447 views

Bersalaman Setelah Sholat Apakah Anjuran?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin, izin bertanya. Di masjid lingkungan kami, setelah menunaikan ibadah shalat berjamaah, tidak ada tradisi berjabat tangan. Sebenarnya, berjabat tangan setelah melaksanakan shalat ini, apakah dianjurkan atau tidak? Sebelumnya, kami sampaikan terima kasih telah memperkenankan kami untuk bertanya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Fahruddin Husen, Lampung.

***

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Terima kasih telah bertanya kepada kami. Semoga pemaparan yang kami uraikan dapat menjawab pertanyaan yang Saudara utarakan, dan dapat bermanfaat.

Bermushofahah atau bersalaman, sangat erat kaitannya dalam menjaga persaudaraan. Membentuk rasa kedekatan dan keakraban tersendiri kepada orang yang disalami. Dalam agama Islam, bersalam-salaman pada dasarnya juga disyariatkan bagi setiap Muslim ketika mereka bertemu. Nabi Muhammad sering kali menyalami para sahabatnya, ketika beliau bertemu. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud;

عَنِ الْبَرَاءِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ، فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Diriwayatkan dari al-Barra’ berkata: Rasulallah S.a.w. bersabda: “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.”[1] (H.R. Abu Dawud)

Lalu bagaimana ketika bersalaman setelah melaksanakan shalat? Apakah para sahabat Nabi pernah mempraktekkan hal ini? Lalu bagaimana hukumnya?

Baca juga: Tradisi Bersalaman dengan Guru ala Santri

Untuk lebih detail, kami uraikan terlebih dahulu tentang hadis yang menjelaskan bahwa para sahabat setelah melaksanakan shalat, bersalaman dan mencium tangan Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الحَكَمِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا جُحَيْفَةَ، قَالَ: «خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالهَاجِرَةِ إِلَى البَطْحَاءِ، فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَالعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ» قَالَ شُعْبَةُ وَزَادَ فِيهِ عَوْنٌ، عَنْ أَبِيهِ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: كَانَ يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا المَرْأَةُ، وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِي فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنَ المِسْكِ

Diceritakan kepada kami Syu’bah dari Hakam berkata: Saya mendengar Abu Juhaifah berkata: “Rasulullah Saw pergi pada waktu tengah hari ke Batha’, lalu berwudhu kemudian melaksanakan shalat Dzuhur dua raka’at dan Ashar dua raka’at. Di hadapannya ditancapkan tongkat.” Syu’bah berkata dan Aun (nama salah satu tabiin) menambahkan periwayatan yang diterima dari ayahnya Abu Juhaifah, ia berkata: “Para wanita berlalu lalang di belakang tongkat itu dan orang-orang serentak bangun seusai menunaikan shalat, kemudian memegang tangan Nabi dan mengusap wajah mereka dengan tangan baginda Nabi.” Abu Juhafah berkata: “Akupun memegang tangan Nabi dan aku letakkan di wajahku, aku rasakan tangan beliau lebih dingin dari salju dan lebih wangi dari aroma kasturi.”[2] (HR. Bukhari)

Dari uraian hadis di atas, ketika Nabi Muhammad dalam keadaan safar (perjalanan) ke kota Batha’ (salah satu dataran rendah di kota Makkah), setelah Nabi melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar dua rakaat, para sahabat bergegas mencium tangan Nabi Muhammad. Bahkan Abu Juhaifah (sebagai orang yang meriwayatkan hadis) sampai dapat merasakan dinginnya tangan Nabi yang melebihi salju, dan wanginya melebihi aroma kasturi. Di sini menandakan bahwa tradisi mushofahah (bersalaman) sudah ada sejak zaman Nabi dan para sahabat.

Hukum mushofahah setelah sholat

Lalu bagaimana hukum mushofahah setelah sholat itu sendiri?

Dalam Hasiyah at-Tohawi dijelaskan bahwa hukum bermushofahah setelah melaksanakan sholat, disunnahkan. Begitupula ketika setiap kali bertemu dengan seseorang. hal ini sebagaimana syahidnya:

تُطْلَبُ المُصَافَحَةُ فَهِيَ سُنَّةٌ عَقِبَ الصَّلَاةِ كُلِّهَا وَعِنْدَ كُلِّ لَقِيَ

“Diperintahkan untuk bermushfahah (bersalaman) setelah melaksanakan shalat dan setiap kali bertemu, karena hal tersebut termasuk sunah.”[3] Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa bersalaman, baik setelah melakukan sholat atau setiap kali bertemu, dapat dikategorikan sebagai kesunahan. Karena mengikut kepada Rasulullah. Di samping itu, bersalaman juga dapat mempererat tali persaudaraan antar sesama. []

Follow juga: instagram lirboyopress


[1]Abu Dawud, Sunan Abi Dawud (Makabah Syamilah) IV/354

[2] Bukhari, Shahih Bukhari (Maktabah Syamela), IV/188

[3] At-Tohawi, Hasyiah at-Tohawi ‘ala Murooqi al-Falah (maktabah Syamela), 530

Bersalaman Setelah Sholat Apakah Anjuran? | Bersalaman Setelah Sholat Apakah Anjuran?

3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.