Ka’bah dan Misteri Awal Penciptaan: Kisah yang Jarang Diketahui

Ketika musim haji tiba, imajinasi kita biasanya melayang ke tanah suci: lautan manusia berpakaian ihram, lantunan talbiyah yang menggema, dan jejak sejarah yang tersebar di setiap sudut kota Makkah. Banyak situs telah hilang oleh zaman dan perubahan, namun ada satu bangunan yang tetap berdiri—tidak sekadar sebagai struktur fisik, tetapi sebagai poros spiritual umat Islam sepanjang sejarah: Ka’bah.

Ia bukan bangunan biasa. Ia adalah titik temu antara langit dan bumi, antara sejarah dan keabadian.

Baca juga: Ketika Suami Tak Tampan, Istri Pilih Jalan Surga

Perbedaan Pendapat Mengenai Ka’bah

Al-Qur’an menyebutnya sebagai rumah pertama yang dibangun untuk manusia di Bakkah—yang diberkahi dan menjadi petunjuk. Namun, para ulama tafsir berbeda pandangan dalam memahami “yang pertama” itu. Sebagian memahami bahwa Ka’bah adalah bangunan pertama secara fisik di muka bumi. Sebagian lain menekankan bahwa ia adalah yang pertama dalam keberkahan dan fungsi sebagai pusat hidayah.

Baca juga: Setengah Buah Apel dan Cahaya Wara’

Penjelasan Pendapat Pertama

Pendapat pertama membuka cakrawala yang lebih luas—bahwa Ka’bah telah ada bahkan sebelum bumi terbentang sempurna. Dalam riwayat Mujahid yang beliau nukil dari Imam al-Wahidi, ia menyebut bahwa Allah telah menciptakan rumah ini sebelum menciptakan apa pun di bumi. Bahkan, dalam riwayat lain, lokasi Ka’bah telah Allah tetapkan dua ribu tahun sebelum bumi tercipta. Dengan fondasinya menancap hingga lapisan bumi paling bawah.

Bayangkan: sebelum manusia ada, sebelum daratan terbentuk, sebelum sejarah dimulai—titik Ka’bah telah ditentukan.

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menggambarkan bahwa Allah memerintahkan para malaikat untuk membangun sebuah rumah di bumi yang serupa dengan al-Bait al-Ma’mur di langit. Sebuah rumah yang kelak akan menjadi pusat thawaf manusia, sebagaimana para malaikat mengelilingi rumah ibadah di langit. Dengan kata lain, ritual haji yang kita kenal hari ini adalah gema dari ibadah para penghuni langit sejak sebelum Allah menciptakan Nabi Adam.

Ada pula riwayat yang lebih simbolik dan puitis: Ka’bah merupakan buih putih yang mengapung di atas air ketika langit dan bumi belum terbentuk sempurna. Dari titik itulah bumi kemudian dihamparkan. Seolah-olah Ka’bah bukan hanya bagian dari dunia, tetapi pusat dari pembentukannya.

Namun, kisahnya tidak berhenti di sana.

Baca juga: Kisah Tsa’labah bin Hatib: Ketika Kaya Justru Menjauhkan dari Agama

Penjelasan Pendapat Kedua

Pendapat kedua membawa kita ke dimensi yang lebih manusiawi. Ketika Nabi Adam as. turun ke bumi, ia merasakan kesunyian yang mendalam. Dunia terasa asing. Maka Allah memerintahkannya untuk membangun Ka’bah—sebuah rumah yang menjadi penghubung antara ia dan langit, tempat ia mengadu, beribadah, dan menemukan kembali makna kedekatan dengan Tuhannya.

Sejak saat itu, Ka’bah menjadi pusat ibadah hingga zaman Nabi Nuh. Namun ketika banjir besar melanda, bangunan itu diangkat ke langit. Di sana, ia sejajar dengan al-Bait al-Ma’mur—tempat para malaikat beribadah tanpa henti. Setiap hari, tujuh puluh ribu malaikat memasukinya, dan tidak pernah kembali lagi—sebuah angka yang memberi kesan betapa luasnya alam malaikat.

Sementara itu di bumi, jejak Ka’bah sempat hilang. Lokasinya tersembunyi, seolah menunggu waktu untuk dihidupkan kembali.

Ka’bah Masa Nabi Ibrahim

Hingga akhirnya, datanglah Nabi Ibrahim as. Dengan bimbingan Malaikat Jibril, ia menemukan kembali titik suci itu. Maka mulailah pembangunan ulang Ka’bah—bukan sekadar proyek fisik, tetapi proyek peradaban. Jibril sebagai arsitek, Ibrahim sebagai pelaksana, dan Ismail sebagai pendamping setia.

Sebuah kolaborasi antara wahyu, kenabian, dan pengabdian.

Dari situlah Ka’bah berdiri sebagaimana yang kita kenal hari ini—bukan hanya sebagai bangunan dari batu, tetapi sebagai simbol tauhid, pusat arah hidup, dan saksi bisu perjalanan panjang manusia dalam mencari Tuhannya.

Dan mungkin, di tengah jutaan manusia yang mengelilinginya hari ini, ada satu pesan yang tetap sama sejak awal penciptaannya: bahwa manusia, sejauh apa pun ia melangkah, selalu punya satu titik untuk kembali.

Referensi:

Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Umar bin al-Hasan bin al-Husain al-Taimi al-Razi (Fakhr al-Din al-Razi), Mafātīḥ al-Ghaib (al-Tafsīr al-Kabīr), Juz 8 (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāṡ al-‘Arabī, 1420 H), hlm. 295–296.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses