Tag Archives: pengajar

Dawuh KH. Nurul Huda Ahmad: Mikul Duwur Mendem Jero

Santri-santri dulu itu kebanyakan paling tinggi belajarnya sampai kitab Amriti (kitab nahwu tingkat dasar-menegah) Namun begitu, mengapa kok bisa Ampuh-ampuh? Karena dibareng dengan ikhtiar-ikhtiar semacam tahajud dan semacamnya.

Apa bila kita mau mengamalkan ilmu yang kita dapat, maka Insyaallah Allah akan memberikan ilmu lain yang belum kita ketahui.
Hendaknya seorang santri itu harus bisa memegang prinsip ‘Mikul duwur mendem jero’ artinya kita bisa menjaga martabat guru serta pesantren dan menyimpan serapat-rapatnya jika terdapat kekurangan.

Al-Maghfurlah Yai Idris (KH. Ahmad Idris Marzuqi) sering mewanti-wanti hendaknya para pengajar itu berusaha bagaimana agar para siswa bisa tenang dalam belajar, semangat, serius dan tidak memikirkan hal-hal yang tidak perlu.

Sering juga dianjurkan yai Idris, hendaknya para pengajar itu menyisihkan waktu tersendiri untuk melaksanakan salat malam. Walaupun hanya dua rakaat. Idealnya tahajud delapan rakaat, witir tiga rakaat.

Saat mengajarkan sesuatu yang pernah kita pelajari, pasti akan mendapatkan ilmu baru yang tidak kita peroleh sewaktu mempelajarinya dulu. Itulah diantara manfaat tikror (mengulang-ulang ilmu) yang disebutkan dalam kitab Ta’lim al-Mutaalim.

Mbah kiai Manshur (Ayahanda KH. M. Anwar Manshur) itu setiap waktu Ashar sampai menjelang Maghrib tidak pernah meninggalkan ngaji kitab Safinatussolah.
Saat ditanya mengapa demikian? Beliau menjawab: “Apakah saya sudah benar-benar bisa membacanya? Kalau pun iya, lalu apakah sudah benar-benar memahaminya? Kalau sudah paham, apakah bisa mengamalkannya dengan benar? Kalau sudah mengamalkan, apakah mampu untuk ikhlas?” Demikian beliau benar-benar memahami manfaat tikror dalam ilmu.

Seorang pengajar itu hendaknya dengan niat yang ikhlas. Ikhlas khidmah kepada ilmu, masayikh dan santri.

Disampaikan pada sidang paripurna kwartal I di gedung LBM P2L, Jumat 15 Sep. 2018 M.(IM)

Pelepasan Guru Bantu Pondok Pesantren Lirboyo

LirboyoNet, Kediri- Rabu 20 Syawal 1439 H./ 4 Juli 2018 M. Pondok Pesantren Lirboyo mengadakan acara pelepasan guru bantu yang ditugaskan ke berbagai pondok-pondok dan madrasah diberbagai daerah, ada 170 santri yang menjalankan tugas khidmah termasuk diantaranya ada 4 santri yang menjadi guru bantu di malaysia.

Khidmah menjadi guru bantu adalah salah satu program Ma’had Aly PP. Lirboyo yang wajib dilaksanakan oleh Maha santri yang sudah memasuki jenjang semester tujuh.

Diantara pesan-pesan K.H. Abdullah Kafabihi Mahrus kepada para guru bantu adalah “Agar diniati ikhlas dalam berkhidmah” beliau juga berpesan agar senantiasa melakukan perbuatan yang melegakan pihak setempat.

Beliau juga berpesan kepada pihak peminta guru bantu agar membuat kerasan (betah) para guru bantu.

Acara ditutup dengan do’a oleh beliau lalu mempertemukan pihak pemohon dengan para guru bantu yang sudah ditentukan.

Halal Bi Halal Madrasah

LirboyoNet, Kediri— KH. M. Anwar Manshur menyatakan bahwa menjadi pengajar Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM), juga bertanggungjawab atas pendidikan moral santri. Karena selain ta’lim, pengajaran ilmu agama dalam kitab-kitab salaf, pengajar juga dituntut untuk men-tarbiyah santri. Berbeda dengan ta’lim, tarbiyah adalah pengajaran santri yang lebih dititikberatkan kepada pengalaman nilai-nilai agama dalam prilaku harian mereka.

“Kita harus bisa mendidik akhlak mereka. Merubah prilaku mereka (agar sesuai dengan nilai islam),” tutur beliau di acara Halal Bi Halal MHM, Senin malam kemarin (10/07).

Menjadi pengajar MHM juga berarti mendapat kesempatan yang baik untuk memperoleh nilai tinggi di hadapan Allah swt. “Karena tidak ada kemuliaan di dunia, kecuali menjadi salah satu dari dua hal: kun ‘aliman au muta’alliman. Menjadi orang alim, berilmu, atau menjadi pencari ilmu,” Imbuh beliau.

Selanjutnya, sebagai khadim Pondok Pesantren Lirboyo, beliau memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada hadirin, dan berterima kasih atas kedisiplinan yang terus dijaga.

Sementara itu, KH. Nurul Huda Ahmad berharap, momen halal bihalal ini menjadi landasan bagi hadirin mengikrarkan diri untuk memohon maaf kepada sesama. “Semoga, rangkaian qiyamul lail kita saat bulan Ramadan lalu, menjadi amal yang diterima oleh Allah swt.”

Halal Bi Halal ini dihadiri oleh pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo serta segenap pengurus dan pengajar MHM. Dalam rangkaian acara yang dilaksanakan di gedung Lajnah Bahtsul Masail (LBM) ini, juga dibacakan beberapa informasi terkait jumlah santri dan pengajar sementara hingga beberapa hari di awal tahun ajaran ini.