Ada sebuah cerita dalam Tarikh Madinah ad-Dimasyq, sebuah kisah menyentuh tentang cinta, syukur, dan kesabaran antara Imran bin Hattan dan istrinya.
Imran adalah seorang lelaki tua dengan rupa yang sederhana—jauh dari kesan tampan. Tubuhnya pendek, penampilannya biasa saja. Namun, ia memiliki seorang istri yang sangat cantik, selalu terawat dan memikat.
Baca juga: Setengah Buah Apel dan Cahaya Wara’
Suatu hari, ketika Imran memandang istrinya, ia terpaku dalam kekaguman. Tatapannya tak lepas, seakan menemukan keindahan yang tak pernah usai.
Istrinya yang menyadari hal itu bertanya lembut,
“Apa yang sedang engkau pikirkan?”
Imran menjawab penuh kejujuran,
“Demi Allah, hari ini engkau terlihat sangat indah.”
Sang istri tersenyum, lalu berkata,
“Bergembiralah, karena aku dan engkau akan bersama di surga.”
Imran terkejut.
“Bagaimana engkau bisa yakin?”
Baca juga: Kisah Tsa’labah bin Hatib: Ketika Kaya Justru Menjauhkan dari Agama
Dengan penuh keyakinan, sang istri menjawab:
لِأَنَّكَ أُعْطِيتَ مِثْلِي فَشَكَرْتَ، وَابْتُلِيتُ بِمِثْلِكَ فَصَبَرْتُ، وَالصَّابِرُ وَالشَّاكِرُ فِي الْجَنَّةِ
Artinya, “Karena engkau diberi pasangan sepertiku, lalu engkau bersyukur. Dan aku diuji dengan mendapatkan pasangan sepertimu, lalu aku bersabar. Orang yang bersyukur dan orang yang bersabar akan berada di dalam surga,” (Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, [Beirut: Darul Fikr, 1995 M/1415 H], jilid XXXXIII, halaman 491).
Kisah ini sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Imran melihat istrinya sebagai nikmat, lalu ia bersyukur. Sementara sang istri melihat pernikahannya sebagai ujian, lalu ia bersabar.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
