Tag Archives: gereja

Hukum Seorang Muslim Memasuki Gereja, Benarkah Murtad?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saat ini, di jagad dunia maya sedang diperbincangkan sebuah trailer film yang memperlihatkan adegan seorang muslim memasuki gereja? Bagaimanakah hukumnya, apakah dihukumi mutad atau tidak? Mohon penjelasannya. Terimakasih admin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Alwi B., Blitar-Jawa Timur)

_____________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Persoalan seorang muslim memasuki gereja sebenarnya sudah menjadi masalah klasik yang kembali mengemuka di masyarakat. Sejak dulu, para ulama salaf telah memperbincangkan persoalan ini. Dalam beberapa litaratur fikih klasik pun sudah banyak dijelaskan hukum seorang muslim memasuki gereja bahkan hukum salat di dalamnya.

Dalam hal ini, para ulama masih berselisih pendapat (khilaf). Namun secara umum mayoritas ulama memperbolehkan seorang muslim memasuki gereja, apalagi untuk kepentingan dakwah, membawa misi kerukunan antar umat beragama dan semacamnya. Sebagaimana penjelasan imam al-Maqshidi dari madzhab Hanafi:

وَلَهُ دُخُوْلُ بِيْعَةٍ وَكَنِيْسَةٍ وَنَحْوِهِمَا وَالصَّلَاةُ فِي ذَلِكَ وَعَنْهُ يُكْرَهُ اِنْ كَانَ ثَمَّةً صُوْرَةٌ

Diperbolehkan bagi orang Islam untuk memasuki Biah (tempat ibadah agama Yahudi) dan gereja (tempat ibadah agama Nasrani) atau sesamanya. Bahkan boleh salat di dalamnya, namun makruh apabila di tempat tersebut terdapat gambar yang diharamkan.”[1]

Begitu pula menurut mayoritas ulama madzhab Syafi’i pun memperbolehkan. Namun sebagian ulama mengajukan beberapa syarat, sebagaimana penjelasan Muhammad bin Sulaiman al-Madani dalam kitab Mawahib al-Madaniyyah:

وَشَرْطُ الْحِلِّ أَيْضًا أَنْ لَا تَحْصُلَ مَفْسَدَةٌ مِنْ تَكْثِيْرِ سَوَادِهِمْ وَاِظْهَارِ شِعَارِهِمْ وَاِيْهَامِ صِحَّةِ عِبَادَتِهِمْ وَتَعْظِيْمِ مُتَّعَبَّدَاتِهِمْ

Syarat kebolehan (masuk tempat ibadah agama lain) adalah tidak menimbulkan kerusakan (mafsadah) seperti menimbulkan persepsi untuk memperbanyak golongan non muslim, menyiarkan agama non muslim, menimbulkan dugaan keabsahan ibadah dan mengagungkan tempat ibadah mereka.”[2]

Dengan demikian, apabila tidak ditemukan mafsadah di atas, maka ulama Syafi’iyah memperbolehkan seorang muslim untuk memasuki tempat ibadah agama lain. Jadi sampai saat ini belum ditemukan pendapat ulama yang secara tegas memvonis murtad terhadap seorang muslim yang memasuki gereja.[]WaAllahu a’lam


[1] Al-Maqshidi, Al-Adab as-Syar’iyyah, vol. III hlm. 431.

[2] Muhammad bin Sulaiman al-Madani, Mawahib al-Madaniyah, vol. II hlm.399.

Legalitas Menjaga Gereja

Syekh Izzuddin bin ‘Abdissalam pernah menuturkan dalam kitabnya yang berjudul Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam:

وَمِنْهَا إعَانَةُ الْقُضَاةِ وَالْوُلَاةِ وَأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مَا تَوَلَّوْهُ مِنْ الْقِيَامِ بِتَحْصِيلِ الرَّشَادِ وَدَفْعِ الْفَسَادِ وَحِفْظِ الْبِلَادِ وَتَجْنِيدِ الْأَجْنَادِ وَمَنْعِ الْمُفْسِدِينَ وَالْمُعَانِدِينَ

“(Hak-hak orang mukallaf) diantaranya adalah membantu para Qadhi (penegak hukum), pemimpin, dan imam umat Islam atas tugas yang telah diwajibkan atas mereka, meliputi tugas untuk memberikan pengarahan, menolak kerusakan, menjaga negara, merekrut pasukan keamanan, serta mencegah para perusak dan penghianat bangsa”.[1]

Menjaga gereja pada momen-momen tertentu yang ditengarai akan terjadi gangguan keamanan, seperti terancamnya keselamatan jiwa yang jelas-jelas dilindungi oleh negara, hukumnya adalah Fardhu Kifayah (kewajiban kolektif). Karena tindakan pengamanan tersebut termasuk dari bagian menjaga stabilitas keamanan negara. Apalagi bila dilakukan atas permintaan dari pemerintah atau yang dalam hal ini adalah aparat kepolisian.[2]

Menjaga gereja yang dilakukan dengan misi mengamankan stabilitas negara serta menjaga keharmonisan sosial bukan termasuk upaya membantu kemaksiatan (i’anah ‘ala al-ma’shiyyah). Kalaupun ada anggapan demikian, maka tidak dapat menjadi kebenaran tunggal. Sebab, tanpa dijaga ritual keagamaan nonmuslim di dalam gereja tetap berjalan, sehingga penjagaan bukan merupakan pemicu dalam terjadinya kemaksiatan nonmuslim tersebut. Sebagaimana penjelasan dalam kitab Buhuts Wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah:

أَنَّ الْإِعَانَةَ عَلَى الْمَعْصِيَّةِ حَرَامٌ مُطْلَقًا بِنَصِّ الْقُرْآنِ أَعْنِيْ قَوْلَهُ تَعَالَى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ (المائدة : 2) وَقَوْلَهُ تَعَالَى فَلَنْ أَكُوْنَ ظَهِيْرًا لِلْمُجْرِمِيْنَ (القصص : 17) وَلَكِنِ الْإِعَانَةُ حَقِيْقَةً هِيَ مَا قَامَتِ الْمَعْصِيَّةُ بِعَيْنِ فِعْلِ الْمُعِيْنِ وَلَا يَتَحَقَّقُ إِلَّا بِنِيَّةِ الْإِعَانَةِ اَوِ التَّصْرِيْحِ بِهَا أَوْ تُعِيْنُهَا فِي اسْتِعْمَالِ هَذَا الشَّيْئِ بِحَيْثُ لَا يَحْتَمِلُ غَيْرَ الْمَعْصِيَّةِ

 “Sesungguhnya menolong kemaksiatan adalah haram secara mutlak. Berdasarkan Nash Al-Qur’an, yaitu firman Allah yang berbunyi ‘Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan’ (QS. Al-Maidah: 2) dan firman Allah yang berbunyi ‘Aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa’ (QS. Al-Qashash: 17). Akan tetapi pada hakikatnya menolong itu adalah sebuah kemaksiatan yang secara murni muncul dari aktivitas penolong tersebut. Menolong kemaksiatan itu juga tidak akan terealisasi kecuali ada niatan menolong (kemaksiatan) atau mengucapkannya secara langsung atau menolongnya dalam menjalankan kemaksiatan itu sekiranya tidak mungkin diarahkan pada selain kemaksiatan.”[3]

[]waAllahu a’lam


[1] Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam, vol. I hal 134.

[2] Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam, vol. I hal 131

[3] Buhuts Wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah, hal. 360.