kau tak pernah mendengar sabdaku? Semua amal dihentikan. Doa ditangguhkan. Hingga dibacakan shalawat padaku.”

 “Bahkan, ketika seorang hamba datang di hari kiamat dengan membawa amal baik seluruh manusia, akan percuma. Seluruhnya tidak diterima dan ditolak jika tak ada shalawat padaku.”

Seorang zuhud bermimpi melihat rasulullah. Ia menghadap. Rasulullah enggan melihatnya.

“wahai Rasulullah, marahkah engkau?”

“tidak.”

“Tidakkah engkau mengenalku?”

“tidak.”

“ibadahku terus menerus. aku sang zahid.”

“tidak. Aku tak mengenalmu.”

“Wahai Rasulullah. Aku mendengar orang-orang alim pernah berujar: Bahwa Nabi sangat mengenal seluruh umatnya, sedekat orangtua pada anaknya.”

“benar. Sungguh tiap nabi bahkan lebih mengenal mereka daripada orangtuanya.”

Yakni mereka yang bershalawat pada nabinya, sesuai kadar shalawatnya.

Durrotun Nasihin, 172-173.

Agar Delapan Puluh Tahun Dosa Kita Diampuni

Manusia tak lepas dari kesalahan. Dosa dan berbagai macam kekeliruan adalah niscaya. Adagium nyata bahwa selain nabi, tak ada insan yang suci memang sudah terbukti. Namun ampunan Allah SWT. juga maha luas dan tak berkesudahan, asalkan nafas masih senantiasa bersambung, maka tak perlu cemas pintu taubat tidak terbuka. Karena kapanpun dan di manapun, Allah SWT akan senantiasa melapangkan pintu maaf-Nya. Faqultus taghfiru rabbakum innahu Kana ghaffara.

Lebih-lebih kita adalah umat yang istimewa. Umat Nabi Muhammad Saw, nabi akhir zaman. Nabi pilihan, dan sayyid bagi para anak cucu Nabi Adam As. Allah SWT memberikan begitu banyak keringanan kepada umat Nabi Muhammad Saw, salah satunya dalam masalah taubat. Dahulu umat Nabi Musa As, kaum Bani Israil yang membuat kesalahan dan hendak bertaubat harus menebus kesalahannya dengan hal yang amat berat, dikisahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 54, bahwa konsekuensi yang harus ditebus jika taubat mereka ingin diterima Allah SWT akibat dosa menyekutukan-Nya adalah dengan bunuh diri.

 وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ

 أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Maka sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT, yang tidak lagi mewajibkan hal tersebut dalam syariat Nabi Muhammad Saw. Diantara kemurahan yang Allah SWT berikan kepada umat Nabi Muhammad Saw adalah dihapusnya dosa selama delapan puluh tahun dengan wasilah bacaan selawat kita kepada Baginda Nabi pada hari Jumat.

 مَنْ صَلىَّ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ ثَمَانِيْنَ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ الصَّلاَةُ عَلَيْكَ قَالَ: قُوْلُوْا اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ، وَتَعْقِدُ وَاحِدَةً.

“Barangsiapa yang membaca selawat kepadaku pada hari Jumat delapan puluh kali maka Allah akan mengampuni dosanya selama delapan puluh tahun.” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Ya Rasulullah, bagaimana cara membaca selawat kepadamu?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Katakan:

 اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ

“Ya Allah, limpahkanlah selawat-Mu kepada Muhammad, hamba, Nabi dan Rasul-Mu, seorang Nabi yang ummi”, dan kamu hitung satu kali”. (HR ad-Darquthni)

 Dalam redaksi lain juga disebut,

 (من صلى علي في يوم الجمعة مائة مرة غفرت له ذنوب ثمانين سنة)

 “Barang siapa yang membaca selawat kepadaku pada hari Jumat sebanyak seratus kali, maka dosanya selama delapan puluh tahun diampuni.”

Maka sepatutnya kita meluapkan rasa syukur kita dengan memanfaatkan kemurahan yang telah Allah SWT berikan. Bacaan selawat yang ringan ternyata memiliki nilai luar biasa tinggi jika Istiqomah kita amalkan. Sungguh beruntung kita ditakdirkan menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad Saw.()

Penulis : M. Khoirul wafa (Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo.)

Tiga Rahasia dalam Lirboyo Bersholawat

Malam itu, puluhan ribu orang orang berbaju putih duduk memadati tanah lapang nan luas. Di bawah sinar lampu dan temani terpaan sinar rembulan, mereka melantunkan bait-bait pujian kepada Sang Pujaan demi mendapatkan syafaat di hari pertolongan. Sekelumit kalimat itu telah sedikit menggambarkan bagaimana suasana yang ada di setiap momentum Lirboyo Bersholawat.

Lirboyo Bersholawat merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Lirboyo setiap mendekati akhir tahun pelajaran. Secara bergantian, Lirboyo Bersholawat menjadi rangkaian acara menyongsong haflah Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM) dan Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Qur’an (P3TQ), Lirboyo Kediri.

Ketika ditelisik lebih mendalam, esensi Lirboyo Bersholawat belum banyak diketahui secara mendetail oleh kebanyakan orang, bahkan para jamaah yang hadir pun tak seberapa yang menyadarinya. Mayoritas dari mereka menganggap bahwa Lirboyo Bersholawat adalah acara majlis sholawat. Tanpa disadari, mereka telah meraih pundi-pundi amal yang lain. Di antaranya:

Majlis Dzikir

Sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun, di setiap acara yang digelar oleh Pondok Pesantren Lirboyo selalu diselingi dengan pembacaan dzikir yang berupa Tahlil dan doa. Tahlil dan doa tersebut ditujukan untuk Muassis (pendiri) dan para Masyayikh yang telah wafat, dan segenap ahli kubur muslimin dan muslimat.

Dalam karya monumentalnya yang berjudul Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengutip salah satu hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik RA mengenai keutamaan majlis dzikir:

 إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ مَجَالِسُ الذِّكْرِ

Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang. Para sahabat bertanya: Apakah taman-taman surga itu?. Beliau menjawab: (yaitu) majlis-majlis dzikir.”[1]

Dalam hadis lain dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir juda disebutkan:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالىَ فَيَقُوْمُوْنَ حَتَّى يُقَالُ لَهُمْ: قُوْمُوْا قَدْ غَفَرَ اللهُ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَبُـدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ

Tidaklah duduk suatu kaum, kemudian mereka berzikir kepada Allah Ta’ala dalam duduknya hingga mereka berdiri, melainkan dikatakan (oleh malaikat) kepada mereka: Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan keburukan-keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan.” (HR. At-Thabrani)[2]

Terlebih lagi dzikir Lirboyo Bersholawat berada dalam rangkaian pembacaan tahlil. Tahlil sebagai bentuk doa yang dihadiahkan untuk para ahli kubur yang telah meninggal. Karena bagi orang yang telah meninggal, hadiah pahala doa lah yang paling mereka harapkan di alam barzah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

يس قَلْبُ اْلقُرْانْ لاَ يَقرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ اْلاَخِرَة اِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ اِقْرَؤُهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

Surat Yasin adalah pokok dari al-Qur’an, tidak dibaca oleh seseorang yang mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosadosanya. Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian.” (HR. Ibu Dawud dan selainnya)

Majlis Ilmu

Bersholawat bukan menjadi alasan untuk tidak menambah ilmu. Namun alangkah indahnya ketika keduanya dapat beriringan bersama. Seperti halnya mauidzotul hasanah dalam rangkaian Lirboyo Bersholawat yang tidak pernah terlewatkan. Tentunya selain majlis Sholawat, Lirboyo Bersholawat merupakan majlis ilmu.

Luqman Al-Hakim, seorang ahli hikmah yang namanya diabadikan dalam menjadi nama Surat di Al-Qur’an, pernah berpesan kepada putranya mengenai pentingnya hadir dalam majlis ilmu:

يَا بُنَيَّ ، عَلَيْكَ بِمَجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ ، وَاسْتِمَاعِ كَلامِ الْحُكَمَاءِ ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحْيِي الْقُلُوبَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي الأَرْضَ بِوَابِلِ الْمَطَرِ

Wahai anakku, teruslah engkau duduk bersama para ulama dan mendengarkan kalam hikmah (ilmu). Karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Allah menghidupkan bumi dengan tetesan hujan.”[3]

Majlis Sholawat

Sesuai dengan namanya, Lirboyo Bersholawat merupakan merupakan perkumpulan untuk membaca sholawat untuk baginda Rasul. Bersholawat, bukan hanya sekedar doa untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Bersholawat juga adalah bukti kecintaan sorang hamba kepada Nabinya. Betapa besar dan agungnya kehebatan sholawat, ia yang memiliki ribuan macam jenis dan nama juga memiliki ribuan macam jenis dan keutamaan yang berbeda-beda serta saling melengkapi. Ada sholawat yang jika dibaca akan menghilangkan kesusahan, menarik rizki, bahkan ada yang dijelaskan khasiatnya dapat menjadi wasilah mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW.

Dalam kitab Al-Fawaid Al-Mukhtaroh, Syaikh Abdul Wahhab Asy Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Asy Syadzily yang berkata:

رَأَيْتُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلاَةُ اللهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَاضَرَ الْقَلْبَ ؟

Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad SAW, aku bertanya “Ada hadis yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”

قَالَ لاَ، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلاً

Kemudian Nabi menjawab “Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca.”

Allah swt. memerintahkan malaikat untuk selalu memohonkan doa kebaikan dan memintakan ampun bagi orang tersebut. Terlebih jika ia membaca dengan hati hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya.

[]waAllahu a’lam



[1] Ihya ‘Ulum Ad-Din, vol. I hal. 34, cet. Al-Haromain.

[2] Al-Mu’jam Al-Kabir, vol. VI hal. 212, CD. Maktabah Syamilah.

[3] Manhaj As-Sawi, hal. 163. Cet. Darul Ulmi Wad Dakwah